Tempat tidur para santri penghafal Al Quran di Pesantren Al Falah Tanaka yang merupakan bekas kandang kambing (Foto : Yogi Iqbal R/MalangTIMES)
Tempat tidur para santri penghafal Al Quran di Pesantren Al Falah Tanaka yang merupakan bekas kandang kambing (Foto : Yogi Iqbal R/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Jauh dari hingar bingar kehidupan perkotaan dan akrab dengan sapaan nyamuk gemuk merupakan kondisi yang setiap hari dihadapi para santri penghafal Al Quran di pesantren ini.  

Namun di balik keterbatasan itu, di tempat inilah para santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Putra-Putri Al-Falah Tanaka Gunung Kawi memulai hafalan Al-Qurannya.

Ponpes ini tidak seperti pesantren pada umumnya yang memiliki aula dan masjid berukuran besar. Para santri sehari-hari menghabiskan waktunya dengan menghafal Al Quran di masjid yang sangat sederhana dengan interior dan bangunan yang jauh dari kata megah.

Kamar tidur para santri yang digunakan untuk istirahat dan mengulang (muroja’ah) hafalannya pun seadanya.

Bahkan sebagian besar santrinya terpaksa tidur di bekas kandang kambing berukuran satu meter kali satu setengah meter.

Bangunan yang sempit itu tak hanya diisi satu orang saja, melainkan ditempati tiga sampai empat orang untuk bermalam.

Para santri saat memanfaatkan bekas kandang kambing untuk menghafal Al Quran (Foto : Yogi Iqbal R/MalangTIMES)

Ponpes yang terletak di Dusun Tanaka (secara administratif dikenal sebagai Dusun Arjomulyo) Desa Bangelan Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang itu memang kondisinya jauh berbeda dari  ponpes pada umumnya.

Selain lokasinya jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Malang dan pusat Kota Malang, ponpes ini juga berdiri dengan fasilitas seadanya.

Di lingkungan ponpes terdapat sebuah rumah, masjid, serta bekas kandang kambing yang dimanfaatkan sebagai kamar tidur santri.

Kamar tidur yang dibuat dari kandang kambing itu terletak di sebelah selatan masjid atau sebelah barat rumah pendiri sekaligus pengasuh ponpes tersebut.

Ada sekitar empat kamar, yang setiap kamarnya berukuran satu kali satu setengah meter. Di dalamnya terdapat kasur lipat, meja sederhana dengan tumpukan buku serta kitab.

Baju para santri pun digantung dan ditata tepat di atas tempat tidur mereka. Lampu kecil di pasang pada bagian atap yang ditutup dengan bambu dan bekas banner yang tak terpakai. Saat hujan, bukan tidak mungkin kamar mungil para santri itu akan dibanjiri air.

Tepat di depan bekas kandang itu ada perlengkapan memasak berupa kompor lengkap dengan gas dan perabotan.

Pada bagian bawah kandang yang dimanfaatkan untuk tidur pun tampak tumpukan kelapa yang siap dimanfaatkan santri untuk memasak.

"Kandang ini dulu digunakan untuk ternak kambing yang dititipkan ke saya. Karena dirasa mengganggu anak-anak belajar dan jumlah santri bertambah, kambing akhirnya dijual dan bekas kandangnya oleh anak-anak dibersihkan dan disucikan, lalu dijadikan tempat tidur mereka," kata pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Putra-Putri Al-Falah Tanaka Gunung Kawi, Kyai Agus Imam Bukhori pada MalangTIMES, Sabtu (11/8/2018).

Para santri saat memanfaatkan bekas kandang kambing untuk menghafal Al Quran (Foto : Yogi Iqbal R/MalangTIMES)

Selain memanfaatkan bekas kandang kambing, para santri juga menempati sisi samping serta bawah masjid.

Area masjid terpaksa digunakan untuk tempat tidur para santri putri lantaran kekurangan lahan dan tempat untuk menampung para santri yang jumlahnya terus bertambah.

Saat ini, ada 11 santri dan 12 santriwati yang mendedikasikan diri mereka menjadi penghafal Al-Quran. "Ponpes kami ini khusus untuk menghafalkan Al-Quran saja," imbuhnya.

Sebelum menjadi ponpes, Kyai Agus awalnya mendirikan Madrasah Diniyah sekitar 13 tahun lalu.

Kyai Agus sendiri merupakan pendatang dan mendirikan Madrasah Diniyah bersama istrinya di atas lahan wakaf.

"Saya dulu ikut mertua saya di Desa Kluwut yang masih berdekatan dengan Dusun Tanaka ini. Kemudian saya diberi tanah wakaf di sini," imbuh bapak tiga anak itu.

Tanah wakaf itu saat ini dibangun menjadi masjid untuk tempat beribadah sekaligus mengaji para santri. Sempat mangkrak sekitar lima tahun, masjid tersebut akhirnya berhasil berdiri dan digunakan untuk beraktivitas para santri.

"13 tahun lalu saya datang ke sini membuka madrasah diniyah dan mengajar mengaji. Baru satu tahun ini saya dirikan ponpes khusus untuk menghafalkan Al-Quran," imbuh suami dari Maslahah itu.

Masjid yang berdiri itu dibangun dalam waktu yang lumayan lama yakni sekitar 10 tahun. Dana yang digunakan untuk membangun sepenuhnya berasal dari uluran tangan berbagai kalangan.

Pondok pesantren yang didirikan dan ia asuh sendiri itu pun dibuat dengan tanpa ada pungutan biaya sepeserpun.

Selama ini ada donatur tetap yang memberi santunan terhadap 23 santri yang kebanyakan berasal dari keluarga tak mampu itu.

"Makan, minum, listrik, dan segala keperluan anak-anak selama ini mendapat bantuan dari donatur," cerita Kyai Agus.

Santri di Ponpes Tahfidzul Quran Putra-Putri Al-Falah Tanaka Gunung Kawi ini sendiri terdiri dari berbagai usia.

Paling kecil berusia sembilan tahun, dan paling besar usia 21 tahun. Rata-rata santri yang menghafal Al-Quran di tempatnya tak butuh waktu yang lama, hanya dalam hitungan bulan saja.

"Setelah hafal, santri saya kembalikan ke orangtua masing-masing. Ada juga yang diambil sebuah lembaga pendidikan untuk mengajar. Saya nggak mau santri saya lama-lama di sini, harus bergantian dengan yang lain," imbuhnya.

Setelah menghafal Al-Quran, ia berharap para santri bisa kembali ke daerahnya masing-masing dan melanjutkan perjuangan menyebarkan syiar Islam.

Mendirikan pondok pesantren di daerah yang jauh dari jangkauan itu menurutnya bukanlah hal mudah. Awal mula ia bahkan sempat dicurigai oleh warga sekitar. Setiap kegiatan yang dikakukan dengan para santri selalu diintip oleh warga.

"Dulu selalu diintip warga, dilihat saya ngajarin apa ke anak-anak. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah tidak lagi," terangnya sembari tersenyum.

Sebelum mendirikan pondok pesantren, Kyai Agus terlebih dulu mengajar di Pesantren Ibnu Sina Kepanjen. Di sana ia bertemu dengan beberapa pihak yang akhirnya turut membantunya mendirikan ponpes yang dikhususkan bagi penghafal Al-Quran.

Meski berada di daerah yang jauh dari pusat perkotaan, santri yang datang dan menimba ilmu di tempatnya berasal dari berbagai daerah. Di antaranya Semarang, Kalimantan, dan berbagai daerah lain di Indonesia.

"Saya tidak pernah promosikan keberadaan ponpes kami. Saya rasa di mana ada gula, semut pasti datang. Itu sebabnya santri kami dari berbagai daerah," jelasnya.

Lokasi ponpes itu berada di Dusun Tanaka Desa Bangelan Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.

Secara administratif, Dusun Tanaka memang tak tercatat. Dusun tersebut tercatat dengan nama  Arjomulyo namun warga sekitar lebih mengenalnya dengan sebutan Dusun Tanaka.

Untuk menuju Dusun Tanaka ini, waktu yang dibutuhkan dari pusat kota kurang lebih dua jam.

Akses menuju ke kawasan tersebut terbilang sangat mudah. Karena jalur yang digunakan sepenuhnya telah diaspal dengan baik.