Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pemerintahan

Industri Garment Merosot, Kemenperin Bakal Lakukan Penetrasi Pasar

Penulis : Riski Wijaya - Editor : Dede Nana

02 - Dec - 2023, 17:32

Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kemenperin Adi Rochmanto Pandiangan saat meninjau salah satu produk alas kaki dalam negeri.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).
Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kemenperin Adi Rochmanto Pandiangan saat meninjau salah satu produk alas kaki dalam negeri.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat adanya kontraksi pada sejumlah sektor komoditi. Menurut Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kemenperin Adi Rochmanto Pandiangan, hal tersebut diakibatkan sejumlah hal. 

Salah satunya adalah gejolak geo politik dan ekonomi dunia yang disebut sedang dalam kondisi tak bagus. Menurut Adi, hal tersebut juga akibat atas insiden yang masih terjadi antara Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina. 

Baca Juga : Uji Coba, Perpustakaan Umum Kota Batu Buka Sabtu-Minggu

"Kondisi terkini industri tekstil kulit dan pakaian jadi kita lagi tidak baik-baik saja. Jika kita melihat kondisi geo politik ekonomi dunia yang tidak begitu bagus, Rusia, Amerika, dan ekspansi di timur tengah yakni Israel di Gaza sangat berpengaruh," jelas Adi saat ditemui di Kota Malang, Sabtu (2/12/2023). 

Padahal, sektor industri manufaktur memiliki peran penting untuk perekonomian nasional dengan kontribusinya yang mencapai 18,74% dari total produk domestik bruto (PDB) Nasional.  Bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya. 

Yang salah satu sektor industri manufaktur tersebut adalah sektor industri alas kaki, kulit, dan pakaian jadi atau fashion. Namun sayangnya, upaya pemulihan ekonomi dari Covid-19 yang masih belum optimal masih terkendala perang global yang saat ini masih berlangsung. 

Adi mengatakan, kondisi tersebut membuat semua negara berlomba-lomba mencari pangsa pasar baru. Termasuk Indonesia, dengan bermacam-macam produk pada industri tekstil dan garment yang harus turut bersaing. Setidaknya bisa mendapat kepercayaan dari masyarakat Indonesia sendiri.  

"Sehingga kita lihat terus terang beberapa produk turun drastis untuk pasar internasional. Untuk itu kita bertumpu pada pasar dalam negeri. Persoalannya pasar kita terdesak oleh import tak jelas bahkan ilegal," jelas Adi. 

Menurutnya, keberadaan produk-produk impor tersebut cukup berpengaruh pada produk Indonesia. Bahkan disinyalir juga turut membuat kontraksi pada industri garment. Pemerintah pun menurutnya juga sudah tak tinggal diam. 

"Tadinya kita harap pasar dalam negeri bisa menahan laju kontraksi keterpurukan industri garment. Perlu kiranya kami lakukan penetrasi pasar untuk melihat sejauh mana kemampuan industri nasional kita.

Baca Juga : Ikut Jalan Sehat Hari Jadi RSUD Gambiran, Ini Harapan Pj Wali Kota Kediri

Dalam upayanya, Pemerintah juga telah berupaya untuk membatasi importasi dengan berbagai kebijakan. Baik untuk impor yang dilakukan secara legal maupun ilegal. Salah satunya juga dengan membatasi penjualan baju second atau yang banyak dikenal dengan istilah thrifting. 

"Harapannya bahwa pemerintah sudah mengeluarkan banyak kebijakan untuk menahan laju importasi, di sosmed juga sudah kita batasi," imbuh Adi.  

Dalam hal ini, Kemenperin bersama sejumlah stakeholder terkait juga melakukan berbagai upaya untuk mendorong produk dalam negeri, agar dapat lebih bersaing. Termasuk untuk mendorong masyarakat agar mau dan bangga menggunakan produk dalam negeri. 

Berdasarkan data yang diterima JatimTimes, kinerja ekspor Tekstil dan Produk tekstil (TPT) sampai dengan Triwulan III tahun 2023 terkontraksi sebesar 17,1 persen. Atau menjadi sebesar 8,92 miliar USD turun jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2022 sebesar 10,76 miliar USD. 

Begitu pula dengan nilai impornya yang mengalami penurunan sebesar 20 persen. Yakni menjadi sebesar 6,20 miliar USD dari periode yang sama pada 2022 sebesar 7,76 miliar USD. Sementara kinerja ekspor alas kaki sampai dengan Triwulan III tahun 2023 terkontraksi sebesar 20,34 persen yaitu sebesar 4,73 miliar USD. Sementara pada 2022, sebesar 5,97 miliar USD. Begitu pula dengan nilai impornya yang mengalami penurunan sebesar 8,12 persen yaitu sebesar 0,7 miliar USD dibandingkan periode yang sama pada tahun 2022 sebesar 0,76 miliar USD. 


Topik

Pemerintahan kemenperin industri garment industri garment terpuruk


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Riski Wijaya

Editor

Dede Nana