Kitab Ingatan 22

Sep 02, 2018 08:27
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - Kitab Ingatan 22

*dd nana

-percakapan sunyi di kepala kita-

Konon, pada kepala segala pengetahuan dan cahaya dititipkan. 

Sebelum teriakan nyeri pertama disuntikkan,  entah sejak kapan oleh Tuhan. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Burung-burung yang bersarang senang berhamburan, mencari dedahanan di raga yang mulai bercecabang. 

Kepala ditinggalkan. Dan kita lahir ke dunia. 

-Apa yang pernah kita percakapan dulu-

Apakah sunyi penuh warna ini ataukah sebuah rencana; keterlanjangan yang membuat kita terpelintir. 

-Bahasa dan warna suara seperti apa kita bercakap-cakap dulu di kepala-

Sunyi.

Kau menatapku dengan cahaya mata yang diredupkan siang. Saat kepala-kepala merunduk mencari dedaunan serupa jemari yang menampung segala kesah. 

Di kepala kita,  sayang, dulu selalu kita perbincangkan rencana. Ikhwal segala yang pecah menemukan bunyi retaknya. 

Kita pun bersepakat bukan persoalan kemenangan atau keterpurukan atas lenguh atau nyeri atau riuh yang menghantam. 

-Lantas apa yang kita bincangkan dalam kepala kita dulu-

Cinta. 

Warna pijar yang membutakan cahaya di kepala yang ditinggalkan para burung. 

Migrasi ke entah. Mimpi naif kanak-kanak di badai yang menginap di kepala. Sejak nyeri pertama pecah di telinga. 

Aku menatapmu dengan pecahan cahaya yang melambat. Menuju kepalamu yang runduk,  tepat di dada terbukaku. Dada yang kini sesak dengan banyak penghuni. Yang datang diundang maupun yang tak. Saat kepala semakin sunyi dari percakapan. 

-masihkah kau adamku yang riang. yang percaya bahwa cahaya tidak selalu terang berwarna putih keperak-perakkan-

Aku diam. 

Hanya cinta yang akhirnya bertanya tentang arah pulang. Ke rumah yang dulu kerap pikuk dengan perbincangan dalam kepala yang masih di huni cahaya dan pengetahuan. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

-tidurlah di dadaku sayang. tidurlah. Bermimpilah nanti di suatu tempat kita menaiki kepala yang dulu kita pakai mengarungi gelora curiga dan cemburu para malaikat dan iblis-

 

-aduh di tubuh nikmat yang rapuh-

Kita bentur-benturkan tubuh kita

Terciptalah irama. Rasa hangat yang akrab. Meninabobokan letih pada kelembutan paling rahasia. Yang disembunyikan Tuhan. 

Sebelum sang ular dititahkan untuk menyingkapnya. Sejarah pun mengalir sesuai rencana yang lama telah diterakan pada kulit langit. 

Kita akhirnya belajar tentang cara mengaduh yang benar. Melunakkan derak dalam sapuan bibir yang dahaga. Atas segala yang masih saja disembunyikan Tuhan pada raga kita. 

-belum sampaikah,  sayang? -

Aku melenguh menahan sesak. Kau berpeluh mencipta taman bermain yang pernah diimpikan. 

Di luar,  matahari mulai memecahkan cahayanya. 

-tak pernah aku sampai pada nikmat itu. Aduh kita masih rapuh saja-

Kau usap air mata itu. 

 

-sebut cinta saja-

Tapi, aku masih lelaki pejalan

Yang masih haus mengumpulkan bayang-bayang di setiap peristiwa. 

Walau akhirnya, langkahku akan kembali di pintu rumahmu juga. 

-sebut saja cinta. sebelum aku menua dan kau semakin tersesat di persimpangan jalan yang semakin biak di kota ini-

Tapi, aku masih lelaki pejalan,  sayang. 

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru