Berkisah tentang Cinta, Perupa Asal Batu Melukis di Pecahan Keramik

Muchlis Arif bersama istri, Capri Budi Jati, menikmati karya di Matahati Ceramic, Batu Permai, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Muchlis Arif bersama istri, Capri Budi Jati, menikmati karya di Matahati Ceramic, Batu Permai, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Kebanyakan lukisan dituangkan dalam sebuah kanvas atau kertas. Namun, yang dilakukan perupa Muchlis Arif berbeda. Warga Batu Permai, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, ini memilih menuangkan lukisan di pecahan keramik.

Karya Muchlis ini berupa keramik dua dimensi yang berjudul “One Thousand Degrees”. Tema yang diusung adalah tentang perjalanan romantika kehidupan cintanya, baik sebagai individu maupun makhluk sosial. 

"Karya keramik semuanya. Tema yang saya tuangkan tentang cinta saya kepada istrinya saya, Capri Budi Jati, dalam perjalanan selama 30 tahun hingga cinta terhadap diri saya sendiri," ungkap Muchlis, Kamis (30/8/2018).

Total karya yang dipamerkan ada 30 karya yang dibuatnya di atas keramik buatannya di Matahari Cermamic. Ukuran yang disuguhkan pun beragam dengan sentuhan warna-warna yang bervariasi. Tentunya diekspresikan sesuai dengan temanya.

Misalnya "Kasmaaran yang Selalu Belia" dilukiskan dengan warna-warna pastel dan kalem. Lalu "Menuntaskan Malam Tak Bersisa" dengan corak warna didominasi oranye dipadu hitam, cokelat, kuning, merah dan sebagainya.

Dan lukisan ini merupakan karya dengan harga yang cukup tinggi di antara 29 karya lainnya, yakni seharga Rp 25 juta. Lainnya ada "Tarikan Garismu Membuatku Memohon untuk Diulur Waktu" yang dituangkan dalam bingkai yang terbagi menjadi tiga.

Karya keramik ini dipilih pria 49 tahun itu karena memang sudah lama ia mendalami bidang tersebut. Sebelumnya Muchlis lebih banyak melukis pada kanvas. Tetapi ia memutuskan untuk membuat karya mozaik keramik itu karena dirasa jarang ada yang membuat karya seperti itu.

"Jarang ada orang yang membuat karya seperti ini karena memang tidak mudah untuk dibuat. Bahan-bahannya saja nggak ada di toko. Bahkan sebagian perupa lainnya tidak bisa melanjutkan," ujar alumnus Institut Seni Indonesia Jogjakarta ini.

Untuk membuat keramik ini, Muclis harus melakukan teknik dan pembakaran berkali-kali hingga penciptaan warna sempurna saat pembakaran tidaklah mudah. "Membuat keramik ini tidak gampang. Suhu pembakaran di oven mulai 800-1.300 derajat celcius. Dan setelah pembakaran saja, hasil warna tidak sama dengan sebelumnya," imbuhnya kepada BatuTIMES.

"Ya pembakaran untuk keramik ini dimulai 800-1.300 derajat celcius. Karena itu, saya membuat pameran ini dengan judul One Thousand Degrees," jelas Muchlis.

Tidak hanya itu. Rasa cinta terdalam yang penuh dengan kasih, sayang, gejolak, hasrat, rindu, yang membuncah di suhu 1.000 celcius. "Kenapa suhu saya terasa sampai 1.000 derajat? Sebab merasa seperti hidup kembali kedua kalinya karena sempat sakit mata hingga menyebabkan stroke," tambahnya. 

Sebanyak 30 karya yang dibuatnya itu dikerjakan selama 6 bulan. Tentunya tidak semua karya berhasil dibuatnya. Meskipun tidak berhasil, ia tidak rela karyanya itu dibuang. 

Beberapa karya itu pun sudah terjual. Apalagi memang banyak peminat seni keramik ini. Harganya pun hingga jutaan.

Pameran ini bakal dibuka sejak 2-30 September 2018 mendatang di Matahati Ceramic. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Batu TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top