Kitab Ingatan 18

Aug 05, 2018 13:08
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - Kitab Ingatan 18

*dd nana

-oem

1)

Seseorang dengan mata berawan memetik gigil gerimis. Mulutnya berasap puisi Paz. 

Di pertigaan jalan,  mata yang disamarkan gerimis,  terlihat menangis. 

"Masih saja kau igaukan cinta, padahal sunyi lebih kuat dari raga. Berhentilah, sayang. Kaki ku harus pulang,'. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Diakhir kalimat hujan turun. Membasuh letih penantian yang telah sampai lama di pertigaan jalan itu. 

"Mataku telah belajar mencintai kekaburan dan kelam hitam. Jemariku ini,  biarlah terus memetik senar-senar harpa gerimis. Melantunkan kisah sisipus atau malin kundang. Kisah para lelaki yang bersetia untuk menjaga sebuah cerita. ". 

Sebuah nada ikut hanyut di jemari hujan. Sebelum kembali menjadi gerimis. Putih. 

"Segalanya memang tidak akan seperti dulu. Tapi aku yakin menjadi tulus. Pulanglah, sayang. "

Sepasang mata di ujung pertigaan,  menangis. Isaknya sampai pada gerimis yang aku petik dengan mata yang lebih berawan dari musim penghujan. 

2)

Dua yang aku cintai, kebahagianmu dan kamu. 

Sedang yang lainnya adalah spasi atau tanda baca lain yang kerap mataku khilaf merabanya.

Berdosakah

Kau terdiam begitu hening. Aku tahu, kau sedang berdoa untuk melepaskan tali karma. 

Takdir sungguh menyebalkan

Dan kita telanjang. Kembali belajar untuk mengkhidmati manik-manik keringat kita. 

Cerita cinta kerap tak ingin ditutup tanda baca. Serupa cintaku yang mencintai kebahagianmu dan kamu. 

3)

Tiga kali aku bermimpi kematian cinta yang sekaratnya masih bercahaya. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Sebelum matahari lahir kembali di mataku yang masih sembab dihajar duka. 

Sungguh aku tidak percaya duka yang abadi tapi sekaratnya cinta yang masih bercahaya,  terlihat begitu biru legam. 

Dimanakah kau,  sayang? 

Jangan kau siapkan pemakamannya,  jangan. Karena aku percaya, cinta adalah pekerja keras. Sekarat dan cahaya dan kematian tidak akan melayukan tubuhnya. 

Tiga kali aku bermimpi. Kau masih saja tak sudi datang. Padahal cinta sedang sekarat walau pun masih bercahaya. Biru legam. 

4)

Dari tubuhku tiga kehidupan meramaikan cuaca. Satu yang melingkariku dengan norma. 

Bisakah aku menutup mata,  sayang? 

Cerita telah membawaku di sebuah rumah ini. Jangan kau lewati cerita ini. Bacalah. 

Seseorang dengan mata berawan menggigil. Tapi hujan tidak turun. Hanya angin membawa kabar dingin. Serupa warna yang lama ditinggalkan cahaya. 

5)

Aku rindu darah dan daging ku

Yang dulu kita sajikan dalam persuaan,  tanpa cahaya lampu. 

Dan kita melahapnya serupa para pelapar

yang dikutuk mata ular.

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru