Berselancar Dipualam Tubuhmu

Jul 29, 2018 09:00
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

*dd nana

1)

Awalnya hanya satu, sebelum tubuh dibelah. Tepat di ujung jenuh yang membuat warna dan benda-benda pucat, gemetaran. Pernah terbersit untuk mengakhiri lakon sunyi ini. Dan tergoda menjadi abadi. Tapi tuhan lebih memahami segala yang tersembunyi begitu pekat. Diambilnya kapak. Sempurna.

Awalnya hanya satu dan menepi pada dua. Pesisir putih yang lebih menggoda daripada menjadi abadi. Yang membuat para yang abadi pun tergoda. “kenapa aku tidak dicipta dua untuk berpasangan saja, tuhan?”.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Pada dua yang berbeda. Kami menjadi lebih lincah. Mengunyah benda-benda yang disembunyikan cerita. Mentertawakan petaka. Karena luka belum dicipta. Eureka, eureka, eureka. Kami bernyanyi dalam telanjang. Berselancar pada setiap lekuk tubuh dan debur jantung paling selatan. Pada dua yang berbeda dan saling mengunci. Kami lupa ada para abadi yang menatap cemburu.

“Bukankah sudah kami sampaikan, mereka akan menjadi petaka berkepanjangan di lembar cerita.”

“Ijinkan saja aku yang melunaskan ciptaan itu untuk menjadi kerak-kerak yang paling bergejolak.”

Kami tertawa. Setelah lupa yang entah diciptakan dari makhluk apa hidup dalam kepala. Merambat serupa batang-batang sulur ke kepala paling rendah dan terlarang. Dan tentunya disembunyikan dalam cerita. 

Kami sudah dibelah dan menjadi tokoh cerita. Kami telah mulai membaca. Maka, kami terima segala apa yang harus kami jalani ini. Mari, sayang, kita pindah untuk berselancar lebih lincah. Di ruang yang dinamakan dunia.

Tubuh pualam yang lama disiapkan untuk kita. Sebagai ruang bermain ruang membiakan tubuh yang awalnya satu dan dibelah dua. Mari, sayang, kita selami setiap lekuk yang paling rahasia di tubuh ini. Agar kelak, saat kita kembali, memahami bahasa para abadi.

“Kenali dirimu sebelum kau berhasrat mengenal tuhanmu.”.

2)

Karena tubuh adalah kitab 

jangan salahkan mata ini terus menyusurinya

sampai pada ngarai paling tak terjamah iblis.

Sampai pada titik dimana kita mampu membaca

aksara setelah “ya”.

Semoga waktu memberi kemurahan pada kita, para pencari aksara yang tidak puas 

dibatasi titik dalam setiap cerita.

3)

Nikahi saja aku

agar kau sampai pada tepi aksara yang ingin kau baca

sehingga debur gelombang menjadi tunggangan yang akan mengantar

kita ke tepi yang dinamakan pulang.

4)

Karena kepuasan tubuh hanya sesaat, maka sekali lagi belah dadamu. Berselancarlah di riak-riak deburnya. Kalau kau perlu tubuhku, pakailah. Agar kau semakin mengetahui bahwa penyatuan bukan sekedar membiakkan hasrat. “Bukankah  kau rindu pada rumah awalmu. Dimana petaka, luka, cerita tidak hadir dalam cerita ini.”

Aku mengecupmu dengan kesedihan seekor ular yang dinistakan cerita.

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru