Kunjungan Wisatawan Asing Muslim di Kota Malang Terus Digenjot

Kunjungan wisatawan asing di Kota Malang terus ditarget naik (bisniswisata.co.id)
Kunjungan wisatawan asing di Kota Malang terus ditarget naik (bisniswisata.co.id)

MALANGTIMES - Wisatawan asing dari negara muslim menjadi salah satu bidikan strategis dari Dinas Pariwisata Kota Malang. Tahun ini, kunjungan turis asing muslim pun ditarget naik dan terus digenjot.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni menyampaikan, tahun ini kunjungan wisatawan nusantara ke Kota Malang ditargetkan sebesar 4,3 juta orang. Sedangkan wisatawan mancanegara ditarget mencapai 15 ribu orang. Angka tersebut naik antara 12 hingga 16 persen dibandingkan tahun 2017.

"Wisatawan dari Timur Tengah sampai sekarang masih belum banyak. Padahal kita ini negara yang paling banyak mengirim jamaah haji setiap tahunnya. Artinya, kita harus banyak lagi berpromosi," katanya pada wartawan belum lama ini.

Menurutnya, wisatawan Timur Tengah selama ini selalu berwisata dengan jumlah orang yang tak sedikit. Mereka juga menginap dalam waktu yang lumanya lama dibanding rata-rata yaitu dua setengah hari. Sehingga perputaran uang dengan kedatangan turis asing dari wilayah Timur Tengah dipastikan berdampak.

Namun sayangnya, saat berkunjung ke negara Asia, kebanyakan turis asing tersebut memilih untuk pergi ke Malaysia. Salah satu pertimbangannya karena Malaysia dikenal dengan wisata halalnya. 

"Kita sudah mulai menggerakkan wisata halal. Indonesia menunjuk Lombok dan Aceh sebagai pusat destinasi halal dunia. Tapi di Kota Malang juga sudah bersiap," imbuh perempuan yang akrab disapa Dayu itu.

Destinasi wisata halal beserta fasilitasnya menurut Dayu saat ini dapat ditemui di beberapa hotel dan rumah makan. Diantaranya Hotel Regent Park, Rumah Makan Inggil, Rumah Makan Indie, Rumah Makan Halalan Toyyiban UB, dan UB Guest House.

Baik hotel maupun rumah makan yang disiapkan sebagai destinasi wisata halal menurutnya harus berkonsep dan bernuansa islami. Sederet perlengkapan beribadah seperti tempat untuk salat dan perlengkapan yang dibutuhkan juga harus disediakan.

Tak hanus wisatawan muslim, kunjungan turis asing dari negara besar seperti Moskow menurutnya juga menjadi prioritas. Turis dari Moskow dan sekitarnya kebanyakan berasal dari kalangan menengah atas, dengan masa berlibur yang rata-rata adalah dua setengah hari. 

"Perputaran uang pasti lebih besar. Saat ini per tahun turis Moskow yang berkunjung ke Kota Malang baru 200 sampai 300 orang saja, maka perlu digenjot lagi," jelasnya.

Belum lama ini, lanjutnya, Kota Malang menjadi salah satu perwakilan Indonesia untuk mempromosikan potensi daerahnya ke Rusia. Responnya pun cukup bagus dan ia optimis kunjungan turis dari Rusia akan bertambah.

"Entah tahun ini atau tahun berikutnya, pasti kunjungan bertambah karena kami direspon positif," ujar perempuan berambut panjang itu.

Untuk dapat menambah jumlah wisatawan, ia menilai jika Kota Malang hatus terus bekerjasama dengan Kota Batu dan Kabupaten Malang. Karena sebagai satu kesatuan, Malang Raya tetap tak bisa dipisahkan.

"Kami sadar tidak memiliki destinasi wisata. Turis pasti menikmati kunjungannya ke Kabupaten Malang atau Kota Batu. Tapi mereka akan menginap di Kota Malang," pungkasnya.

 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top