Pawai anak Taman Kanak-Kanak dan PAUD dengan kostum ala teroris di Probolinggo yang menuai kecaman banyak pihak, Sabtu (18/8/2018) (Agus Salam/Jatim TIMES)

Pawai anak Taman Kanak-Kanak dan PAUD dengan kostum ala teroris di Probolinggo yang menuai kecaman banyak pihak, Sabtu (18/8/2018) (Agus Salam/Jatim TIMES)


Pewarta

Agus Salam

Editor

Heryanto


MALANGTIMES - Pawai Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Probolinggo yang digelar, Sabtu (18/8/2018) pagi, menuai protes dan kecaman.

Pasalnya, salah satu pesertanya berkostum serba hitam dan bercadar serta memanggul replika senjata. Sejumlah Organisasi Kepemudaan (OKP) seperti, Gusdurian, GMNI dan GP Anshor, sempat mendatangi Mapolres Probolinggo.

Mereka meminta lembaga pendidikan yang menampilkan anak didiknya berpakaian ala teroris tersebut mengklarifikasi dan menjelaskan apa tujuannya mengenakan atribut tersebut.

Tak hanya OKP, warganet (nitizen) juga ramai-ramai mengomentari foto yang diupload di media sosial itu. Mereka turut mengecam tampilan yang dikenakan anak-anak TK Kartika V-69 dalam karnaval memperingati HUT Kemerdekaan TE ke 73 tersebut.

Lukman Effendi, Koordinator Gusdurian Probolinggo mengaku kedatangannya ke mapolresta bersama rekan dari OKP lain bertujuan klarifikasi sekaligus mempertanyakan mengapa siswa TK dan PAUD tersebut tampil seperti itu. Padahal, acara terebut adalah pawai memperingati HUT Kemerdekaan. “Kami ke sini untuk klarifikasi ke pihak terkait. Katanya, mereka dipanggil ke Mapolresta,” tandasnya.

Ia menyanyangkan atribut yang dikenakan anak TK Kartika V-69 yang tidak mencerminkan budaya dan perjuangan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah. Apalagi, karnaval yang diikuti 158 peserta TK dan PAUD itu, memperingati HUT Kemerdekaan.

“Ya tidak selaras dengan tema yang diusung. Pakaian itu tidak menggambarkan budaya kita. Kami minta ditelusuri dan beri tindakan tegas pihak terkait,” harapnya.

Suhartatik kepala TK Kartika V-69 mengenakan baju merah saat klarifikasi didampingi ketua panitia karnaval (Kanan Suhartatik), Dandim 0820, Kapolresta dan kepala Disdikpora, Sabtu (18/8/2018) (Agus Salam/Jatim TIMES) 

Sementara itu, kepala TK Kartika V-69 Suhartatik mengakui kesalahannya. Ia meminta maaf kepada seluruh masyarakat atas pakaian yang dikenakan anak didiknya dalam pawai kemerdekaan tersebut.

Pihaknya mengaku tidak memiliki maksud dan tujuan apa-apa, apalagi mengajarkan anak didiknya faham terorisme atau radikalisme.

“Itu memang kesalahan kami. Saya mohon maaf atas kesalahan ini. Kami enggak menyangka akan seperti ini. Saya menyesal sekali,” tandasnya di hadapan sejumlah wartawan.

Dijelaskan, pihaknya tidak memiliki tujuan dan maksud apa-apa dengan kostum yang dikenakan anak didiknya beserta atributnya. Ia hanya memanfaat properti yang ada di lembaga pendidikannya. Dan sisa propert tersebut dipakai kostum karnaval setelah mendapat persetujuan orang tua anak didiknya.

“Sebagian properti yang dikenakan anak-anak sudah ada, kami manfaatkan. Daripada membeli dan wali murid sepakat. Daripada membeli,” aku Suhartatik

Dalam kesempatan itu Suhartatik menambahkan, pelajaran dan pesan moral yang bisa dipetik atau diambil dari kostum yang ditampilkan anak didiknya menurutnya, untuk meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Saat ditanya, apakah sudah koordinasi dengan Dandim, sebagai pelindung dari TK tersebut? Suhartatik mengatakan, sudah memberitahukan ke pengurus yayasan.

“Sudah saya sampaikan ke pengurus. Karena kostumnya bebas, maka saya memanfaatkan properti yang sudah ada,” pungkasnya.

 

End of content

No more pages to load