Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidzul Quran Al Falah Kyai Agus Imam Bukhori (paling kiri) bersama para santrinya di depan bekas kandang kambing yang dipakai sebagai tempat tidur santri, Sabtu (11/8/2018) (Foto : Yogi Iqbal R/MalangTIMES)

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidzul Quran Al Falah Kyai Agus Imam Bukhori (paling kiri) bersama para santrinya di depan bekas kandang kambing yang dipakai sebagai tempat tidur santri, Sabtu (11/8/2018) (Foto : Yogi Iqbal R/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Tidak mudah berjuang mendirikan pondok pesantren penghafal Al-Quran. Butuh pengorbanan ekstra. Kyai Agus Imam Bukhori berjuang seorang diri mendidik santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidzul Quran Al Falah.

Saat ini, ada 23 orang santri dari berbagai daerah mondok di tempatnya. 12 orang santriwati dan 11 santriwan.

Para santri tidak mengeluarkan iuran sepeser pun. Agus pun tidak bekerja. Hidupnya ia abdikan untuk mengurus anak asuhnya. Lantas darimana Agus menghidupi para santri?

"Allah SWT yang membantu kami. Saya tidak bekerja. Dan santri di sini tidak mendapat kiriman dari orangtua mereka. Dengan bantuan Allah dan donatur saya bisa membiayai hidup mereka. Makan, minum, listrik, dan segala keperluan anak-anak termasuk alat mandi dan alat tidur semua merupakan bantuan," jelas pria kelahiran 25 Agustus 1975 itu.

Keterangan : Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidzul Quran Al Falah Kyai Agus Imam Bukhori saat bercerita tentang perjuangannya mendirikan pesantren tahfidz Al Quran (Foto : Yogi Iqbal R/MalangTIMES)

Sosok Agus tegas namun sederhana. Diuji dengan penglihatan sebelah kanan terbatas, tidak mengurangi semangat Agus.

Setiap hari dengan telaten ia menyimak bacaan Al Quran satu persatu dari para santri. Siang itu, di bilik kandang kambing Agus menyimak bacaan Al Quran seorang santri. Usai menyimak bacaan, ia melanjutkan cerita.

13 tahun silam, berawal dari madrasah diniyah di pelataran rumah kini santri Agus berasal dari berbagai daerah bahkan hingga Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Dua orang santri berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Sisanya berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur termasuk dari Kabupaten Malang.

Dalam sehari, para santri memerlukan tujuh kilogram beras. "Kalau gas LPG yang tiga kiloan itu kira-kira cukup untuk 15 hari saja. Anak-anak sudah biasa makan tewel sehari-hari," ungkap bapak tiga anak ini.

Ia pun mengisahkan sampai pergi ke dusun agar anak-anak mampu makan. "Kalau tidak punya uang saya pulang ke Kromengan sana minta-minta klotok untuk dibuat sayur. Dan saya tidak pernah malu meminta-minta makanan pada orang di kampung saya. Asalkan anak-anak bisa makan karena mereka butuh tenaga untuk menghafal Al Qur'an," kata dia.

Cukupkah kebutuhan para santri? Agus tidak menjawab. Bagi dia doa adalah kekuatan utama untuk semua hal termasuk urusan kebutuhan anak-anak. Agus tak pernah lelah mengajak para santri berdoa memohon kepada Allah. "Kami tidak pernah lupa mendoakan para donatur agar diberikan kesehatan dan kelapangan rezeki. Ya buktinya ada saja rezeki yang Allah berikan sehingga kami tidak pernah kekurangan makanan," ucapnya seraya tersenyum.

MalangTIMES menyambangi ponpes, Sabtu (11/8/2018) selepas salat dhuhur. Ponpes terletak di Dusun Arjomulyo (dikenal juga dengan nama Tanaka) RT 1 RW 3 Desa Bangelan Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang.

Perjalanan dari Kota Malang ditempuh dalam waktu sekitar dua jam. Menuju ke ponpes ini kami harus melewati jalan berkelok-kelok dan cukup curam. Meski aspal jalan mulus tetapi akses masuk ponpes hanya dapat dilalui satu kendaraan roda empat.

Tidak seperti pondok pesantren umumnya, para santri tinggal di bilik-bilik sederhana berukuran 2x1 meter yang dulunya merupakan bekas kandang kambing.

Agus mengisahkan para santri terpaksa tinggal di kandang kambing lantaran bangunan ponpes tak lagi memadai.

Di pelataran rumahnya, Agus membangun masjid sederhana dua lantai. Lantai pertama difungsikan sebagai tempat tinggal santri. Lantaran jumlah santri terus meningkat, ia terpaksa mengubah kandang kambing sebagai tempat tidur para santri.

Baca Juga : Penuh Keterbatasan, Santri Penghafal Al Quran di Pesantren Ini Tidur di Kandang Kambing, Intip Videonya

Kandang kambing difungsikan menjadi bilik kamar sekaligus koperasi sederhana. Ya, di ruangan dengan atap seng itu para santri menyediakan aneka kebutuhan mulai sabun mandi, sabun cuci, hingga minuman instan.

"Kalau dari sini jarak ke pasar jauh sekitar lima kilometer. Jadi anak-anak inisiatif buka istilahnya koperasi kecil. Kandang kambing itu ada empat bilik. Yang ujung sana untuk kamar tidur, tengah yang saya duduki sekarang ini seperti ruang santai dan yang sebelahnya ini ya koperasi tapi juga kadang dibuat tidur karena ada kasur," jelasnya.

Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidzul Quran Al Falah asuhan Agus Imam Bukhori memiliki metode hafalan Al-Quran tersendiri.

Dalam waktu beberapa bulan saja, santri dapat menghafal ratusan ayat dan bahkan belum genap satu tahun mampu menghafal 30 juz Al Quran.

Apa cara yang dipakai oleh Agus? Dan apa aturan khusus bagi 23 orang santri laki-laki dan perempuan? Simak cerita haru mereka hanya di MalangTIMES. (*)


 

End of content

No more pages to load