Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ruang Mahasiswa

Suara Perubahan Ada di Tangan Rakyat, Tolak Golput Demi Kemajuan Bangsa!

Penulis : Nabilla Erlika Putri Yessynta - Editor : Dede Nana

14 - Nov - 2023, 14:56

Pemilu 2024 (IST)
Pemilu 2024 (IST)

JATIMTIMES – 61 hari lagi pesta demokrasi 2024  akan tiba, seseorang yang telah memiliki hak suara dianjurkan untuk menggunakannya dalam pemilihan pasangan eksekutif dan para anggota legislatif. Momentum ini adalah peran kita sebagai warga negara yang akan menentukan masa depan bangsa ini. Hak untuk memilih yang seharusnya menjadi senjata ampuh bagi masyarakat dalam menakrifkan orientasi suatu negara, nyatanya hal ini sering disalahgunakan atau diabaikan oleh sebagia orang dengan sikap golput.

Indonesia yang memiliki penduduk lebih dari 270 juta orang, menjadikannya sebagai negara nusantara yang sangat beragam. Negara multietnis dan multiagama ini menggambarkan dirinya sebagai negara demokrasi. Bagi sebagian besar masyarakat, demokrasi adalah sistem yang memberi mereka kebebasan dan hak untuk memilih wakil-wakil mereka dalam kursi pemerintahan.

Baca Juga : Ekskavasi Candi Gedog Kota Blitar: Mengungkap Sejarah Joko Pangon yang Terpendam

Seperti yang kita ketahui, pemilu adalah  momen ketika kepentingan nasional dan publik terwakili, dan golput berarti Anda menyerahkan kendali atas masa depan Anda kepada orang lain. Menolak mengambil keputusan sama saja dengan menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan transformasi. Fakta ini terjadi karena tidak semua orang menyadari betapa kuatnya implikasi mereka terhadap hak pilih. Dengan demikian, kita harus bersatu untuk menentang golputdan perlu mempertimbangkan pentingnya hak pilih menjelang pemilu 2024.

Di Indonesia, persoalan golput atau  tidak menggunakan hak pilih masih terus terjadi. Tidak ada tingkat partisipasi pemilu yang mampu mencapai 100% sepanjang sejarah. Hal ini karena masih sulitnya mencegah fenomena kelompok putih atau abstain dalam penggunaan hak pilih. Pola pikir demikian disebabkan oleh banyak faktor. Politik dan pemerintahan dapat membuat sebagian individu merasa putus asa atas sistem kerja selama ini. Mereka percaya bahwa tidak ada yang akan berubah dengan satu suara. Pemilu mungkin tampak seperti pengalihan politik yang rumit bagi pihak-pihak yang tidak tertarik dengan politik. Bagi sebagian lainnya, hal ini mungkin terasa sederhana seperti merasa tidak berarti dalam hal hak untuk memilih.

Namun, kita harus menyadari bahwa golput bukanlah  keputusan yang bijaksana. Perilaku seperti ini tidak hanya dapat merugikan individu, namun juga bangsa dan masyarakat luas. Faktanya, golput dalam pemilu meningkatkan peluang partai lain untuk mempengaruhi hasil pemilu, karena nyatanya setiap perolehan suara diperhitungkan dalam putusan pemilu.

Selain itu, terdapat implikasi yang signifikan terhadap sebuah representasi ketika seseorang melakukan golput. Sudah menjadi tugas kita sebagai pemilik hak pilih untuk mempergunakan kekuasaan tersebut secara bertanggung jawab. Memilih masa depan yang lebih baik bagi diri kita sendiri, keturunan kita, dan generasi mendatang sama pentingnya dengan memilih pemimpin. Pemilu memberi kita kesempatan untuk memperkuat keyakinan kita dan mengubah hal-hal yang tidak kita sukai.

Jika kita berkaca pada kasus Brexit, golput pada akhirnya menyebabkan keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada tahun 2016. Dari sekitar 46 juta pemilih terdaftar, hanya 33,6 juta yang memilih, dengan selisih suara menang 1,2 juta. Jumlah pemilih terdaftar golput mencapai 28% atau tidak kurang dari 13 juta orang. Sebuah survey setelah referendum menyatakan bahwa 53,1% dari 28% itu cenderung memilih "remain" (tetap), dan mereka yakin bahwa tanpa suara mereka pun, "remain" tetap akan menjadi mayoritas karena secara logika menguntungkan negara, sedangkan yang benar-benar golput alias "tidak tahu memilih apa" hanya 32% dari 28% itu.

Baca Juga : Majukan Kualitas Pendidikan di Bangkalan, UM Malang dan SMA Ponpes As-Shomadiyah Jalin Kerja Sama 

Kerugian jangka pendek akibat Brexit memang masalah finansial, tapi jangka panjang akan menyangkut masalah sosial, kemajuan teknologi dan budaya karena Inggris akan terisolasi dari Eropa. Memilih seorang pemimpin di mana pun, bukanlah tentang memilih penguasa yang terhebat, kuncinya adalah menghentikan yang terburuk. Dari segi kecerdasan, keikhlasan, atau keserakahan, tidak ada pemimpin yang sempurna.

Pemilihan umum adalah momen yang penting, dan kita harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Mari kita merenungkan pesan ini dan bertekad untuk tidak menyia-nyiakan hak suara kita. Suara perubahan ada di tangan Anda. Tolak kebijakan golput pada pemilu 2024 demi kepentingan Indonesia yang lebih baik dan demi kemaslahatan semua orang.

 


Topik

Ruang Mahasiswa golput brexit


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nabilla Erlika Putri Yessynta

Editor

Dede Nana