Suhu 15 Derajat Kota Batu, Artis Ini Batal Tampil Pakai Celana Pendek

Penampilan Danilla Riyadi bersama Tigapagi saat berada di atas panggung Folk Music Festival 2018, di lapangan Kusuma Agrowisata, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Penampilan Danilla Riyadi bersama Tigapagi saat berada di atas panggung Folk Music Festival 2018, di lapangan Kusuma Agrowisata, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Suhu Kota Batu tadi malam 15 derajat. Cukup dingin. Namun, meski berbalut dingin, gelaran konser artis-artis musik Indonesia berjalan sukses. Seperti halnya Folk Music Festival 2018 yang sudah berlangsung untuk kali kedua di Kota Batu.

Tempat yang selalu mendukung acara konser para artis itu adalah lapangan sepak bola Kusuma Agrowisata, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu. Tempat itu selalu sukses dipadati penonton dari berbagai daerah.

Hawa dingin tidak menyurutkan para penonton untuk mengikuti dan bernyanyi bersama hingga akhir acara, Sabtu (4/8/2018) malam. Malah hawa dingin itu sangat menunjang musik folk yang berarti musik rakyat yang penuh dengan kesederhanaan dan keseharian dalam lagunya.

Salah satu yang tampil adalah Mohammad Istiqamah Djamad atau yang dikenal dengan nama Is, mantan vokalis Payung Teduh, yang saat ini menjadi penyanyi solo dengan bendera Pusakata. Meskipun sudah kali kesekian menginjakkan kaki di Kota Batu, dia selalu dibuat terkesima. Mendengar Kota Batu, yang selalu ada di benaknya adalah dingin seperti batu. 

“Dingin seperti batu, tempat yang cocok untuk nongkrong, bengong, dan gak bosenin didatangi. Jujur saya sudah berkali-kali ke sini menyanyi dengan hawa dingin sunggu nikmat,” ujar Is kepada BatuTIMES.

Is menjadi salah satu bintang tamu yang sudah ditunggu-tunggu oleh penggemarnya. Meskipun bernyanyi di bawah suhu 15 derajat, Is cukup tampil dengan kaus.

Sambil menikmati dinginnya hawa malam itu, kurang lebih delapan lagu dinyanyikan. Mulai dari Akad, Menuju Senja, Angin Pujaan Hujan, Perempuan Sedang Pelukan, Di Atas Meja, dan Kehabisan Kata.

"Di panggung ini juga kita bertemu namun dalam kondisi yang berbeda. Dulu saya bermain bersama Payung Teduh dan sekarang saya sendiri,” imbuhnya.

Tidak hanya Is. Grup yang bernama Dara Muda yang digaungi oleh Danilla Riyadi, Sandrayati Fay, dan Rara Sekara kali pertama tampil di bawah Gunung Panderman. Lagi-lagi saat mereka bernyanyi, embusan angin saat itu membuat mereka merasa dingin.

Bahkan Danilla Riyadi mengungkapkan jika sebenarnya ia ingin mengenakan celana pendek sambil menggunakan tanktop. Tetapi karena hawa dingin menyurutkannya dan memilih memakan baju panjang berwarna hitam dipadukan dengan celana jeans.

“Sebenarnya saya ingin pakai celana pendek sama tanktop. Tapi kalau saya paksakan, saya bisa sakit pulang dari sini,” candanya.

Danilla malam itu juga menyanyikan deretan lagu dari album kedua berjudul Lintasan Waktu. Yakni Meramu, Dari Sebuah Mimpi Buruk, Laguland, Aaa..., Ini Dan Itu, Terpaut Oleh Waktu, Ada Di Sana, Entah Ingin Kemana, dan sebagainya. 

Ini juga kali pertama kali ERK tampil di Kota Batu. Ia pun cukup kagum dengan indahnya suasana saat itu. Antara penonton, pemandangan, hawa dingin membuatnya terkesan dan terkesima. 

Sehingga ia pun menambah satu lagu di luat list yang seharusnya dinyanyikan. Beberapa lagu yang dinyanyikan itu Cinta Melulu, Desember, Sebelah Mata, Melankolia, Jingga, Biru, Di Udara, Syahadat Bumi, Kesepian, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, Putih, Seperti Rahim Ibu. 

Sementara itu, Anitha Silfia -program manager Folk Music Festival- menambakan Folk Music Festival sudah digelar empat kali. Dua di antaranya digelar di Kota Batu karena ada kesan tersendiri melihat pengalaman tahun 2017 silam mendapatkan respons baik.

“Tempat terbaik menurut kami. Banyak yang minta para penonton menggelar di sini lagi. Karena hawa dinginnya ini sangat cocok untuk mendengarkan lagu-lagu folk,” ujar Anitha. 

Selain itu karena hiruk pikuk bisingnya perkotaan menjadi alasan memilih Kota Batu karena memiliki hawa sejuk dan beragam pemandangan yang mampu me-refresh. “Sebagai orang kota dan penonton kota berniat refreshing di sini. Di sini ada pemandangan Gunung Panderman dan hawa dinginnya semua suka,” imbuhnya. 

Antusias yang tinggi itu pada tahun sebelumnya mampu mendatangkan hingga 5 ribu penonton. Di tahun ini, ditargetkan hingga 6 ribu penonton karena digelar selama 2 hari, yakni 4-5 Agustus 2018. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top