Ustad Adi Hidayat, Lc, MA (foto via Akhyar TV)
Ustad Adi Hidayat, Lc, MA (foto via Akhyar TV)

MALANGTIMES - Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di bulan ini, ada kewajiban menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Kesempatan beribadah tidak hanya untuk yang berhaji, tetapi bagi umat muslim juga dianjurkan memperbanyak amalan saleh, salah satunya menjalankan puasa. Ada satu hari khusus dimana di hari itu jangan sampai meninggalkan puasa yakni di tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini juga disebut dengan puasa Arafah.

Terkait puasa Arafah, Ustad Adi Hidayat menjelaskan secara rinci makna demi makna. Dalam ceramah 'Fiqh Eidul Adha' di Masjid Al Ihsan Vila Jaka Setia Bekasi pada Kamis lalu (9/8/2018), Adi merinci hakikat puasa Arafah. Berikut petikan ceramah yang ditayangkan di channel YouTube Akhyar TV. 

///>
Dalam hadis Riwayat Muslim Nomor 1162, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Nabi menyebut kata puasa menggunakan 'siyam'. Mengenai hal ini, Ustad Adi Hidayat menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab kata 'siyam' menunjukkan ibadah puasa dengan ketentuan tertentu. 

"Dalam bahasa Arab ada siyam dan ada saum. Apa artinya saum? Kata saum disebutkan sekali dalam Al-Qur'an yakni pada Surat Maryam ayat 26. Dikisahkan Maryam bernazar berpuasa. Kata saum atau puasa disini dalam kaidah bahasa Arab artinya puasa dalam arti umum. Puasa itu artinya menahan. Tetapi kalau disebutkan puasa dengan kata 'siyam' maka maknanya spesifik yang dimaksudkan adalah puasa dalam aturan tertentu, pahala tertentu, dan dengan aturan tertentu," jelas pendakwah kelahiran 11 September 1984 ini.

Pada perintah melaksanakan puasa Arafah, Rasulullah menggunakan kata 'siyam'. Meski begitu, Adi juga mengungkapkan bahwa ada beberapa riwayat yang menyatakan Rasulullah juga menggunakan kata 'saum'. Ia menyatakan bahwa hal tersebut sebaiknya tidak menjadi perdebatan. "Saum makna puasa secara umum, sedangkan siyam secara khusus. Menurut ulama kalau ada yang menyatakan kata secara khusus, maka yang dipakai kata itu. Jadi itu bukan menjadi masalah," kata dia. 

Selain menjelaskan kata siyam dan saum, Adi juga menjelaskan makna kata 'Arafah'. Dalam ibadah haji terdapat salah satu rukun haji yakni wukuf di Padang Arafah. Wukuf dimaknai sebagai berdiam diri. Pelaksanaan wukuf mulai tergelincir matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbenam matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah. 

"Dalam hadis disebutkan 'siyamu yaumil arafah' ini menunjukkan bahwa puasa dilakukan pada momentum, keadaan, atau tempat berlangsungnya puasa itu di Arafah. Dan makna wukuf bukan hanya sekadar diam. Tetapi berdiam diri adalah merenungkan diri agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Kenapa hidup di dunia, apa harapan kita setelah berpulang ke Allah. Arafah artinya mengenali diri, menunjuk pada kenali diri. Dekati Allah dan kenali diri Anda. Arafah itu tempatnya," lanjut pria yang tempuh studi di Kuliyya Dakwah Islamiyyah Libya itu.

Adi melanjutkan bahwa setelah jamaah haji menunaikan wufuk di Arafah, maka akan beranjak menuju Muzdalifah. "Dari Arafah pergi ke Muzdalifah. Berangkat pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah menunaikan salat maghrib dan isya jama' qashar lalu siap-siap ke Muzdalifah," terang Adi. 

Setelah menunaikan wukuf di Arafah, jamaah haji bergerak menuju Muzdalifah. Disana, mereka bermalam atau juga disebut dengan istilah mabit Muzdalifah. Selain bermalam, jamaah juga mengambil batu untuk digunakan melontar jumrah di Mina. 

Dalam hal ini, Adi Hidayat menjelaskan hal-hal yang penting bagi umat muslim yang tidak melaksanakan ibadah haji. "Untuk Anda yang tidak berangkat haji, Anda diminta puasa Arafah. Bukan puasa menahan haus, lapar, dan hawa nafsu saja. Tetapi Anda diminta melakukan amalan-amalan sama seperti yang berhaji yakni meminta ampunan dengan cara istighfar. Banyak mengingat dan merenungi dosa-dosa," jelas Adi. 

Adi lantas menjelaskan bagi yang melaksanakan puasa Arafah dan berkurban. "Puasa dan berkurban. Maknanya kedekatan yang bertambah. Ada yang ingin lebih dekat. Maka lakukan amalan disebut dengan kurban. Kurban dan puasa ada kesamaan amalan. Apa hubungannya dengan nafsu? Saat berkurban yang disembelih hewan. Hewan diciptakan oleh Allah hanya memiliki nafsu. Dalam sembelihan itu bermakna bahwa manusia menyembelih nafsu yang sering melekat sehingga jauh dari Allah," jelasnya. (*)