120 Bantengan dan 4 Bule Bikin Heboh di Kota Batu

Beberapa bantengan berjajar menghirup dupa di hadapannya di depan panggung rumah dinas wali kota Batu, Minggu (5/8/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Beberapa bantengan berjajar menghirup dupa di hadapannya di depan panggung rumah dinas wali kota Batu, Minggu (5/8/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

Ada yang beda dalam atraksi bantengan untuk merayakan 10 tahun Bantengan Nuswantara kali ini. Yang membuat berbeda adalah tampilnya empat bule dalam kesenian bantengan yang digelar di sepanjang jalan protokol Kota Batu, Minggu (5/8/2018), itu.

Empat bule itu berasal dari Meksiko, Jepang, Australia, dan Malaysia. Tak ada yang membedakan mereka. Empat bule itu pun mengenakan pakaian seragam layaknya peserta lain yang mengikuti bantengan Nuswantara ini. Lalu ada salah satu bule perempuan juga melukis wajahnya.

 

Mereka pun ikut berjalan mulai dari Stadion Brantas menuju Jl Sultan Agung-Jl Agus Salim-Alun-Alun Kota Batu dan finis di depan rumah dinas wali kota Batu Jl Panglima Sudirman.

Di sana, para bule ini tampil di hadapan masyarakat sambil membawa dupa di hadapan para banteng yang berjajar di depannya. Tanpa ada rasa takut, empat bule hingga para banteng itu mengeluarkan aksinya. 

Totalnya yang mengikuti Bantengan Nuswantara ini kurang lebih ada 120 grup bantengan. Mereka yang terlibat dari beragam daerah. Mulai dari bantengan Malang Raya, Blitar, Jombang, Mojokerto, Batam, dan sebagainya. 

Satu per satu bantengan itu pun menunjukkan aksinya di depan panggung kehormatan kepada ratusan masyarakat dan wisatawan. Ada juga bantengan yang ditunggangi oleh orang.

Lalu ada aksi macam bermain bola api yang cukup membuat para penonton terkesima. Situasi kerap menegang ketika para bantengan itu mulai kalap. 

Para penonton, khususnya anak-anak, berkali-kali harus bersembunyi akibat ketakutan. Sebab, beberapa bantengan itu juga masuk mendekati para penonton.

“Tapi di situ itu rasa gregetnya. Waktu bantengan kalap. seru juga. Takut tapi penasaran dengan aksi mereka,” ungkap Wahyudi, warga Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu.

“Event seperti ini memang kami tunggu-tunggu. inii adalah kebudayaan khas juga dari Kota Batu. Kalau bisa, sering-sering ada seperti ini,” katanya kepada BatuTIMES. 

Sementara itu, koordinator lapangan Bantengan Nuswantara Pendik Fradana menjelaskan, jika ratusan pelaku seni yang tergabung dalam Bantengan Nuswantara sebagai eksistensi kesenian bantengan yang telah menjadi salah satu budaya Indonesia. Sekaligus perayaan hari jadi Bantengan Nuswantara ke-10. “Di ulang tahun ke-10 tahun, kami gelar Bantengan Nuswantara untuk menunjukkan eksistensi kesenian bantengan khususnya di Kota Batu,” ujar Pendik. 

Tentunya kegiatan ini salah satu cara untuk melestarikan kesenian khas di Kota Batu. Supaya maayarakat juga tidak meninggalkan dan lupa akan kesenian yang sudah mendarah daging ini. “Adanya kegiatan ini supaya masyrakat dan wisatawan tahu dan ikut melestarikan kebudayaan dan kesenian ini,” tambahnya. (*)

 

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Yogi Iqbal
Sumber : Batu TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top