foto dokumentasi (MalangTIMES)
foto dokumentasi (MalangTIMES)

MALANGTIMES - Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dan tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin sepakat tentang pengaruh massa Islam dalam politik Indonesia. Keduanya menilai jika pergerakan massa Islam mampu mempengaruhi arah politik di negeri ini.

Gatot berpendapat, umat muslim pada dasarnya harus bersatu. Namun sayangnya, persatuan tersebut telah pecah tanpa mereka sadari. Ia pun menyontohkan melalui bentuk politik pecah belah dalam tubuh umat Islam. Di mana partai Islam yang awalnya bersatu melalui PPP, kini terpecah dalam berbagai partai.

"Dulu hanya ada tiga partai yaitu Golkar, PDI dan PPP yang mewakili Islam. Tapi karena dinilai kekuatan Islam sangat besar, maka saat itu PPP dipecah. Dan kita masih belum sadar hingga sekarang," katanya saat menjadi keynote speaker dalam acara Muktamar ke-XVIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Kota Malang—Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang, Jumat (3/8/2018).

Kondisi itu pun sangat ia sayangkan. Karena saat ini dalam dunia politik umat muslim tak hanya terpecah belah, namun juga bisa dibeli.

"Katanya partai adalah ideologi, tapi ideologi yang mana? Pilkada dan Pilpres, nggak ada ideologinya. Kita seperti kembali pada massa penjajahan tapi dengan metode dan cara yang baru," imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin. Din menilai jika partai berbau Islam di Indonesia seharusnya bersatu dan tak lagi bersaing dan terpecah. Karena ketika mereka bersatu, total perolehan suara dipastikan akan lebih unggul.

"Sekarang luar biasa, kita seolah terjebak dengan simbol yang menyatakan islami atau bukan. Masyarakat jangan sampai terjebak simbolisme, harus berfikir cerdas," imbuhnya.

Tahun politik di 2019 menurutnya menjadi momen yang cukup krusial bagi kekuatan politik. Karena saat ini kondisi partai Islam masih carut marut, tapi belum terlambat jika akan disiasati.

Jika tidak, maka kondisi akan kembali seperti pemilu 2004. Bahkan ia menilai partai berbau Islam di Indonesia ke depan hanya akan tinggal kerangka atau namanya saja.

"Dulu itu sudah ada rancangan melalui pendekatan Islam dan TNI. Jika mau bersabar sedikit pasca orde baru, maka partai Islam akan memenangkannya," terang Din.