Samudra Wijaya Hadi Kusuma, santri penghafal Al Quran berusia 9 tahun yang baru mondok sebulan hafal 4 juz Al Quran saat berbincang-bincang dengan MalangTIMES, Sabtu (11/8/2018) (Foto : Yogi Iqbal R/MalangTIMES)
Samudra Wijaya Hadi Kusuma, santri penghafal Al Quran berusia 9 tahun yang baru mondok sebulan hafal 4 juz Al Quran saat berbincang-bincang dengan MalangTIMES, Sabtu (11/8/2018) (Foto : Yogi Iqbal R/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Siang itu azan dzuhur baru saja selesai dikumandangkan, Sabtu (11/8/2018). Sekelompok putera dan puteri berusia remaja tampak sibuk bersiap untuk melaksanakan salat berjamaah di masjid sederhana nan adem berukuran kurang lebih 10 meter kali 10 meter yang terletak di sebuah pesantren di Lereng Gunung Kawi.

Usai menunaikan ibadah Salat Dzuhur berjamaah, puluhan remaja putera dan puteri itu memilih tak beranjak dari masjid.

Masih mengenakan mukena serta sarung dan baju koko sederhananya, mereka mulai melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Sebagian dari mereka mulai lanyah melafalkan ayat demi ayat tanpa membuka kitab suci itu.

Ya, mereka adalah santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Putra-Putri Al-Falah Tanaka Gunung Kawi.

Setiap selesai melaksanakan salat berjamaah dan berdzikir serta berdoa, puluhan remaja luar biasa dengan wajah sumringahnya itu memang selalu rutin melafalkan ayat-ayat suci Al Quran.

"Setiap selesai salat wajib berjamaah, santri di sini selalu menghafal Al Quran. Di sini tiada hari tanpa Al Quran," terang pendiri Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Putra-Putri Al-Falah Tanaka Gunung Kawi, Kyai Agus Imam Bukhori pada MalangTIMES, Sabtu (11/8/2018).

Namun ada pemandangan menarik di antara puluhan santri yang sibuk menghafalkan Al-Quran itu. Seorang bocah berusia sembilan tahun tampak berlarian di pelataran masjid setelah selesai menyetorkan hafalannya di hadapan Pak Kyai.

Dengan ceria, bocah bernama Samudra Wijaya Hadi Kusuma itu bermain bersama teman sejawatnya di area pelataran Masjid setalah mengganti baju koko dan sarungnya menjadi kaos santai. Beberapa kali ia memasuki kediaman pribadi Pak Kyai untuk menonton serial kartun di TV.

Saat berbincang dengan MalangTIMES, bocah menggemaskan itu berbagi cerita tentang kebahagiaannya menimba ilmu di pondok pesantren yang sangat sederhana itu.

Meski baru satu bulan mondok, Samudra sudah mampu menghafal empat juz Al Quran meliputi juz 30, juz 1, 2, dan 3. Saat ini, ia mulai menghafalkan juz 4 dan juz 5 untuk tahap melancarkan hafalan.

Menghafalkan Al Quran baginya bukanlah sebuah beban. Samudera merasa sangat senang bisa meresapi ayat demi ayat dalam kitab suci tersebut.

Ia tak pernah mengeluh, karena meski sibuk dengan jadwal hafalan, ia masih dapat bermain dengan teman-teman sejawatnya di lingkungan pondok pesantren.

Dari luar, tampak tak ada yang istimewa dari diri seorang Samudra. Ia memiliki perkembangan yang sama dengan bocah seusianya. Namun anak yang bercita-cita untuk menjadi kyai besar itu memang memiliki kemampuan berkomunikasi di atas rata-rata.

Hafalannya pun cukup kuat. Saat diuji oleh Pak Kyai di hadapan MalangTIMES, Samudra berhasil melanjutkan ayat demi ayat dari juz satu hingga tiga. Dengan lanyah ia lahap seluruh ayat yang diajukan MalamgTIMES ataupun Pak Kyai.

Bocah pecinta permen ini dalam satu kali setor kepada Pak Kyai mampu menghafal hingga seperempat surat.

Dalam satu hari, lebih dari lima kali ia bergelut dengan Al Qurannya mulai pagi menyingsing, hingga matahari terbenam.

"Subuh gitu setor hafalan, dan setelah salat dzuhur, ashar, dan maghrib kita muroja’ah (mengulang hafalan). Saat isya ada tambahan hafalan," tambahnya.

Untuk ukuran bocah sekecil Samudra, ia dapat dikatakan sebagai anak yang mandiri dan tak cengeng.

Karena segala keperluannya harus ia siapkan sendiri. Mulai dari mandi, tidur, hingga pakaian yang ia kenakan harus disiapkan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Setiap malam, ia tidur bersama teman dan santriwan yang usianya memang jauh lebih tua darinya.

Samudra Wijaya Hadi Kusuma (paling kiri) saat menyetorkan hafalannya di depan Kyai Agus Imam Bukhori, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Putra-Putri Al-Falah Tanaka Gunung Kawi, Sabtu (11/8/2018) (Foto : Pipit Anggraeni​/MalangTIMES).

Samudra bermalam di sebuah bangunan sederhana yang ada di bawah bangunan Masjid. Kasur dan selimut yang digunakan pun tak senyaman yang digunakan anak usia sembilan tahun pada umumnya.

Ia hanya beralaskan tikar dan kasur lipat serta selimut seadanya. Kondisi sederhana itu sama sekali tak membuatnya ragu untuk bertahan. Dalam dinginnya malam, ia selalu merasakan kehangatan ayat-ayat suci Al Quran.

"Kalau malam nggak kedinginan kok. Karena kan tidurnya sama mas-mas (kakak santriwan) dan satu kamar diisi banyak orang," terangnya lagi.

Sementara siang hari, Samudra memang kerap bermain di pelataran masjid. Terkadang, ia juga berinisiatif membuat mainan seperti mobil-mobilan menggunakan bahan seadanya di sekitar pondoknya tersebut. Karena di area pondok pesantrennya itu, banyak tumbuhan seperti pisang, singkong, dan kopi yang bisa dimanfaatkan dahannya untuk mainan.

"Kadang kalau selesai hafalan ya bermain bola itu di halaman masjid. Kadang juga buat mainan sendiri di sini," cerita Samudra saat berbincang dengan MalangTIMES di atas bangunan bekas kandang kambing yang terbuat dari bambu berukuran 1 meter kali 1,5 meter yang biasa ia gunakan untuk bersantai.

Bocah yang bercita-cita menjadi kyai besar saat dewasa nanti itu memang jauh dari hingar bingar era digital seperti sekarang ini.

Ia tak bermain gadget seperti anak-anak sekarang. Ia hanya senang saat mendapat permen manis dan berhasil menghafalkan ayat-ayat yang ia baca setiap hari.

Samudra merupakan anak ragil (anak bontot) dari tiga bersaudara. Dia memiliki dua orang kakak laki-laki, dan kedua orang tua beserta kakaknya kini tinggal di Gondanglegi Kabupaten Malang. Meski masih belia, Samudra tak pernah mengeluh saat berjauhan dengan keluarganya.

"Kalau ingin pulang nanti Pak Kyai telpon orangtua saya. Di rumah paling cuma sehari atau dua hari terus balik lagi ke pondok. Besok pas Idul Adha saya juga pulang," katanya sembari memainkan peci dan sarungnya.

Samudra saat ini memang memilih untuk tak melanjutkan pendidikan formalnya. Semestinya, tahun ini ia duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar (SD).

Sebelum berangkat ke pondok, bocah yang gemar bermain sepak bola itu tak naik kelas. Sehingga ia tak melanjutkan pendidikan formalnya dan memilih menghafal Al Quran di pondok pesantren yang berada di lereng Gunung Kawi itu.

Di sana, Samudra tak sendiri. Ia bersama dengan beberapa rekan seusianya yang juga turut semangat belajar menghafal Al Quran.