Kitab Ingatan 19

Aug 12, 2018 06:15
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - Kitab Ingatan 19

*dd nana

1)

Mungkin, hari kiamat tidak datang

dengan ledakan, tapi melalui rintihan.

Serupa isak tangis yang dalam

serupa sesak maha-rindu yang tertahan

di rongga dada atau belikat yang sebagian ruas tulangnya hilang.

"Tuhan, kenapa kau tinggalkan aku,".

Begitulah rintih sang pecinta yang disalib dunia.

Di bawah bukit para kekasih kinasih terisak, begitu dalam begitu kelam.

Kiamat yang berulang-ulang di taman yang bongkah tanahnya diambil

jemari malaikat menuju surga.

Tapi tidak ada air mata.

Di luar suara ringik gerimis mulai datang

Meledakkan dada para pecinta yang terus menggumam

dalam puisi-puisi yang tak pernah diberi kado tanda titik.

Mungkin, hari kimat tidak datang dengan ledakan,

tapi hadir melalui rintihan.

 

2)

Hari ini ku tatap kau hati-hati

agar tidak lagi pecah berserak segala cerita

menjelma isak yang tak sanggup aku bawa

dalam perjalanan panjang menuju tepi.

Bahkan, gigil senyummu masih aku rawat baik-baik

agar tidak membiru dan menusuk dada kiriku.

Terlalu banyak luka di sini, puan.

Maka, hari ini aku tatap kau dengan kehati-hatian penuh

serupa mata kucing yang tak takluk gelap malam.

3)

Karena kau doa

yang disisipkan ke tubuh sajak

maka jelitamu memancar terang, membakar

Dan sampailah padaku, yang tersudut pada gigil hujan 

paling telanjang.

Kau, api yang tak pernah padam.

Bagaimana aku bisa memiliki utuhmu, puan.

4)

Segala memiliki jedanya masing-masing

bahkan waktu memilih perhentiannya pada benda-benda.

Tapi jalanku tak pernah berhenti

menujumu, cahaya yang datang setelah aku percaya

bahwa hidup harus memiliki jeda.

Betapa keparatnya hidup, bukan?

Aku menyeret jeda-jeda dengan luka di sepasang kaki

Ah, mungkinkah kau mengerti ini, puan?

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru