Sejarah Muhammadiyah yang Belum Banyak Diketahui Orang Diungkap Ustaz Adi Hidayat, Tonton Videonya

Ustad Adi Hidayat saat mengisi ceramah di Auditorium KH Ahmad Dahlan Jakarta pada Juli silam (foto via YouTube)
Ustad Adi Hidayat saat mengisi ceramah di Auditorium KH Ahmad Dahlan Jakarta pada Juli silam (foto via YouTube)

MALANGTIMES - Organisasi Muhammadiyah berdiri di Kampung Kauman Yogyakarta pada 18 November 1912 atau 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah. Dalam catatan ahli sejarah Universitas Gajah Mada (UGM) Adaby Darban, nama 'Muhammadiyah' diusulkan oleh kerabat KH Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu. Kemudian oleh Kiai Dahlan diputuskan setelah melalui salat istikharah. 

Tetapi, tidak banyak orang mengetahui mengapa KH Ahmad Dahlan memilih nama 'Muhammadiyah'. Adalah Ustad Adi Hidayat yang membuka mata khalayak tentang sejarah organisasi Islam kedua terbesar di Indonesia itu. Sejarah lahir dan makna kata Muhammadiyah dijelaskan Adi saat ia diundang mengisi ceramah di forum 'Silaturahim untuk Kemajuan Umat dan Bangsa' yang diadakan di Auditorium KH Ahmad Dahlan Jakarta pada bulan Juli lalu. Rekaman ceramah Adi diunggah ke YouTube oleh channel Macan Allah. 

Apa penjelasan Adi tentang sejarah nama Muhammadiyah? Berikut petikan penjelasan pendakwah kelahiran Pandeglang, Banten 11 September 1984 itu.

"Muhammadiyah kalau kita bagi katanya itu dari kata Muhammad ditambah ya nisbah ditambah ta sifat. Kata Muhammad empat kali disebutkan dalam Al-Qur'an. Di Qur'an Surat Ali Imran ayat 144, Surat 33 (Al-Ahzab) ayat 40, Surat 47 (Muhammad) ayat ke 2, dan Surat 48 (Al-Fath) ayat 29. Dan kata Ahmad hanya sekali saja di Qur'an yaitu di Surat Ash-Shaff ayat ke 46," kata dia.

Adi menjelaskan makna dari Muhammad. "Jika disebutkan nama Muhammad bentuk superlatif dari kata Mahmud. Orang Arab memberikan kata Mahmud umumnya pada seseorang yang punya nilai kebaikan dari sifat-sifat lingkungan sesamanya. Aspeknya horizontal. Nabi disebut sebagai Muhammad. Tidak sekedar menunjuk pada namanya. Tapi menunjukkan bahwa beliau punya sifat sosial yang sangat tinggi," jelasnya. 

Adi Hidayat lantas menjelaskan apa itu makna kata Ahmad. "Ahmad bentuk superlatif dari kata Hamid. Hamid tidak muncul kepada bahasa Arab kecuali menunjuk hubungan spesial garis vertikal. Hubungan kita dengan Allah SWT. Jadi kalau seseorang punya hubungan kuat dengan Rabbnya itu disebut dengan Hamid namanya," jelas pria yang pernah mengenyam studi di Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Garut itu. 

Lantas kenapa Kiai Ahmad Dahlan lebih condong memilih 'Muhammad' dan bukan 'Ahmad'? 

"Kenapa Syekh Ahmad Dahlan tidak melekatkan kalimat Ahmad di sini? Karena dorongan mendekat kepada Allah sudah banyak. Ayat-ayat luas. Semangatnya sama. Tuntutan luar biasa. Tapi persoalannya banyak orang hubungannya dekat dengan Allah. Salatnya rajin, bagus ibadahnya tapi aktualisasi ibadah sebagai nilai vertikal tidak nampak dari nilai horizontal. Karena orang-orang yang hubungannya bagus dengan Allah, tampak pada bagaimana ia berbagi dengan oranglain. Maka, beliau berpikir kemudian madrasah sudah banyak, sekolah sudah banyak. Tapi bagaimana aspek horizontalnya? Itulah kemudian kata Muhammad ditambahkan ya nisbah setelahnya. Kalau ya nya nisbah itu berarti pengikut," papar dia. 

"KH Ahmad Dahlan cucu Nabi kita ikuti. Yang paling menarik jangan lekatkan pada kakek saya saja. Buktikan Anda benar-benar pengikut Muhammad SAW. Maka di sini kefakian ilmu bahasa. Ditambahkan ta diujungnya tidak dicukupkan ya nisbah. Kalau tidak fakih bahasa Arab mustahil ditambahkan. Huruf ta menunjuk pada sifat. Seakan-akan beliau ingin katakan orang-orang yang terlibat di perserikatan ini bukan hanya mengklaim saya pengikut nabi tapi buktikan oleh sifat-sifat yang terlekat pada nama Muhammad. Muhammad yang peduli pada sesamanya. Yang perhatian dengan lingkungan. Yang merawat lingkungan. Yang berkasih sayang dengan sesamanya. Itulah Muhammadiyah. Karena itulah ketika Surat Al-Ma'un beliau (KH Ahmad Dahlan) bahas ditafsirkan dikeluarkanlah untaian ayatnya. Dikeluarkan harta benda. Ini sekian. Maka tidak aneh kalau jadi rumah sakit dan institusi pendidikan dan seterusnya. Karena itulah yang disebut Muhammadiyah dan khidmat terbesarnya ketika taufik Allah datangkan dan bangsa pun mendapat keberkahannya," jelas pria bergelar Lc dan MA ini. (*)

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top