Kota Malang Punya Pasar Topeng, Intip Harganya

Para perajin tengah membuat topeng karakter Panji di Pasar Topeng Kampung Budaya Polowijen Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Para perajin tengah membuat topeng karakter Panji di Pasar Topeng Kampung Budaya Polowijen Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Kota Malang resmi memiliki pasar topeng, yakni pasar yang menyediakan berbagai jenis topeng tradisi Malangan. Lokasinya di Kampung Budaya Polowijen, Kecamatan Blimbing. Selain topeng-topeng asli buatan perajin senior dari berbagai penjuru Malang Raya, pengunjung juga bisa membeli aksesori untuk oleh-oleh ataupun cinderamata.

Kios-kios pasar tersebut merupakan rumah-rumah warga Jalan Cakalang, RT3/RW2 Kelurahan Polowijen yang sudah dipercantik dengan hiasan gedek atau anyaman bambu menyerupai pondok di perdesaan. Harga barang yang dijual pun dibanderol beragam. Untuk topeng asli karya perajin, harganya mulai Rp 500 ribu. Semakin baik kualitas kayu, semakin rumit ukiran dan juga kualitas cat yang digunakan, harganya semakin mahal. Topeng tersebut, bisa dipakai untuk menari maupun hiasan rumah.

Bagi pengunjung yang sekadar mencari pernak-pernik, bisa membeli topeng-topeng mini yang harganya dipatok mulai Rp 15 ribu. Ada yang berbentuk gantungan kunci, hiasan meja, magnet lemari es, dan lain-lain. Selain itu, berbagai kebutuhan penari topeng juga bisa dibeli di pasar tersebut. Termasuk juga pakaian-pakaian tradisional seperti baju surjan, blangkon, udeng, dan sebagainya.

Inisiator pasar topeng sekaligus penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi, mengungkapkan pembuatan pasar tersebut melibatkan warga setempat dan perajin topeng se Malang Raya. "Di Malang Raya ini ada sekitar 20 perajin topeng yang masih aktif. Yakni di Pakisaji ada lima perajin, di Jabung dan Tumpang ada sekitar tujuh orang, di Polowijen ini ada empat orang, dan beberapa yang tersebar," urainya.

Menurut Isa, selama ini para perajin lebih banyak memenuhi kebutuhan topeng untuk penari berupa topeng dari kayu. Ke depan, juga akan dikembangkan topeng-topeng dari bahan seperti gypsum atau yang lain untuk kebutuhan suvenir. "Dibikin pasar di sini agar lebih terjangkau oleh pembeli. Jadi wisatawan yang di kota atau ke Batu tidak perlu terlalu jauh ke Jabung atau Pakisaji. Mereka bisa membeli produk perajin di sini," urainya. 

Pasar topeng itu secara resmi dibuka oleh Plt Wali Kota Malang Sutiaji, Senin (30/7/2018) malam. Dalam sambutannya, Sutiaji mengungkapkan bahwa menguri-uri atau merawat budaya merupakan tanggung jawab bersama sebagai wujud apresiasi pada peradaban yang ada.

Sutiaji mengatakan bahwa budaya Malangan sudah hadir dan menyatu dengan kehidupan masyarakat sehari-hari di Kampung Budaya Polowijen. "Kampung-kampung tematik yang hadir di Kota Malang adalah murni hasil karya dan kreativitas masyarakat sekitar tanpa ada campur tangan dari pemerintah. Pemerintah hanya memfasilitasi ide-ide dari masyarakat," ujar Sutiaji.

Dia berharap, Kampung Budaya Polowijen mampu menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang memberikan alternatif tujuan wisata bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang. "Apresiasi positif juga akan selalu kami berikan pada penggagas dan masyarakat sekitar atas terbentuknya kampung ini. Harapannya kampung ini juga dapat memberikan multiflier efek bagi masyarakat Polowijen," tandasnya. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top