Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Internasional

Di Balik Nama Brigade Izzuddin Al-Qassam

Penulis : Ghiska Ayu - Editor : A Yahya

17 - Nov - 2023, 15:47

Placeholder
Brigade Izzuddin Al-Qassam

JATIMTIMES - Harakah Al-Muqawwamah Al-Islamiyah, disingkat HAMAS, merupakan organisasi gerakan perlawanan Palestina yang memiliki akar sejarah yang kuat. Awalnya, sebagai bagian dari gerakan politik dan sosial, HAMAS berkembang menjadi kekuatan militan utama melalui pasukannya yang terkenal dengan sebutan Brigade Izzuddin Al-Qassam. Siapakah tokoh di balik nama Al-Qassam tersebut?

Syaikh Ahmad Yassin, pendiri HAMAS, awalnya memperjuangkan hak-hak warga Palestina secara diplomasi. Namun setelah itu, gerakan sosial dan politiknya bertransformasi menjadi Hamas pada tahun 1987, dengan ideologi Islam “ahlussunnah wal jama'ah” yang sangat taat. Aksi pertamanya, Intifadhah, berhasil membuat Israel ketar-ketir.

Baca Juga : Situasi Terkini di Gaza, Bahan Bakar Habis Komunikasi Mati Total, Warga Terancam Kelaparan dan Krisis Air Bersih

Pada tahun 2004, Hamas mengikuti pemilu dan memenangkan secara mutlak. Tokoh Hamas, Ismail Haniya, menjadi Perdana Menteri. Meskipun berhasil, pada tahun 2007, Hamas dihadapi oposisi yang mengakibatkan bubarnya kabinet dan pergantian Perdana Menteri.

Hamas tetap menjadi partai penguasa di parlemen hingga hari ini dan memimpin Perang Thuufanul Aqsha. Sebagai organisasi yang memiliki sayap militer, Hamas telah memainkan peran sentral dalam konflik di wilayah tersebut.

Brigade Izzuddin Al-Qassam sendiri adalah sayap militer Hamas. Para anggota Brigade ini adalah orang-orang pilihan, kebanyakan para hafidz (penghafal al-Qur’an) dan orang-orang terdidik yang direkrut dari para pemuda masjid yang bertebaran di Jalur Gaza dan Tepi Barat. 

Dibalik pemilihan nama Brigade Izzudin al-Qassam, siapakah sebenarnya tokoh tersebut?

Izzuddin Al-Qassam adalah nama pejuang hebat yang melawan Inggris di Palestina sebelum adanya Israel tahun 30-an. Lahir di daerah Jabalah, pada 1300 H/1883 M di sebuah perkampungan yang memiliki sejarah heroik, terletak di sebelah utara Suriah. Sang ibu bernama Halimah al-Qishab bermarga Nur Allah, sedang sang ayah adalah seorang pandai besi yang sangat agamis. 

Izzuddin dibesarkan di tengah keluarga yang terpandang dan kental dengan ilmu agama, bahkan ia adalah pembaca buku yang akut. Sang kakek adalah perantau dari Iraq dan pimpinan tarekat al-Qadiriyah di daerahnya, hingga kemudian diwariskan kepada anaknya. 

Di usia empat belas tahun ia mulai belajar ilmu agama di Al-Azhar, Cairo. Delapan tahun kemudian ia kembali ke Jabalah, saat inilah pribadi jihadisnya mulai tampak. Pada tahun 1920 ia hijrah menuju Haifa, Palestina, untuk merintis gerakan jihad secara rahasia yang diawali dengan tarbiyah. 

Baca Juga : Grebek Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza, Israel Temukan Jenazah Wanita yang Disandera Hamas

Kepribadiannya sebagai pejuang terinspirasi dari sosok Ahmad Arabi, seorang penghafal Al-Quran juga alumni Al-Azhar, sekaligus tokoh perlawanan di Syam pada masa pendudukan Inggris di Mesir. Ahmad Arabi wafat dalam peperangan tahun 1882 M dan melahirkan ruh jihad di tengah-tengah masyarakat. 

Izzuddin memiliki beberapa ciri khas dan manhaj dalam pembentukan gerakan jihadnya, ia sering mendoktrin anggotanya bahwa Inggris adalah biang kerok masalah di Jazirah Arab, karena Inggrislah lahir pendudukan Israel ke tanah Palestina.

Dalam organisasinya ia hanya merekrut orang yang siap mati syahid di jalan Allah Ta'ala, setelah ia menilai kelayakan anggota baru tersebut. Ia sering mensyiarkan ungkapan bentuk tarbiyah "Hadza jihad nashrun aw istisyhad". la sering memotivasi agar akrab dengan Al-Quran dan menjadikannya pengokoh dalam jihad. Mentarbiyah anggotanya dengan akhlak karimah, amalan ruhiyah, kisah kepahlawanan Nabi, tokoh mujahid dari kalangan. sahabat, para penakluk muslim, dan menjadikan mereka sebagai al-Matsal al-A'la panutan utama dalam berjuang. 

Kedisiplinan waktu shalat adalah prioritas dan barometer perjuangan. Sesuai visi misinya, maka ia menargetkan sasaran dakwahnya kepada para buruh dan petani. Ia menilai bahwa merekalah kebanyakan pengikut Nabi yang juga memiliki kesiapan berjuang dan keloyalan yang tinggi karena tak ada yang dibanggakan dalam hidup mereka, berbeda dengan pejabat. 

Ia memiliki perkataan yang diabadikan dalam sejarah "Tidaklah penting bagi kita untuk diberi pertolongan dalam perang ini, tetapi terpenting adalah menghidupkan kepahlawanan dan melahirkan para mujahid di generasi mendatang". Ia memperoleh syahidnya dalam pertempuran melawan tentara Inggris di Haifa, setelah ia diminta untuk menyerah tetapi ia enggan pada hari Rabu pagi 20 November 1935 M.


Topik

Internasional Hamas palestina save palestina



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Ghiska Ayu

Editor

A Yahya