Semaraknya Kesenian Tradisional Kuda Lumping di Tengah Peringatan Kemerdekaan

Pertunjukan kuda lumping di desa Jatikerto, Kromengan, dalam memperingati kemerdekaan RI (Nana)
Pertunjukan kuda lumping di desa Jatikerto, Kromengan, dalam memperingati kemerdekaan RI (Nana)

MALANGTIMES - Banyak cara yang dilakukan masyarakat perdesaan untuk merayakan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73. Selain berbagai perlombaan yang melibatkan masyarakat dengan hadiah menarik, tontonan kesenian tradisional seperti kuda lumping pun kerap digelar warga. 

Bahkan, kesenian tari kuda lumping atau jatilan, seperti tidak terpisahkan dengan perayaan kemerdekaan RI di berbagai perdesaan. Contohnya di wilayah perdesaan Kromengan yang menggelar tontonan kuda lumping di berbagai titik. 

Bebunyian alat musik tradisi seperti kendang,  gong,  kenong, gamelan maupun slompret yang keluar dari sound system seadanya. Menjadi undangan terbuka bagi masyarakat untuk datang. Berkerumun di lapangan tanpa dipungut biaya untuk menyaksikan aksi para penari kuda lumping yang tak masuk akal. 

"Kalau tidak nanggap (mementaskan,  red) jatilan,  rasanya kurang lengkap 17 Agustusannya,  mas. Kita urunan nanggap jatilannya," kata Misenan warga Jatikerto sebagai panitia hiburan merayakan kemerdekaan, Minggu (19/8/2018). 

Nanggap kuda lumping di perdesaan, menjadi rutinitas tahunan. Bukan saja di hari kemerdekaan RI saja,  tapi juga diberbagai acara lainnya. Antusias masyarakat pun masih terbilang tinggi untuk menontonnya dengan setia. 

Gerakan-gerakan dinamis,  ritmis,  agresif di bumbui dengan aura mistis yang sangat kental dari para penari kuda lumping menjadi daya tarik bagi masyarakat. Diselingi ledakan cambuk besar dan musik tradisi yang rancak,  kuda lumping masih jadi tontonan favorit masyarakat. 

"Selalu ramai kalau nanggap jatilan. Apalagi pas kemerdekaan ini. Gerakannya mencirikan semangat perlawanan,  cocok untuk mengenang kemerdekaan. Unsur kesurupannya juga kerap dinanti penonton, " ujar Misenan. 

Dari berbagai literatur mengenai asal usul kesenian kuda lumping, kesenian rakyat ini memang mencerminkan semangat heroisme dan aspek kemiliteran zaman dulu. Yaitu sebuah pasukan kavaleri berkuda di tengah medan peperangan.

Walau banyak versi mengenai sejarah keberadaan kuda lumping, banyak warga meyakini kesenian tersebut sebagai bagian dari perlawanan dan dukungan rakyat terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponogoro. Saat melawan penjajahan Belanda yang telah mengusik kedaulatan kehidupan keraton. 

Bahkan,  beberapa warga yang dituakan menyatakan, dari cerita turun temurun,  kesenian kuda lumping memang sebagai bagian dukungan bagi pasukan berkuda Pangeran Diponegoro. "Lihat saja gerakan jatilan itu. Itu semangat bertempur pantang menyerah. Makan beling,  bara api,  dibacok pun tetap menari. Tidak ada yang bisa menghentikan semangat bertempurnya,  mirip cerita-cerita pasukan Diponegoro," ujar Soemitro yang kerap mendengar orang-orang tua dulu menceritakan asal usul kuda lumping. 

"Kalau kebenaran sejarahnya walohualam. Karena memang banyak versi lainnya," imbuhnya. 

Sejarah kuda lumping versi lain menyebutkan, asal muasalnya menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga melawan Bangsa Belanda yang menjajah tanah air. Tapi,  benang merahnya sama,  yaitu menggambarkan semangat bertempur melawan penjajah. Seperti terlihat di versi lainnya yang menyebutkan bahwa tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin oleh sultan Hamengku Buwono I, untuk menghadapi pasukan tentara Belanda.

"Mungkin karena itu jatilan ini masih mendapat tempat di masyarakat. Ada ikatan emosional dengan asal usulnya dan cocok digelar memperingati kemerdekaan," ujar Misenan. 

Versi lain yang diyakini masyarakat menyatakan kuda lumping berasal dari cerita raja jawa yang tertarik dengan pasukan berkuda dari kerajaan Persia. Ketertarikan sang raja tersebut yang membuatnya membawa ratusan kuda ke dalam perahunya untuk dibawa ke jawa dwipa. Sayangnya,  di tengah perjalanan badai mengamuk dan menenggelamkan seluruh kapal yang berisikan para kuda dan prajuritnya. 

Tidak ada yang selamat,  selain sang raja sendiri dari amuk badai lautan tersebut. Untuk mensyukuri lolosnya maut di hadapan matanya,  raja membuat syukuran pada Dewata yang telah melindunginya dan menyesalkan keinginanya tentang pasukan berkuda yang belum tercapai.

Sang raja bertapa di sebuah goa karena hasratnya memiliki pasukan kuda tetap menggelora. Hingga akhirnya Dewata mengabulkan keinginanya tersebut dengan syarat beliau harus membuat kuda dari bahan gedek bambu dan ijuk kelapa agar dapat ditunggangi laskar yang akan menjadi kuda. Sebelum jalan kuda-kuda tersebut diberikan mantra-mantra terlebih dahulu agar mau makan rumput dan beling. Sang raja gembira keinginanya terwujud, dari sanalah kemudian nama kuda lumping berasal.

Lepas dari berbagai versi sejarah tersebut,  kuda lumping tetap mengada di era modern ini. Dalam berbagai keterbatasannya kelompok kesenian kuda lumping tetap bertahan sampai saat ini. 

Editor : A Yahya
Publisher : Yogi Iqbal

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top