Dibanding Konflik Antar Umat Beragama, Kota Malang Lebih Rawan Gesekan Umat Seagama

Kepala Bakesbangpol Kota Malang Indri Ardoyo bersama Plt Wali Kota Malang Sutiaji saat membuka kegiatan Sosialisasi Forum Pembauran Kebangsaan 2018 di balai kota. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Kepala Bakesbangpol Kota Malang Indri Ardoyo bersama Plt Wali Kota Malang Sutiaji saat membuka kegiatan Sosialisasi Forum Pembauran Kebangsaan 2018 di balai kota. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Menjadi salah satu kota paling kondusif di Jawa Timur tidak membuat Kota Malang minim potensi perpecahan di masyarakat.

Bahkan, Plt Wali Kota Malang Sutiaji menyebut bahwa dibanding konfik antar umat beragama, kerawanan lebih besar pada gesekan antar umat seagama.

Hal tersebut disampaikan Sutiaji usai membuka giat Sosialisasi Forum Pembauran Kebangsaan 2018 yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang, hari ini (27/8/2018) di ruang sidang balai kota.

"Perlu diperhatikan, kota ini menjadi nomor satu tentang kerukunan antar umat beragama, tapi intern-nya masih masalah," ujarnya.

"Intern itu maksudnya sekte-sekte atau tokoh agama satu dengan tokoh agama lainnya masih tidak rukun. Saya tidak menyebut agama apa, ketika ini ada konflik di internal, tidak menutup kemungkinan (bisa memicu gesekan masyarakat), kami tetap waspada. Siaga terus," tambah pria yang juga Wali Kota Malang terpilih periode 2018-2023 itu.

Sebagai langkah antisipatif, lanjut Sutiaji, pihaknya terus melakukan pemantauan. Salah satunya melalui Bakesbangpol.

"Ya saat ini tetap dipantau. Jadi melihat, kan ada juga forum kerukunan umat beragama (FKUB), forum kewaspadaan dini masyarakat (FKDM) dan lain-lain yang menjadi mata pemerintah di masyarakat," terangnya. 

Menurut Sutiaji, pertemuan seperti forum pembauran tersebut merupakan upaya terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan damai.

"Kami harap pemuka agama dan tokoh masyarakat juga ikut mencegah masyarakat tidak terprovokasi dalam isu-isu keagamaan, suku, ras, etnis dan lainnya," imbaunya. 

"Ini ada korelasinya dengan visi pemkot yakni Kota Malang Bermartabat, bermartabat itu artinya saling menghargai. Dengan Salam Satu Jiwa, kebersamaan ini terus ditingkatkan," urainya.

Dia juga meminta agar masyarakat tidak mudah menyebarkan berita hoax yang rentan memicu perselisihan atau perbedaan pendapat. 

Penyuka bulutangkis itu mengungkapkan, dia punya keyakinan kalau ada pihak yang tidak senang Indonesia dalam kondisi kondusif.

"Terlebih sebentar lagi kita akan berada di posisi sulit. Kalau 2018 ada pilkada serentak dan berjalan lancar, itu baru setengah. Pada 2019 ada babak baru, Pilpres (pemilihan umum presiden) dan pileg (pemilu legislatif) yang bersamaan," urainya. 

Kepala Bakesbangpol Kota Malang Indri Ardoyo menambahkan, kegiatan  Sosialisasi Forum Pembauran Kebangsaan 2018 itu diharapkan dapat meningkatkan sikap saling menghormati dan menghargai.

"Kegiatan ini diikuti oleh 100 orang dari tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, tokoh adat, unsur akademisi dan dari aktivis," urainya.

Berdasarkan data Kota Malang Dalam Angka 2016, jumlah pemeluk agama di wilayah tersebut didominasi warga muslim.

Tepatnya, pemeluk agama Islam sebanyak 722 ribu warga, Kristen Protestan 52,4 ribu penduduk, Katolik 43,3 ribu orang.

Sementara pemeluk agama Hindu tercatat 8,7 ribu orang dan Budha 7,3 ribu warga. "Ada juga pemeluk kepercayaan sekitar 280 orang," pungkasnya. 

Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top