Pasca relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Kota Batu yang berlangsung pada Senin (23/7/2018) rupanya tidak membuat semua paguyuban berjualan. Bahkan ada protes yang dilayangkan pada PKL terkait menutupi toko di area jl Kartini.

“Sempat ada protes, karena kami menutupi warung-warung seperti toko klontong, bakso, pos ketan, dan sebagainya,” ungkap Ketua Paguyuban Pelaku Niaga Sipil (PNS) Kota Batu Puspita Herdysari, Selasa (24/7/2018).

Ia menjelaskan bahwa ada protes dari pemilik warung seperti bakso, pos ketan, dan toko kelontong karena menutupi lapaknya. Lalu peletakkan penataan PKL yang dirasa semakin membuat terlihat ruwet.

“Selain mendapat protes dari toko-toko itu, penataan ini malah terlihat semakin ruwet. Dan ini semua penataan dari Dinas Koperasi Unit Mikro dan Perdagangan,” imbuhnya kepada BatuTIMES.

Selain menui protes, dari paguyuban PNS sebanyak 86 PKL tidak semuanya mendapatkan tempat. Sejumlah 30 PKL aksesoris terpaksa tidak mendapatkan lahannya.

“Lahannya gak cukup. Lalu ini 30 PKL yang jualan aksesoris terpaksa gak jualan mereka. Karena kami punya rasa solidaritas gak jadi jualan,” jelas perempuan yang akrab disapa Pipit ini.

Ya pada Senin malam, mereka tidur bersama di area Alun-Alun Kota Batu untuk memecahkan masalah ini. Sambil menunggu bedak mereka karena belum tahu keamanannya.

“Sebagai rasa solidaritas kami, karena ada yang gak dapat lahan kita sama-sama gak jualan. Sampai akhirnya nanti solusi terpecahkan,” ujarnya. 

Dengan demikian mereka tidak rela tidak berjualan selama 9 hari. “Selama 9 hari gak dapet penghasilan dan tidak melapak. Karena itu kami meminta Pemkot memberikan solusi penataan ini,” tutupnya.