Kampung Budaya di Malang ini Mampu Bikin Mahasiswa Cantik Asal Vietnam Ingat Tradisi Negaranya

Mahasiswi cantik asal Vietnam, Le Nguyen Thu Trang tampak menikmati kunjungannya di Kampung Budaya Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Mahasiswi cantik asal Vietnam, Le Nguyen Thu Trang tampak menikmati kunjungannya di Kampung Budaya Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Mahasiswi cantik asal Vietnam, Le Nguyen Thu Trang tampak menikmati kunjungannya di Kampung Budaya Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Hari ini (30/7/2018) dia bersama puluhan mahasiswa dari 20 negara belajar terkait tradisi topeng dan batik Malangan di sana.

Thu Trang tampak antusias saat mendengar penjelasan terkait sejarah topeng Malangan yang disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni dan penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi atau akrab disapa Ki Demang. Di sela kegiatan, dia tampak berfoto di berbagai sudut kampung.

Menurut mahasiswi yang tengah mengikuti kegiatan Design Thinking Camp 2018 itu, aktivitas mewarnai topeng mengingatkan akan tradisi negaranya. "Setiap tahun di Vietnam ada Festival Topeng Kertas Musim Gugur di halaman Kuil Van Mieu Quoc Tu Giam. Tapi di sana pakai gambar kucing dan hewan-hewan, bukan yang seperti di sini," ujarnya menggunakan bahasa Inggris.

Dia menilai, kegiatan di Kampung Budaya Polowijen itu juga sangat menyenangkan. Terlebih pemandangan sawah-sawah yang masih hijau membuatnya betah. "Sangat indah, budayanya indah dan pemandangannya cantik," urainya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Konsorsium Kantor Urusan Internasional (KKUI) Malang memiliki cara tersendiri mengenalkan budaya Malang Raya. Yakni dengan menyelenggarakan acara Design Thinking Camp 2018 yang diikuti 90 mahasiswa dari 20 negara.

Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa asing bakal tinggal di rumah-rumah penduduk perdesaan. Selain dari Indonesia dan Vietnam, mahasiswa asing yang ikut di antaranya dari Rumania, Madagaskar, Ukraina, Polandia, Jepang, Libya, Laos, Malaysia, Ghambia, Korea, India, Sudan dan lain-lain.

Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni mengungkapkan, kedatangan mahasiswa asing tersebut merupakan salah satu sarana promosi wisata yang efektif. "Kami harap nanti jika mereka terkesan dengan budaya Malang, mereka akan menceritakan pada rekan-rekannya untuk berlibur di Kota Malang. Sekaligus agar budaya topeng Malangan ini juga semakin dikenal luas," ungkapnya.

Sementara itu, penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi mengatakan bahwa mahasiswa asing yang datang diarahkan untuk ikut berkegiatan belajar membatik motif topeng Malang dan membuat sovenir kerajian topeng kayu. "Nantinya hasil kerajinan itu akan dibawa pulang oleh mahasiswa sebagai cinderamata. Sudah barang tentu ini merupakan kegiatan wisata budaya yang sangat alami yang berada di tengah-tengah masyarakat Polowijen," ujarnya.

Besarnya potensi budaya yang berada di Polowijen sebagai tempat kelahiran Ken Dedes yang melahirkan raja raja besar di Jawa dan tempat lahir dan makamnya sang Empu Topeng Malang Buyut Reni. "Maka, kesempatan ini akan dijadikan sebagai wahana sinau situs budaya Polowijen. Selain itu mereka diajak belajar gerakan menari topeng secara kolosal bersama warga dan para partisipan penari dari berbagai wilayah Malang Raya," tuturnya.

 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top