Para lansia yang mengikuti kegiatan seminar kesehatan di RSSA yang digelar Dinkes dan YGA Malang (foto: Anggara Sudiongko/ MalangTIMES)

Para lansia yang mengikuti kegiatan seminar kesehatan di RSSA yang digelar Dinkes dan YGA Malang (foto: Anggara Sudiongko/ MalangTIMES)



MALANGTIMES - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang kolaborasi dengan Yayasan Gerentologi Abiyasa (YGA) Kota Malang mengumpulkan 500-an masyarakat senior alias lansia, di Rumah Sakit Siful Anwar (RSSA) Kota Malang. 

500 lansia tersebut mendapatkan seminar kesehatan dalam upaya penanggulangan kekurangan gizi. Pasalnya di usia lanjut, lansia rentan terserang penyakit manakala memang dalam asupan gizi mengalami kekurangan.

Kepala Dinkes Kota Malang, Asih Tri Rachmi Nuswantari, mengungkapkan, bahwa dengan ini ia berharap kedepan para lansia yang jumlahnya 10 persen dari jumlah penduduk di Kota Malang, bisa lebih sadar untuk menjaga kondisi mereka. 

"Karena tugas Dinkes mengelola kesehatan masyarakat Malang dari bayi lahir sampai usia lansia. Sehingga kami terus membina semua kegiatan, mulai dari posyandu hingga kegiatan di karangwedanya," jelas Asih Tri Rachmi (11/8/2018).

Namun dalam upaya membina para lansia, pihaknya bekerjasama dengan YGA, dimana dengan kerjasama ini, para lansia lebih terkoordinir, sehingga meminimalisir miskomunikasi dalam pembinaan.

"Di posyandu lansia, selalu kami imbau untuk menjaga kondisi kesehatan, pemenuhan gizi-gizinya agar tidak rentan terserang penyakit kronis. Puskesmas kan juga ada kegiatan untuk mengunjungi lansia, sehingga mereka lebih tebantu," jelasnya.

"Meskipun dilaksanakan sebulan sekali, namun posyandu itu dilaksanakan di seluruh Kota Malang, dan jumlahnya ada 650-an, sehingga tentunya begitu membantu," tambahnya.

Selain itu, upaya lain untuk lebih memberikan pemahaman terkait kesehatan, seminar bersama YGA dengan pemateri dari ahli kesehatan juga dilakukan.

"Semua kegiatan memang pendanaan pada Dinkes," ungkap Asih ditemui di RSSA.

Asih juga menyampaikan, di Kota Malang permasalahan kesehatan yang diderita dan mendominasi para lansia adalah diabetes maupun hypertensi. 

"Sehingga melihat itu perlu penanganan untuk meminimalisir, dan harus dilakukan. Apalagi mengingat usia harapan di Kota Malang 72,22, artinya lansia tambah banyak, kalai dihitung beneran piramidanya beruhah, nggak segitiga lagi, antara lansia dengan balita hampir sama," terangnya.

Ketua YGA Jawa Timur, Prof Dr dr H. Djanggan Sargowo, Sp.PD, Sp.JP(K), FIHA, FACC mengungkapkan, saat ini lansia diharapkan jangan lagi menjadi beban atau merepotkan keluarga mereka. Sebagai penduduk senior, para lansia memiliki kebijakan serta kearifan yang lebih.

Pengalaman yang tentu banyak dapat dijadikan teladan bagi para generasi penerus dalam menentukam arah kehidupan dan pembangunan nasional.

Untuk itu YGA akan berupaya melakukakan gerakan atau upaya untuk membuat para lansia menjadi lansia bahagia, mandiri dan terus produktif.

"Ada berbagai departemen di YGA, seperti kesehatan, terkait masalah ekonomi dan bidang lainnya. Sehingga dengan adanya bidang-bidang itu diharapakan para lansia menjadi lansia yang produktif meskipun mereka sudah berusia tua," pungkasnya.

End of content

No more pages to load