Klakson dan Spion Hidupmu Berfungsikah?

Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

*dd nana

Orang yang jatuh ke lubang yang sama,  diibaratkan keledai. Begitulah pepatah mengatakan tentang perilaku manusia yang kerap berbuat kebodohan,  padahal lulusan S1 bahkan sampai S3. Sudah tahu rasanya sakit,  diulangi lagi dan berkali-kali. 

Begitulah Sadikun,  mengawali pembicaraan di pagi hari saat nongkrong di warung kopi ceu Imas,  penjual kopi terbahebol dan tercetar gelegar di Desa Kopi Tubruk. 

Padahal,  Tuhan telah memberi kita klakson dan spion paling canggih yang ada di dunia ini. Klakson yang memberi peringatan setiap kali manusia berbuat kebodohan. Spion sebagai alat untuk melihat segala hal di belakang kita yang semuanya tidak baik-baik saja. 

Tapi,  dasarnya manusia,  dua elemen tersebut kerap tidak difungsikan secara maksimal. Bahkan sebagian atau mungkin banyak orang,  malah menggadaikannya. Agar segala nafsu menjadi lebih tenang bekerja dan melunaskan tugasnya. 

"Wih mbok pagi-pagi itu ngomongin sing enak-enak gitu loh kang. Kenaikan upah,  misalnya, " protes Sukro yang sampai usianya hampir setengah abad hanya diupah 75 ribu rupiah untuk cangkul-cangkul sawahnya orang ini. 

"Koyok koran aja loe Kun, isinya kalo enggak kecelakaan, kriminal,  korupsi. Capek deh," serobot Sukir. 

Sadikun tersenyum. Sambil berkata, "Nah itu tuh contoh tepat bahwa klakson dan spion hidup tidak digunakan, " jawabnya kalem. 

Bujang lapuk yang naksir berat Ceu Imas tapi selalu ditolak ini,  melanjutkan. Kejahatan apapun kalau klaksonnya dipakai,  pasti tidak akan terjadi. Misalnya korupsi. Sebelum orang berniat nguntit tuh duit rahayat,  si klakson sudah berbunyi. Memberi peringatan,  memberi tanda bahwa niat korupsi jangan dilakukan. Tapi,  karena tuh klakson tidak dirawat,  jadinya rusak. Kalau bunyi pun kayak kentut tak bersuara. 

"Maka jadilah tuh tindakan korupsi. Padahal nih ya,  kalau si klakson ini berfungsi baik. Maka baru niat saja,  orang itu sudah kena bising tuh suara klakson. Ujung-ujungnya kepalanya akan mengangguk dan membenarkan peringatan dari si klakson," ucap Sadikun sok pinter dihadapan ceu Imas yang ikut mendengarkan khotbah pagi tidak tepat ini. 

Anggukan. Manusia itu dikaruniai sebuah gerak universal berupa anggukan kebenaran. Saat klakson bertot tot tet tet atau tolelot memberi tanda bahaya di depan hidung, maka sang otak akan menerima dan mengolah tanda itu. Sehingga lahirlah anggukan. 

Tapi,  bagi yang bebal,  bising klakson ini malah menjadi gangguan. Walau otak membenarkan adanya bahaya,  tapi ditabrak saja. Sang klakson pun dibiarkan berkarat,  tidak berfungsi dan akhirnya rusak. 

Sefungsi dengan spion yang juga wajib difungsikan. Walau hanya untuk melihat sesuatu yang sudah di belakang hidup kita. Bayangkan,  hidup tanpa memiliki spion. Dlujur terus tanpa rem,  maju ke depan dan tidak tolah-toleh. Tabrakan kan? 

"Maka sesekali kita wajib melihat ke belakang. Alatnya ya spion, apalagi untuk yang suka balapan dalam hidup. Lewat nih spion,  kita akan lebih waspada dan tentunya lebih bisa bersyukur," ujar Sadikun yang terus berbicara. 

"Kebanyakan lihat spion juga bahaya,  karena hidup terus maju ke depan. Betul tidak kawan-kawan?  " tanya Sadikun yang dijawab kompak tulllll... 

"G move on, move on ya kang kalo lihat kaca spion terus," goda Sukro terkekeh sambil melirik ceu Imas. 

"Jatuh di lubang dan kubangan yang sama ya Kun,  kalau abaikan klakson dan kelamaan lihat spion? " goda Sukir yang membuat merah wajah Sadikun,  saat bola mata ceu imas melihatnya. 

"Agar klakson dan spion berfungsi baik,  harus gimana dong kang," tanya ceu Imas memecah kemaluan Sadikun yang secara tangkas langsung menjawabnya. 

Dirawat,  dilap setiap hari sehingga kotoran tidak menghuni dan menebal. "Klakson itu ibarat hati. Kalau dirawat dengan baik dan benar pasti berfungsi maksimal. Spion juga ceu, agar tetap jernih harus dirawat. Ya seperti cinta gitu lo ceu.. " ucap Sadikun yang disambut tawa teman-temannya. 

"Eh kang karena ngomongin klakson dan spion,  aku jadi ingat peer anakku. Kamu ngerti enggak sejarahnya dua benda itu. Ini klakson dan spion beneran lo ya,  bukan amsal-amsalan," ucap Sukro. 

Mendapat umpan bagus,  Sadikun kembali bersemangat. Itung-itung nambah point untuk ceu imas yang ditaksirkan. Agar kagum lah minimal, ucap hatinya.  

Asal kata klakson berasal dari bahasa yunani kuno yaitu klazo yang artinya menjerit. Di sebagian besar negara dalam bahasa sehari-hari mereka menyebutnya car horn. Di Romania dan Belgia mereka menyebutnya claxon, lalu di Perancis mereka menyebut klakson dengan ejaan klaxon. 

Miller Reese Hutchison yang menemukan klakson dan diterapkan di tahun 1908. Pertama kali klakson ini dipasang pada mobil pribadi yang arus listriknya berasal dari baterai sel kering berkekuatan 6 volt.  Pada tahun 1911 arus listrik untuk membunyikan klakson menggunakan baterai yang bisa diisi ulang. Terus berkembang dan berkembang,  akhirnya klakson seperti sekarang ini. 

Untuk sejarah spion juga unik ini. Konon awal tahun 1900, yang namanya balapan mobil, pembalap pasti didampingi seorang mekanik. Tugasnya untuk memperbaiki mobil kalau rusak sewaktu balapan. Tapi,  semakin lama mobil semakin canggih. Tapi tetap si mekanik dalam setiap balapan disamping pembalap. Yang membedakan adalah fungsinya menjadi seorang pengamat yang membantu pengemudi. 

Jadi mekanik ini kemudian bertugas mengamati keadaan di belakang mobil mereka, supaya pengemudi bisa tahu kalau ada mobil peserta lain yang akan “menyalip” mereka. 11 tahun kemudian,  akhirnya spion diperkenalkan salah seorang pembalap. Alasannya saat itu karena dia kesulitan mencari mekanik sekaligus pengamat. 

"Akhirnya dia memasang cermin di mobilnya. Dengan memakai cermin ini dia bisa melihat kalau ada peserta balap lainnya yang akan mendahului atau nyalip. Hasilnya dia jadi juara karena beban mobil jadi ringan dan dia bisa teyap melihat mobil lawannya di belakang," terang Sadikun yang celingukan mencari ceu imas yang ternyata tidak dilihatnya lagi. 

"Ceu Imas pulang dulu ke rumahnya ada yang ketinggalan kang. Akang sih semangat sekali bicara jadi tidak berfungsi tuh klakson dan spionnya," kekeh Sukro. 

*Penikmat kopi lokal gratisan


Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top