Siang Terik di Candi Kidal, Burung Garudeya Terbang dengan Sayap Cantiknya

Salah satu adegan drama tari wayang topeng Wiruncono Padepokan Seni Mangundarmo dengan lakon Garudeya. (Pipit Anggraeni)
Salah satu adegan drama tari wayang topeng Wiruncono Padepokan Seni Mangundarmo dengan lakon Garudeya. (Pipit Anggraeni)

Matahari sedang terik-teriknya. Dan panas pun menghajat di atas kepala. Saat itu, terjadi kerumunan di area utama Candi Kidal yang terletak di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Tiba-tiba, tepat setelah azan zuhur dikumandangkan, musik gamelan dan suara khas Ki Soleh Adi Pramono pun menyapa para pengunjung Candi Kidal pada Kamis (26/7/2018) siang. Kerumunan bertambah banyak begitu satu per satu penari muncul dari balik keindahan Candi Kidal.

Tanpa alas kaki, para muda mudi itu menampilkan suguhan cantik dan berkelas. Selama 45 menit, mereka pun menunjukkan aksi drama berlatar belakang relief Candi Kidal lengkap dengan bahasa Jawa yang kental.

Para wisatawan mulai maju untuk mengobati rasa penasaran mereka atas pertunjukan itu. Sementara sang penari tetap luwes dan menunaikan setiap gerakan yang lembut hingga pertunjukan ekstrem layaknya perkelahian.

Drama tari wayang topeng Wiruncono Padepokan Seni Mangundarmo dengan lakon Garudeya itu sengaja disuguhkan dalam helatan Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk yang turut dihadiri Bupati Malamg Dr H Rendra Kresna.

Drama tari wayang tersebut melibatkan sekitar 30 seniman tari. Mereka menyuguhkan cerita tentang perjuangan Garudeya, putera dari Bhagawan Kasyapa dan Dewi Winata. 

Dikisahkan, Bhagawan Kasyapa memiliki delapan istri. Dua di antaranya adalah Dewi Winata dan Dewi Kadru yang sering terlibat persaingan. Hingga suatu hari, keduanya melakukan taruhan terkait warna ekor kuda Uchaisrawa yang akan keluar dari samudera.

Dewi Winata percaya jika warna ekor tersebut akan berwarna putih. Sedangkan Dewi Kadru bertaruh dengan warna hitam. Namun pada akhirnya, warna ekor kuda Uchaisrawa itu adalah putih dan Dewi Kadru dibantu anaknya yang berwujud ular terkait kondisi tersebut.

"Dan anak Dewi Kadru lain yang berwujud naga membantunya menutup ekor tersebut dengan semburan api. Sehingga ekornya gosong dan berubah warna menjadi hitam," kata budayawan sekaligus dalang drama tari wayang topeng Wiruncono Padepokan Seni Mangundarmo dengan lakon Garudeya, Ki Soleh Adi Pramono, kepada MalangTIMES usai pertunjukan berlangsung.

Karena kecurangan itu, Dewi Winata pun dijadikan budak oleh Dewi Kadru untuk melayani anak-anaknya. Hingga suatu saat, putra Dewi Winata, yaitu Garudeya, mencari keberadaan sang ibunda dan terlibat pertengkaran hebat dengan saudara tirinya yang berbentuk naga.

Untuk membebaskan sang ibu, Garudeya pun diminta membawakan Tirta Amerta, yaitu air keabadian milik dewa yang membuat kekal dan tidak sakit. Garudeya pun menyetujui permintaan itu dan menuju kahyangan.

Di kahyangan, Garudeya bertemu dengan Dewa Wisnu. Sang dewa pun meminta agar Garudeya bertarung dan mengalahkan dua naga yang menjaga Tirta Amerta miliknya. Dua naga tersebut berhasil dikalahkan.

"Dewa Wisnu melihat kesungguhan Garudeya untuk menyelamatkan sang ibunda. Akhirnya, Tirta Amerta diberikan denhan syarat Garudeya menjadi tunggangan dari Dewa Wisnu," jelasnya.

Setelah berhasil mendapat Tirta Amerta, Dewi Winata pun berhasil dibebaskan. Sedangkan para naga dan ular bertaubat dan menghilangkan segala sisi buruknya. Sementara Garudeya menjadi tunggangan Dewa Wisnu.

Drama pertunjukan yang disuguhkan itu pun berlangsung sangat ciamik. Para penari berhasil membawa suasana ke dalam alur cerita. (*) 

Editor : Yunan Helmy
Publisher :
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top