Orkes Malam

Jul 22, 2018 08:20
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

Orkes Malam

*dd nana

:oe

1)

Menepilah, puan

di dadaku yang menyimpan

kisah kanak-kanakmu yang riang dan tak mengenal luka

siang.

Percayalah, tubuhku masih batang kayu

jati yang dikeraskan kenangan. Menyangga tubuh lukamu

karena cahaya.

Bukankah kita yang sepasang dan ditakdirkan untuk menghalau

Cahaya itu, puan?

2)

Kau tersedu 

dipisahkan oleh ingatan dan terbakar cahaya siang

sedang tubuhku menanti dengan debur berkepanjangan.

Menggigil dan membatu serupa candi-candi yang ditinggalkan dan terkubur

dalam catatan-catatan.

Mungkin, cinta kita terlalu lancang, tulis seorang petualang

yang menggoreskan kalimat tersebut di tubuhku yang pernah kau jadikan

Rumah.

3)

Serupa gelombang radio

rindu yang tidak menemukan ruang

akhirnya hanya menyisakan gemerisik bisik.

Serupa bimbang, serupa doa yang lupa ditujukan ke siapa

dan akan kemana bermuara.

Matikan saja, cari gelombang yang tidak sumbang, 

Sebuah suara menghardikku. Sebelum malam memberiku ruang pasi.

Hanya kepak angin yang lemah yang kini aku dengar.

4)

Tubuh pasti menua

layu serupa cabai yang dibiarkan terbuka

tapi rindu menguat sedemikian rupa

Rupa-rupa ingatan membuat matanya terus bercahaya.

Menujumu yang bersembunyi di cahaya yang

membutakan peta tubuhmu.

Tapi wangi itu masih saja aku cium

Dalam ketuaan usia.

5)

Pada titik dia tidak ingin berhenti

karena tepi bukanlah akhir 

sebelum pelukan kembali menenggelamkan luka

sebelum cahaya kembali keriput, mengusut dan perlahan hilang

Seperti dulu, seperti dulu.

6)

Nikahi aku

sebelum cahaya membawaku pulang

dan kita akhirnya saling merengkuh tubuh

tenggelam dalam isak berkepanjangan.

Dalam diam, dalam cahaya remang-remang.

Di luar malam mulai beringsut pulang.

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru