Ilustrasi bencana tanah longsor yang dari tahun ke tahun mendominasi jenis bencana alam di Kabupaten Malang. (Ist)

Ilustrasi bencana tanah longsor yang dari tahun ke tahun mendominasi jenis bencana alam di Kabupaten Malang. (Ist)



Bencana alam yang melanda wilayah Kabupaten Malang selama satu semester,  yaitu di bulan Januari-Juni 2018, didominasi tanah longsor. Tercatat, dalam periode tersebut, bencana tanah longsor mencapai 23 kasus yang melanda wilayah Poncokusumo, Ampelgading, Pujon,  Wajak,  Singosari,  Bantur dan beberapa wilayah lainnya. 

Tanah longsor terjadi hampir merata di berbagai wilayah Kabupaten Malang yang secara topografi merupakan wilayah perbukitan dan pegunungan. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang  Bambang Istiawan yang menyatakan,  di pertengahan tahun ini tanah longsor terjadi hampir merata dan mendominasi. 

"Walau tidak menimbulkan korban jiwa,  bencana tanah longsor mendominasi dan menimbulkan berbagai kerusakan fasum (fasilitas umum) serta perumahan warga," kata Bambang,  Selasa (24/7/2018). 

Beberapa fasum yang rusak,  misalnya, pelengsengan atau tembok penahan tanah (TPT) ambrol,  jembatan rusak,  maupun akses jalan yang tertutup. Sedangkan perumahan milik warga yang rusak sejumlah 11 unit. Sedangkan untuk korbam luka ringan hanya menimpa 2 warga yang berasal dari Desa Petungsewu,  Kecamatan Wagir. 

Bambang juga menyampaikan,  faktor penyebab tanah longsor dikarenakan hujan lebat dengan intensitas yang lama di berbagai wilayah tersebut. "Selain tentunya karena kondisi tanah yang tidak terikat akar pepohonan keras. Sehingga mudah tergerus air hujan dan mengakibatkan longsor," ujarnya. 

Untuk jenis bencana alam kedua terbanyak adalah angin kencang dan puting beliung dengan jumlah 13 kasus. Dengan kerugian yang diderita berupa tumbangnya berbagai jenis pohon sebanyak 13. Sedangkan kerusakan rumah warga mencapai 52 unit dengan berbagai skala kerusakan. Dari ringan sampai berat. 

Bencana angin kencang dan puting beliung terparah terjadi di wilayah desa Pakisjajar,  Kecamatan Pakis. Dengan kerusakan 18 unit rumah serta satu peternakan kandang ayam. Di wilayah Desa Sumbersuko,  Kecamatan Tajinan,  bencana ini juga mengakibatkan kerusakan 12 unit rumah dan rusaknya tanaman tebu serta pohon sengon. 

"Untuk banjir hanya terjadi 3 kasus saja,  yaitu di Ngantang, Karangploso dan Kepanjen. Kerusakannya dua unit jembatan dengan kondisi satu runtuh dan lainnya tergerus air," ujar mantan Kasatpol PP. 

Bambang juga menjelaskan trend bencana tanah longsor sejak tahun 2017 lalu sampai sekarang masih menjadi hantu bagi masyarakat Kabupaten Malang. Di sepanjang tahun 2017, tanah longsor mencapai jumlah 32 kasus. "Sedangkan sampai pertengahan tahun ini sudah 23 kasus. Semoga sampai akhir tahun tidak ada lagi bencana longsor," harapnya. 

Begitu pula dengan angin kencang dan puting beliung serta banjir. Secara jumlah dari tahun lalu sampai saat ini masih sama peringkatnya. 

"Hanya banjir yang mungkin menurun tahun ini. Tahun lalu sampai 9 kejadian,  saat ini baru 3 kasus. Kita berharap bencana alam tidak terus terjadi," pungkas Bambang. (*)

 

 

End of content

No more pages to load