Kitab Ingatan 21

Aug 26, 2018 07:54
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

*dd nana

1)

Sepasang kekasih

dengan raut wajah bercahaya

memasuki pintu ombak

yang deburnya melambatkan kaki waktu. 

"Kita ruangkan rindu. Kita rayakan sekarat waktu, ". 

Esoknya, raut sepasang kekasih 

tembaga warna senja. Waktu selalu punya cara

membunuh anak-anak rindu. 

"Kelak aku kembali lagi," bisikmu. 

2)

Mungkin,  panas nafas kita

yang membuat waktu merutuk dan mengutuk

rindu yang ingin abadi di tubuh terpisah kita. 

Menjadikannya abu yang lukanya kekal

di telapak tangan kita yang tak lagi saling mencari. 

Serupa kota yang dipenuhi payung hitam yang terbuka ke langit yang diam. 

"Di luar hujan mulai turun,  sayang," bisikmu dalam tidur. 

3)

remah kenang kah yang sedang kau susuri itu,  tuan? 

Aku menatapnya dengan mata yang lama tak pernah ku lihat. Cermin,  riak air yang hening atau pekat kopi

lama tak sudi menceritakan warna mataku yang menatapmu. 

"Aku mencari perih agar ingatan terjaga. Padanya,  padanya. "

Kisah kalian bukankah telah usai,  tuan? 

Tak ada tepi bagi pejalan kaki,  bisik ku, menyeret ingatan pada hujan yang pernah membuatnya gigil di belakangku,  dulu. 

Malam semakin menua. Dan aku masih saja menyeret ingatan yang kau sebut remah itu. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

O tuan,  kau buat lagi tubuh ringkihmu menjadi batu cadas

Keras dan purba dan sepi. 

4)

Mungkin,  kau telah pergi

mengubur ingatan di laut paling debur. 

Tapi aku masih saja bermimpi tentang mu

yang menari di rumah kawin kita

dengan tubuh seranum pagi sewangi kopi. 

Dosakah,  puan? 

5)

Yang membuatku mati

saat rindu tak mengenaliku

lagi. 

Serupa lukisan yang tak lagi mengenali  penciptanya. 

Tega kau,  cinta? 

6)

Rindu memberi pesan terakhir yang sederhana

Seperti malam,  seperti hujan terakhir di atas seng. 

"Ting! "

Dadaku berdarah-darah yang mengalir di parit;

rumah para tikus beranak pinak. 

Pesan rindu serupa ujung pedang paling merindu

yang mencari dadaku ; rumah anak-anak rindu 

yang berlahiran mencarimu,  puan. 

Topik
ruang sastrakitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru