Tamjis saat menarikan jaran bunot di Dusun Jetak Lor, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto:Aditya Fachril Bayu/MalangTimes)
Tamjis saat menarikan jaran bunot di Dusun Jetak Lor, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto:Aditya Fachril Bayu/MalangTimes)

Namanya Jaran Bunot. Kesenian ini merupakan khas dari Dusun Jetak Lor, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Bahkan kesenian mampu menghipnotis penari, koreografer atau komedian Didik Nini Thowok.

Penamaan kesenian jaran bunot, yang berarti bunot budaya dan not (nada) sehingga disingkat menjadi bunot. Pemberian nama ini dari kakek dan nenek moyang yakni Imam Safi’i dan Setam.

Kesenian ini alat peraga untuk menari menggunakan replika jaran atau kuda. Jaran ini dibuat sendiri oleh Tirto tokoh pemuda Dusun Jetak Lor, Desa Mulyoagung. Yang terbuat dari Alumunium, spon api, bambu, dan  bulu kambing. Berat jaran ini kurang lebih 10 kilogram.

Tirto menjelaskan jika jaran  bunot ini sudah mendarah daging di daerahnya. Bermula dari sebuah dongeng ada orangtua yang hanya memiliki anak tunggal. Suatu ketika sang anak tersebut sakit-sakitan. Saat dibawa ketabib tidak ada perubahan. Namun ketika orangtua mengatakan jika sembuh ia bisa khitan. 

“Tapi sebelum khitan akan diajak menaiki jaran teji keliling kampung. Seketika anak tersebut sembuh dari penyakitnya,” ujar Tirto, Minggu (12/8/2018).

Sejak saat itulah kesenian jaran bunot itu mulai dilestarikan di dusun tersebut. Bahkan kesenian ini sudah melanglang di beberapa pertunjukkan. Mulai dari mengisi dalam Festival Gunung Kawi 2017. Tampil dalam HUT Bhayangkara Polda Jatim. Dan beragam pertunjukkan lainnya. 

Ya saat tampil di Festival Gunung Kawi itu juga hadir Didik Nini Towok. Ia pun mengapreasi kesenian jaran bunot. “Katanya tidak ada kesenian seperti ini diluar negeri. Lalu beliau juga meminta  dibuatkan jaran bunot,” jelas Tirto.

Musik yang digunakan untuk jaran bunot pun beragam. Karena sesuai dengan namanya not atau nada adalah musik tersebut ada gendingnya. Lalu bisa musik dangdut hingga campursari.

Seperti Tamjis pelaku kesenian jaran bunot yang sudah menjalankan kesenian ini bertahun-tahun. “Musik apapun bisa untuk mengiringi jaran bunot. Mulai yang ada gendingnya, dangdut sampai campursari,” kata Tamjis.

Durasi saat menarik pun tergantung pada musik yamg dimainkan kurang lebih 1 hingga 5 menit ia menarikan jaran bunot. Gerakan yang ditarikan pun bebas terapi mengikuti irama lagu. 

Ia menambahkan jaran bunot ini juga bisa ditampilkan bersamaan dengan kesenian lainnya. “Bisa digabung dengan pencak silat, ludruk, dan sebagainya,” terang pria yang juga ketua RT 02 ini.

Dengan adanya kesenian ini juga memperkuat dusun  ini yang merupakan Kampung budaya. Yang telah  mendapatkan sertifikat sebagai kampung budaya.

“Adanya kesenian ini tentunya supaya anak muda ingat peninggalan kesenian tersebut jangan sampai punah. Sebab Budaya merapatkan  muda dan bangsa. Kalau budaya hilang nusantara rusak,” tutupnya.