Tim rafting saat mengibarkan bendera di aliran sungai Brantas, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Jumat (17/8/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Tim rafting saat mengibarkan bendera di aliran sungai Brantas, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Jumat (17/8/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Berbagai cara dilakukan untuk menyemarakkan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73. Seperti halnya yang dilakukan warga Kota Batu yang tergabung dalam Saber Pungli (Sapu Bersih Nyemplung Kali), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, dan Forum Anak Desa Pendem. Mereka membentangkan bendera di udara hingga di sungai di Kota Batu, Jumat (17/8/2018).

Baca Juga : Draft Sudah Final, Besok Pemkot Malang Ajukan PSBB

Bendera dibentangkan di aliran sungai brantas, tepat di bawah jembatan Desa Pendem, Kecamatan Junrejo. 

Parade paralayang saat landing di lapangan Songgo Maruto di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Junrejo, Jumat (17/8/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

Kegiatan itu sama halnya dengan upacara pada umumnya saat detik-detik proklamasi dengan pembacaan teks proklamasi. Setelah itu dilakukan dengan pengibaran bendera merah putih ditarik dari bawah ke atas jembatan. “Bendera itu berukuran lebar 5 meter dan tinggi meter. Dan untuk bendera di jembatan dan di sungai berbeda,” ujar Ahmad Rifa’i Koordinator Memerdekakan Sungai Dari Sampah. 

Aksi itu dibarengi tim rafting membawa dan mengibarkan bendera di aliran sungai Brantas. Ukurannya berbeda dari bendera yang dikibarkan di jembatan, yakni lebar 10 meter dan tinggi 5 meter. 

Pengibaran juga diiringi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Padamu Negeri. Upacara ini berlangsung selama kurang lebih 15 menit. 

Ahmad Rifa’i Koordinator Memerdekakan Sungai Dari Sampah menjelaskan, upacara ini digelar dengan tema Memerdekakan Sungai Dari Sampah. Upacara ini bertujuan mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan. Terutama dengan tidak membuang sampah ke sungai. “Kita sampai saat ini belum merdeka dari sampah yang ada di sungai. Imbas dari sampah ini merugikan juga kepada masyarakat,” ujarnya. 

Baca Juga : Hari ke 2 Proses Pencarian Pendaki Hilang karena Kesurupan, Puluhan Personel Dikerahkan

Karena itu untuk memerdekakan sungai dari sampah itu dimulai dengan adanya upacara tersebut. Ke depannya agar masyarakat sadar dengan tidak membuang sampah sungai.

Di tempet berbeda, di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu warganya juga menggelar upacara. Yang menarik adalah parade paralayang. 

Diawali dengan salah satu orang mengibarkan bendera di langit. Dilanjutkan dengan sembilan atlet lokal memainkan paralayang di langit. Parasut yang digunakan seluruhnya berwarna merah putih. “Dan mereka yang bermain paralayang ini merupakan atlet junior paralayang murni dari kelurahan Songgokerto,” ungkap lurah songgokerto Sasongko Fitra.

Mengapa di Kelurahan ini digelar upacara dengan parade paralayang dan mengibarkan bendera di udara? Ya karena kelurahan tersebut memiliki potensi tersebut. “Kita memanfaatkan potensi yang ada, yang gak semua daerah miliki. Sambil mengangkat potensi, dan rasa kemerdekaan, nasionalisnya tumbuh,” imbuhnya.