Disanjung Dalam Negeri, Kardus Bekas Perupa Kota Malang Ini Juga Diterima Eropa

Koko Sujatmiko ketika memberi keterangan kepada pengunjung yang melihat langsung karya seninya dalam pameran yang digelar di Dewan Kesenian Kota Malang (Pipit Anggraeni)
Koko Sujatmiko ketika memberi keterangan kepada pengunjung yang melihat langsung karya seninya dalam pameran yang digelar di Dewan Kesenian Kota Malang (Pipit Anggraeni)

MALANGTIMES - Kardus dan kertas bekas  bagi sebagian besar dari kita mungkin hanya sekedar tumpukan barang bekas dan sampah yang tak berharga. Namun tidak bagi perupa asal Kota Malang, Koko Sujatmiko. 

Pria berambut gondrong ini berhasil menyulap barang bekas tersebut menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Ditangan dingin Koko, kardus dan kertas bekas diubah menjadi hiasan dinding yang banyak dilirik pencinta seni dari skala nasional maupun internasional.

Kardus dan kertas bekas itu ia lebur dengan lem yang kemudian dibalut dengan cat lukis. Setelah menjadi bubur kertas, Koko mengaplikasikannya di atas kanvas dengan beragam ukuran. Beberapa karyanya juga dibalut dengan peralatan musik seperti gitar dan celo bekas.

"Gitar dan celo bekas ini sengaja saya aplikasikan untuk melengkapi visual dari karya saya," katanya pada MalangTIMES di sela-sela visual art exhibition yang berlangsung di Dewan Kesenian Kota Malang, Minggu (5/8/2018).

Media bubur kertas itu mulai ia geluti sejak tahun 2010. Sebelumnya, ia berkarya menggunakan cat lukis, resin, dan kayu. Terakhir, karya yang ia balut menggunakan bubur kertas itu ia ekspor ke Italia atas permintaan pencinta seni yang berhubungan dengan dirinya melalui media sosial.

"Jadi saya upload karya saya di facebook, dan ada permintaan untuk dikirim ke Italia. Meskipun masih baru satu, tapi saya sangat senang," katanya.

Namun ketika ditanya berapa budget yang ditawarkan untuk karya miliknya yang sudah terbang ke negara sphagetti itu, Koko hanya tersenyum sembari menyebut jika nilainya cukup untuk jerih payah dan ide yang ia tuangkan di atas kanvas berukuran 40 cm x 40 cm itu.

"Ya adalah ya pokoknya cukup," imbuhnya sembari tersenyum sumringah.

Tak hanya dilirik orang Eropa, karyanya juga banyak digemari oleh pecinta seni rupa di Malang Raya dan beberapa daerah di Indonesia seperti Jakarta, Bali, dan Yogyakarta. Sering kali ia diminta untuk membuat sebuah hiasan dinding dengan bentuk dan ukuran yang disesuikan dengan permintaan konsumennya.

Pria yang tak pernah mengenyam pendidikan kampus dan jurusan seni rupa ini mengaku jika ia belajar melukis dan membuat karya seni rupa secara otodidak. Ketertarikannya pada dunia seni itu ia mulai sejak masih duduk di bangku SMP.

Kesenangannya berlanjut dan ia tekuni dengan cara masuk dalam salah satu sanggar kesenian saat ia pindah dari Malang ke Yogyakarta lantaran turut serta orangtuanya yang bertugas, tepatnya saat duduk di bangku SMA. Namun saat hendak masuk Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ia gagal dalam tes. 

Gagal masuk perguruan tinggi hingga dua kali, Koko akhirnya memilih belajar di jalanan dengan para senior yang juga berasal dari ISI Yogyakarta. Pengalamannya bertambah saat ia memutuskan terbang ke Bali pada tahun 1993. Di sana ia memperdalam kemampuan melukis dan membuat karya seni rupa. 

Setelah kembali ke Malang, ia pun terus berkarya hingga sekarang. Ia tergolong sangat jarang turut serta dalam pameran lantaran bapak dua anak ini memilih untuk menunjukkan karyanya yang berbeda daripada yang lain. 

"Ketika saya memiliki karya yang berbeda dengan yang lain, maka saya akan turut dalam pameran," tambah alumnus MTsN 2 Malang itu.

Tak hanya mengutamakan estetika atau keindahan, karya seni yang dibuatnya juga menyimpan sejumlah pesan. Untuk visual dan tema yang diangkat, Koko lebih banyak berpesan tentang perjalanan hidup yang dibuat seperti melodi sebuah musik. Di mana semua berjalan sesuai irama yang dimainkan oleh manusia itu sendiri.

Sementara melalui media yang digunakan, Koko berkeinginan untuk memberi manfaat lebih dari sekedar kecantikan sebuah karya seni. Seperti karya seni tiga dimensi yang terbuat dari bubur kertas dan kardus misalnya, di mana hiasan berukuran enam meter kali dua meter persegi itu juga berfungsi meredam suara.

"Dengan ketebalan 80 cm, maka ruangan akan kedap suara," terang pria yang kini menetap di Kota Batu itu.

Menariknya lagi, karya Koko tersebut juga tidak dapat terbakar api maupun hancur saat terkena air. Lantaran di dalanya terdapat campuran lem kayu dan kertas serta bahan tambahan lainnya.

Editor : A Yahya
Publisher : Yogi Iqbal

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top