Video porno yang melibatkan penyanyi Ariel Noah dan artis Luna Maya heboh beredar luas pada 2010 silam (foto berbagai sumber)

Video porno yang melibatkan penyanyi Ariel Noah dan artis Luna Maya heboh beredar luas pada 2010 silam (foto berbagai sumber)



MALANGTIMES - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sejak Jumat (10/8/2018) menerapkan safe search mode (pencarian aman) di Google. Fitur tersebut diyakini dapat memblokir konten pornografi.

Dengan cara ini pencarian konten negatif lewat search Google tidak akan muncul. Pengaturan safe search mode bersifat default yang artinya berlaku bagi semua orang saat mereka melakukan pencarian lewat Google.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan hal tersebut merupakan bagian dari kebijakan anti pornografi.

"Sekarang sudah dimulai. Sekitar 99% sudah bisa ditangani. Ini merupakan affirmative policy yang terkait pornografi," kata dia sebagaimana dikutip dari Kata Data.

Selain safe search mode, Kominfo juga mengandeng Internet Service Provider (ISP) atau penyedia layanan internet. Mereka diminta untuk melakukan pengaturan serupa. Meski begitu, Kominfo mengatakan baru 96% ISP dari total keseluruhan yang akan melakukan setting safe search mode.

Lalu, benarkah safe search mode benar-benar aman tangkis serangan konten pornografi? 

Usaha Kominfo agaknya layak diacungi jempol. Akan tetapi, seorang berinisial AR mengaku masih bisa membuka konten pornografi.

Kepada MalangTIMES, pria asal Malang itu mengaku ia bisa mengakses video mesum yang melibatkan penyanyi Ariel Noah dengan dua artis cantik yakni Luna Maya dan Cut Tari.

AR, pria 24 tahun, menjelaskan dia mengetik pencarian tertentu di mesin pencari Google. "Saya mengetik keyword tertentu yang berhubungan dengan video porno Ariel sama Cut Tari dan Luna Maya di Google dengan mengubah ekstensi domain," ungkap dia.

Domain menunjukkan nama domisili server atau pusat dari nama domain. Meski mengubah domain Google, cara ini menurut AR tetap tidak dapat mengakses video porno Ariel.

AR mengatakan dia pun melakukan akses konten pornografi dengan menggunakan browser (penjelajah situs) tertentu. "Kalau pakai broswer yang dari Tiongkok ini malah bisa buka full akses ke video Ariel dan Luna Maya juga Cut Tari," lanjut dia.

Terkait hal ini, pakar informatika Politeknik Informatika Negeri Surabaya (ITS) Muhammad Zikky menjelaskan bahwa memang ada cara-cara 'nakal' yang dilakukan pihak tertentu agar tetap dapat melakukan akses pada konten pornografi.

"Sebenarnya dulu sudah ada TOR (The Onion Router) yang bisa melakukan demikian. Kalau bahasa awam istilahnya DNS (Domain Name System) digeser. Mereka masuk enggak melalui pintunya Kominfo. Regulasi Indonesianya dilewati. Intinya seakan-akan akses dari luar negeri. Kalau kita ganti domain Google negara lain sebenarnya tetap saja redirect (diarahkan kembali) ke Google domain Indonesia. Nah, kalau kasus bisa buka video dengan cara membuka lewat browser lain itu saya rasa masalah enkripsi (metode pengamanan), Jadi, browser itu punya model enkripsi sendiri. Deteksi lokasi bisa dihilangkan. Dan bisa jadi enkripsi tidak dikenali Kominfo. Dan itu biasanya servernya di luar semua bukan di Indonesia. Saya rasa untuk sistem safe search mode yang diterapkan itu Kominfo memblokir kemungkinan kata-kata negatif yang muncul. Dan mereka bisa ngakali dengan list data yang tidak ada di Kominfo. Atau bisa jadi mereka mengakali lokasi dengan fake GPS alias lokasi bisa dipalsukan seolah-olah ada di luar negeri," jelas dia saat dihubungi MalangTIMES, Minggu (12/8/2018).

Disinggung terkait regulasi safe search Kominfo yang diberlakukan sejak Jumat kemarin, Zikky mengatakan kebijakan ini sebenarnya sudah cukup efektif meski masih ada pengguna internet yang bermain 'nakal'.

"Ya efektif juga sekarang kan orang awam umumnya mereka memakai browser yang familiar saja kan seperti Internet Explorer dan kalau mengakses di Google pakai domain Indonesia. Kecuali memang mau mengakali dengan cara-cara tadi tapi itu kan kasusnya jarang. Meski Kominfo akhirnya kecolongan. Saya rasa wajar karena browser dan enkripsi kan juga berkembang. Jadi memang pasti susah sekali meski sudah pakai kebijakan sana sini," tukasnya. (*)

End of content

No more pages to load