Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Imbas Maraknya Online Shopping, Pedagang Toko Buku Wilis Mengeluh Sepi Pembeli

Penulis : Riski Wijaya - Editor : Dede Nana

13 - Sep - 2023, 15:16

Daliyah (74), salah satu pedagang di Toko Buku Wilis mengaku pembeli semakin sepi tergerus teknologi.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).
Daliyah (74), salah satu pedagang di Toko Buku Wilis mengaku pembeli semakin sepi tergerus teknologi.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Sejumlah pemilik kios di Kawasan Toko Buku Wilis mengaku bahwa pengunjung semakin sepi. Bahkan, hal tersebut juga mempengaruhi pada perolehan omzet yang didapat per hari atau bulan. 

Salah satunya diakui oleh pemilik kios, Daliyah (74). Daliyah mengaku bahwa saat ini banyak pembeli yang beralih untuk melakukan transaksi secara online. Hal itu yang menurutnya membuat jualannya menjadi sepi. 

Baca Juga : Sinergi dengan BPJS Ketenagakerjaan, Anggota DPR RI Yahya Zaini Lindungi Petani dan Pedagang di Nganjuk

"Sekarang kan banyak yang menjual buku secara online. Jadi yang datang ke toko buku (Wilis) semakin sepi," ujar Daliyah kepada JatimTIMES, Rabu (13/9/2023) siang. 

Omzetnya pun turun cukup drastis. Beberapa tahun lalu, terutama jauh sebelum pandemi omzet yang ia dapat per hari bisa mencapai Rp 3 juta. Salah satu moment yang menjadi andalan adalah saat tahun ajaran baru siswa. 

"Kalau sekarang, saya catat itu pernah satu hari dapat (omzet) Rp 500 ribu, tapi hanya sekali. Kalau sehari-hari, diantara Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu. Yang penting cukup untuk belanja harian," terang Daliyah. 

Perubahan zaman dengan pertumbuhan teknologinya, terpaksa harus ia hadapi sebagai tantangan. Untuk beradu dengan tetap berjualan secara konvensional pun juga cukup kesulitan. Sebab, alih-alih datang ke toko buku, ternyata tak sedikit pengunjung yang hanya membandingkan harga.

"Kami tahunya memang karena marah pembelian dari online. Sering itu mahasiswa datang, cari-cari buku, tanya harga, ternyata hanya membandingkan dengan yang dijual secara online. Ya gak jadi beli, karena di online lebih murah," jelas Daliyah. 

Dirinya pun tak dapat berbuat banyak. Terlebih untuk mencoba mencari peruntungan melalui online shoping, dirinya mengaku tak sanggup mengikuti pertumbuhan teknologi, alias gagap teknologi (gaptek). 

"Ya karena enggak terlalu bisa main handphone. Katanya kan kalau satu transaksi itu bisa sampai ada beberapa buku yang dibeli," imbuh Daliyah. 

Suasana toko buku wilis.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

Buku-buku yang menurutnya dulu sempat laris, kini pun hanya bertumpuk dan berjajar rapi. Seperti buku sekolah, buku mata pelajaran hingga buku tentang pengetahuan umum. 

"Dulu ini kan ada Atlas, Kamus ini yang laris, sekarang juga semakin sepi," jelas Daliyah sembari merapikan sejumlah buku yang dijual. 

Hal serupa jug disampaikan oleh Ketua Paguyuban Pedahang Toko Buku Wilis, Muharto (44). Menurutnya, para pemilik kios di Toko Buku Wilis harus beradu dengan perkembangan zaman dengan teknologinya yang terus berkembang. 

Baca Juga : Mengenal Wadi, Cara Pengawetan Ikan ala Suku Dayak dan Banjar yang Bisa Tahan hingga Setahun

"Kita berusaha mengikuti arus zaman. Tapi nyatanya, ada SDM (sumber daya manusia) yang mampu dan ada yang tidak," jelas Muharto. 

Dirinya pun mengaku bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) menawarkan sebuah pelatihan. Namun lagi-lagi hal itu harus terbentur sebagian SDM yang terbatas. 

"Jadi tidak bisa mengakomodir semua pedagang. Kalau (pelatihan) sendiri-sendiri ya mau saja, tapi belum tentu bagaimana teman-teman pedagang yang lain," terang Muharto. 

Dirinya pun juga mengaku pengahsilannya dalam berdagang buku menurun cukup drastis, yakni hingga 80 persen. Hal itu setidaknya juga dirasakan saat pandemi Covid-19 terjadi. Terlebih saat sistem pembelajaran dilakukan secara dalam jaringan (daring). 

"Sepertinya mungkin minat baca buku yang juga berkurang. Karena sekarang kalau secara online juga ada seperti pdf, atau e-book yang mungkin banyak diminati untuk dibaca," jelas Muharto. 


Topik

Peristiwa online shopping toko buku wilis pedagang toko wilis


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Riski Wijaya

Editor

Dede Nana