Kitab Ingatan 20

Aug 19, 2018 06:47
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - Kitab Ingatan 20

*dd nana

1)

Matahari sore menyepuh dedaunan

warna tembaga meruam,  serupa kilau ingatan

yang ingin tetap terlelap. Walau pada akhirnya akan menggeliat. 

Langit sebentar lagi padam,  sayang

membangunkan anak-anak rindu berparas tembaga.

Agustus yang kering telah mengajarkan ketabahan pada mereka. 

Serupa dedaunan yang bersikeras tumbuh walau ditinggalkan penghujan

berwarna tembaga. 

Serupa paras anak remaja bengal yang tak tunduk

pada segala titah. Pada segala doa penghindar mala. 

Serupa rindu-mu,  serupa rindu-mu. 

Menembaga di cerita yang tak ingin dikisahkan. 

2)

Lelaki itu melontarkan kerikil,  riaknya mencipta lingkaran-lingkaran kecil. 

Sayang hanya sekejap,  hanya sekejap. 

Di ingatan yang tak memiliki pantangan, tumbuh sulur dedaunan

menyangga lingkaran-lingkaran tenang di permukaan yang kau lihat sekejap. 

Serupa rindu yang kerap tak diperlihatkan,  tapi menancap kuat di dasar ingatan. 

Tak sekejap, menetap,  serupa kata abadi yang diolok-olok waktu. 

"Ini bukan lagi cinta kanak-kanak, puan,". 

3)

Aroma jeruk yang kau benamkan di tubuhku

meranggas tumbuh, melebat menaungi ingatan. 

Sebelum waktu bersekongkol dengan musim kering

merontokkan dedaunan yang kerap aku kunyah saat gigil 

menyergapku disetiap tikungan waktu. 

Aroma jeruk mu menghangatkan

menguatkan kaki-kaki rindu yang semakin lesu. 

Agustus, sungguh mengajariku arti ketabahan yang sunyi. 

4)

Bahkan,  untuk ciuman gegasmu

aku selalu mengingat jejak kopi pagi

yang memberiku jaga. Sebelum matahari membasuhnya lagi dengan 

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru