MALANGTIMES - Kerap kita mendengar, bahwa sejarah dicatat oleh para pemenang. Hal ini pun kerap terjadi di negara kita yang sudah menginjakkan kaki kemerdekaannya yang ke-73.  Misalnya, mengenai perancang lambang Negara Indonesia yaitu burung Garuda Pancasila. 

Sebagian masyarakat mungkin masih asing bahkan tidak mengetahui sosok dari perancang lambang garuda Pancasila. Lambang yang kini begitu familiar kita lihat, baik di perkantoran pemerintahan sampai menjadi bagian tak terpisahkan di kostum-kostum olahraga dan lainnya.

Tapi, siapkah nama perancangnya? Dialah Sultan Hamid II-mantan menteri Negara dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) pertama.

Pria kelahiran Kota Pontianak, Kalimantan Barat, tahun 1913. Sosok penyokong konsep negara Federal ini seperti dihilangkan atau dilupakan sejarah resmi walaupun dia adalah perancang lambang negara Indonesia, burung Garuda Pancasila.

Pasalnya, Sultan Hamid II dituduh ikut serta merencanakan kudeta dalam peristiwa Westerling tahun 1950. Bukan itu saja, Sultan Hamid II juga dituduh merencanakan pembunuhan Sultan Hamengkubowo (Menteri Pertahanan saat itu).

Setelah upaya kudeta kelompok Westerling digagalkan, temuan pemerintah RIS menyimpulkan Sultan Hamid "telah mendalangi seluruh kejadian tersebut, dengan Westerling bertindak sebagai senjata militernya" Seperti yang ditulis dalam buku Nationalism dan Revolution in Indonesia (1952), George Mc Turnan Kahin. Sultan Hamid II pun dihukum 10 tahun penjara karena tuduhan yang disangkalnya tersebut.

Kini, saat masyarakat merayakan kemerdekaan RI ke-73, media sosial pun kembali dibanjiri ulasan-ulasan mengenai sang perancang garuda Pancasila ini.

Dengan foto dan caption yang memperlihatkan sang Sultan Hamid II yang terlihat klimis dan tentunya terlihat ganteng. Serta foto rancangan burung garuda Pancasila saat pertama kali dibuatnya.

Warganet pun kembali membanjiri ulasan mengenai kiprah sang Sultan yang bernama asli Syarif Hamid Alqadrie ini.

Sayangnya, sebagian warganet salah fokus (salfok) dengan adanya tekad untuk kembali mengingat jasa sang Sultan yang nama dan sejarahnya disamarkan atau dilupakan.

Hal ini terlihat dari akun fajar.parawansyah yang berkomentar, "Kalau diliat-liat mirip hamish daud".  Atau komentar @i_suii :"ganteng kali".  Akun 28helens pun senada mengomentari kegantengan Sultan Hamid II ini, "Kok ganteng amat pak?". 

Kegantengan foto Sultan Hamid II ini, bahkan ada yang mengomentarinya seperti ini, "Ganteng bangetmacem captain America," tulis @zhasikiwarasi19. Sedangkan kata @rayhan_arrow :"Kok mirip judika?".

Rata-rata akun cewek lebih banyak menyoroti foto Sultan Hamid II yang memang terlihat begitu ganteng, klimis serta berwibawa. Tapi sebagian akun lain juga mengomentari ulasan artikel tersebut secara satir. Dengan mengaitkan dengan adanya sekelompok orang yang menginginkan berbagai lambang Negara diganti. Dikarenakan tidak sesuai dengan keyakinan mereka.

@24hoursstuff menuliskan, "ini info buat mereka yg hobi mengkafirkan orang dan menganggap lambang garuda adalah lambang berhala atau semacamnya, ternyata didesain oleh sultan dari kerajaan islam."

Akun nasrull208 juga menyampaikan, "Bentuk seperti itu kalo sekarang mungkin bisa terus ramai, mirip patung lah, seperti bentuk dewa lah, masjid berbentuk salip lahinilah itulahHadeuhh baru kenal Islam dibuku lalu Mengkafir2kan ulama terdahulu. Selamat datang di Indonesia,". Atau @josef_mounroe :"Lucu aja kalau ada yang masih minta Negara Khilafah,". 

Sedangkan mengenai tuduhan Sultan Hamid II ikut serta dalam peristiwa Westerling, akun leosetiawan1772 berkomentar, "sudah ada bantahan secara hukumnya dek baca tesisnya mahasiswa Magister Hukum Universitas Indonesia judul Delik Terhadap Keamanan Negara (Makar) di Indonesia (Suatu Analisis Yuridis Normatif pada studi Kasus Sultan Hamid II),".

Komentar tersebut juga diperkuat oleh para intelektual muda Kota Pontianak, Kalimantan Barat.  Anshari Dimyati, melalui penelitian tesis master di Universitas Indonesia, menyimpulkan Sultan Hamid II ini tidak bersalah dalam peristiwa Westerling awal 1950.

"Sultan Hamid II memang mempunyai niat untuk melakukan penyerangan dan membunuh tiga dewan Menteri RIS, tapi tidak jadi dilakukan dan penyerangan pun tidak terjadi. Itu yang harus diluruskan," ujar Anshari seperti dilansir BBC.

Hasil temuan Anshari juga menyimpulkan, bahwa perwira lulusan Akademi militer Belanda itu bukan "dalang" peristiwa APRA di Bandung awal 1950.

"Dia didakwa telah bersalah oleh opini dan statement media massa yang memberitakan tentang kasus ini... peradilan di Indonesia kala itu sangat dipengaruhi oleh faktor politik," tulis Anshari yang dilanjutkan, "Dia bukanlah pengkhianat negara seperti black campaign pada masa kehidupannya, namun pahlawan negara yang karya ciptanya menduduki peringkat tertinggi di dalam struktur negara, yaitu lambang negara Elang Rajawali Garuda Pancasila,".

Maka akun imanuelsihombing menulis Terimakasih Sultan Hamid II,. Seperti juga @_lcybertechl :"Terimakasih pak. Keren logonya."