Sepasang Kekasih yang Ingin Bercinta di Angkasa

Jul 28, 2018 08:30
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

* dd nana

(Pertama)

Kami yang sepasang dan tentunya berbeda kelamin hanya ingin tenang

dari segala kebawelan hidup yang kami percayai hanya satu kali

di dunia. Sungguh, kami yang sepasang, tidak pernah muluk-muluk berpikir

nanti akan ada kehidupan lainnya. Entah di surga atau neraka.

Kami hanya ingin tenang, tuan dan puan, di ruang kecil ini

terutama saat kami sedang ingin bercinta.

Tenang dari gedoran debt-collector, miau sepasang kucing yang birahi, atau 

keisengan otak yang kerap mempertanyakan, “besok apa yang akan kita makan? Beras habis, gas tidak mendesis. Segaris tempe bosok pun tak ada di dapur,”.

Sungguh, kami hanya ingin tenang, walau saat sekedar sedang bercinta.

(Kedua)

Sejak kami saling bertukar ludah dan bersilat lidah 

Saat sepi bertamu di kamar berwarna ungu

kami mulai memahami sejatinya tubuh yang kita seret sepanjang nafas

berhembus.

“Jadilah satu. Menyatu. Tanpa menyaru apa saja yang pernah kau tahu.”

Saat itu panas tubuh yang menyatu satu bisa mencumbu gigilmu

Merekatkan luka-luka yang kau sembunyikan di terik siang.

“manunggal, manunggal, manunggal,”.

Lewat bercinta kami raih serpih pengetahuan paling purba itu.

“Sayangnya, kita tidak di taman atau di luar angkasa yang tenang, sayang”.

(Ketiga)

Aku coretkan pensil buntung di atas kertas

jelma bulatan dengan arsiran tipis dan tebal.

Inilah ranjang pengantin kita, sayang.

Tenang dan tidak akan ada satu pun suara, selain kita

Yang mengirimkan doa-doa purba yang tidak dicatat dalam alkitab.

“Kita bukan pendosa. Maka tak didetailkan sekarat paling kejal dalam kitab-kitab.”

Kita hanya sepasang yang bercita-cita bercinta di angkasa.

“Apakah angkasa berupa lingkaran?” tanyamu yang menyembunyikan desah di dada ku

Ketukan suara yang aku tahu bukan dari seorang saudara, menjegal jawabku.

“waktu mu habis. Silahkan perpanjang atau bawa ekormu yang menjijikan dari kamar ini,”.

(Keempat)

Sempat aku merapat pada sunyi

yang aku bayangkan ruang tenang serupa angkasa 

ternyata tubuh sunyi lebih pikuk dari jalanan yang dipenuhi berbagai kendaraan.

Ah, angkasa ternyata hanya angan-angan

Walau aku kerap menikmatinya sesaat di tubuhmu

Yang terkapar di sisi tubuh ku.

“Tubuhmu angkasa kah, sayang?” seperti itulah tanya yang ingin aku sampaikan

Tapi cerita kerap kali tidak ingin ditebak sedemikian mudah.

Suara handphone mu membawamu kembali pulang.

(Kelima)

Padahal, kami hanya ingin tenang, walau sekedar saat bercinta

yang bisa didapatkan. Sayang, hidup  serupa cerita yang kerap tidak ingin dikenal saat

kaki menginjak alas pintu pertama.

Serupa teka-teki yang terlihat tenang, tapi membuat kepala kita pening.

Padahal kita hanya ingin tenang, walau sekedar saat bercinta.

Dan, kami masih setia berencana terbang ke angkasa dengan tubuh yang semakin merunduk

Ini.

 

Topik
ruang sastra

Berita Lainnya

Berita

Terbaru