Sawah di Kabupaten Malang sebagian besar masih memanfaatkan saluran irigasi tradisional yang tak menampung air dengan metode kekinian. (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Sawah di Kabupaten Malang sebagian besar masih memanfaatkan saluran irigasi tradisional yang tak menampung air dengan metode kekinian. (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Anggota AKN IV Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Rizal Djalil mulai memelototi saluran irigasi petani Kabupaten Malang. Itu lantaran sumber daya air yang mumpuni ternyata belum dimanfaatkan dengan cara yang benar. 

Baca Juga : Pandemi Covid-19, Revitalisasi Pasar Bunulrejo Dibatalkan

Saat berkunjung ke Malang, tepatnya melihat aktivitas kelompok tani Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang, Rizal tertarik dengan melimpahnya sumber daya air yang selalu mengalir ke sawah. Namun sayangnya, penataan saluran tersier hingga cacingan itu masih ala kadarnya.

"Ini sumber daya airnya luar biasa. Jadi, jangan dibiarkan seperti ini. Harus dibenahi agar petani juga mudah memanfaatkannya," katanya di sela-sela kunjungan yang dilakukan Selasa (21/8/2018).

Menurut Rizal, pemanfaatan air baku sudah harus mulai dilakukan. Dia pun mencontohkan saluran air baku di Klaten, Jawa Tengah. Klaten telah memanfaatkan saluran menggunakan paralon sehingga air tak terbuang percuma dan mengalir deras begitu saja saat dibutuhkan.

Dia pun meminta agar Kementerian Pertanian yang saat itu turut hadir melakukan kunjungan dengan diwakili Direktur Alat dan Mesin Pertanian Bustanul Arifin untuk segera menindaklanjuti usulan tersebut. "Apa yang disampaikan Bupati Malang (Dr H Rendra Kresna) tadi memang harus menjadi perhatian. Soalnya, sumber pangan kita berasal dari petani dan memang harus difasilitasi," tambah Rizal.

Sebelumnya, Bupati Malang Rendra Kresna menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Malang selama ini tidak memiliki wewenang untuk mengurus saluran irigasi di tingkat tersier dan kuarter hingga pada cacingan. Selama ini, kelompok tani sendiri yang dibebankan untuk membuat sendiri saluran tersebut.

"Dan kami merasa itu membebani petani, karena hasil yang mereka peroleh saat panen juga tak seberapa. Tadi saya sampaikan agar irigasi ini menjadi perhatian," imbuhnya.

Baca Juga : Jamin Nasib Tenaga Kerja, Disnaker-PMTSP Kota Malang Ajukan Skema Jaring Sosial

Setelah berdiskusi dengan perwakilan dari Kementerian Pertanian, Rendra mengatakan petani di Kabupaten Malang mendapat angin segar. Sebab, dalam waktu dekat, bantuan untuk pembuatan saluran irigasi akan diberikan langsung kepada para petani.

"Kami diminta untuk membuat proposal. Maka akan segera kami kirim. Disampaikan jika memang tidak ada kendala, bantuan diberikan tahun ini. Tapi jika tidak, akan diserahkan tahun depan," ungkap orang nomor satu di Kabupaten Malang itu.

Dia pun berharap program tersebut akan benar-benar terealisasi dan dapat dimanfaatkan petani. Pasalnya, bantuan serupa sebenarnya sudah dilakukan empat tahun lalu oleh Kementerian Pertanian. Namun sampai sekarang tak ada lagi bantuan serupa diberikan oleh pemerintah pusat.

Rendra juga menyampaikan jika pengelolaan saluran irigasi secara tradisional sering membuat aliran air ke sawah tak maksimal. Pemicunya, bendungan yang masih beralas tanah sering dirusak oleh hewan seperti kepiting sawah. Berbeda halnya ketika saluran ditata melalui paralon, maka saluran bisa dimaksimalkan. (*)