Daging ayam di Pasar Kepanjen mengalami kelesuan walaupun harga telah turun sejak beberapa pekan lalu. (Nana)
Daging ayam di Pasar Kepanjen mengalami kelesuan walaupun harga telah turun sejak beberapa pekan lalu. (Nana)

MALANGTIMES - Pedagang di Pasar Besar Kepanjen mengeluh. Pasalnya, omzet penjualan mereka dalam beberapa hari ini mengalami penurunan cukup besar.

Anjloknya omzet terutama menimpa para pedagang sembako. Bukan dikarenakan harga-harga sembako melambung tinggi atau stoknya berkurang, tapi lesunya daya beli  masyarakat.

Hal ini menimpa beberapa bahan sembako yang dijual pedagang di Pasar Kepanjen. Misalnya, penjual daging ayam yang harganya turun sekitar Rp 2 ribu dari harga beberapa pekan lalu yang berada di kisaran Rp 40 ribu per kilogramnya. Tapi omzet penjualannya mengalami penurunan sampai 30 persen daripada biasanya.

“Daging ayam yang saya jual turun. Padahal harga sudah turun cukup banyak. Terbilang sepi, Mas, untuk daging ayam beberapa hari ini,” kata Saodah, salah satu pedagang di Pasar Kepanjen, Senin (6/8/2018), kepada MalangTIMES.

Saodah melanjutkan bahwa pada hari normal biasanya bisa menjual sekitar 50 kg daging ayam kepada masyarakat. Kini, menghabiskan sekitar 30 kg saja setiap hari cukup berat. “Seharian jualan, baru bisa jual sekitar 30 kg, “ ujar ibu dua anak ini.

Selain lesunya daging ayam di Pasar Kepanjen, beberapa bahan pokok lainnya seperti telur yang sempat mengalami kenaikan di pasaran beberapa bulan lalu juga terimbas. Padahal, harga telur sudah mengalami penurunan, dari harga Rp 22 ribu per kg menjadi Rp 21 ribu saat ini. Lombok merah dan bawang putih pun mengalami penurunan harga sekitar Rp 3 ribu sampai Rp  ribu per kg-nya. Tapi, kondisinya sama di Pasar Kepanjen, yaitu sepi pembeli.

Agus Shuga, penjual sembako, mengatakan, sembako yang dijualnya memang mengalami penurunan penjualan cukup besar. Dibanding hari biasanya dan harga yang di atas saat ini, omzet penjualan Agus anjlok mencapai 40 persen.

“Harga turun tapi sepi yang beli beberapa hari ini. Hampir 40 persen jualan saya turunnya. Susah kalau kondisi seperti ini,” keluh Agus yang juga menjelaskan biasanya setiap hari dia bisa meraup omzet sekitar Rp 5 juta. “Tapi sekarang bisa dapat Rp 2 juta dalam sehari saja berat, Mas,” imbuhnya.

Lesunya daya beli masyarakat yang terjadi di Pasar Kepanjen, masih menurut Agus dari beberapa cerita pelanggannya, dikarenakan para pembeli saat ini semakin berhemat dalam memenuhi belanja kesehariannya. “Mereka mengurangi pembelian karena untuk pengeluaran kebutuhan sekolah anaknya serta lainnya. Jadi, mereka mengurangi belanja sembakonya. Dari yang beli satu kilo jadi setengahnya. Jadinya ya turun juga omzet kami,” ujarnya.

Agus mengatakan hal itu terjadi juga pada hampir pedagang di Pasar Kepanjen. “Rata saya pikir, semua kena ini di sini. Daging, telur maupun sembako lainnya mengalami penurunan penjualan,” pungkas dia. (*)