Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Sejarah Teko Blirik: Gelas Loreng Hijau Simbol Perjuangan Petani

Penulis : Mutmainah J - Editor : Dede Nana

01 - Sep - 2023, 06:45

Teko blirik. (Foto dari internet)
Teko blirik. (Foto dari internet)

JATIMTIMES - Masih ingat dengan Teko Belirik? Atau gelas dengan motif loreng hijau? Yap, biasanya, teko-teko seperti itu kerap digunakan para petani untuk menikmati secangkir kopi di ladang. 

Namun, tahukah kamu jika keberadaan teko dan gelas berloreng hijau putih yang diberi nama teko blirik ini memiliki sejarah yang sangat panjang di Indonesia. Dimulai dari sebuah simbol ‘’kejayaan’’ kolonialisme Hindia Belanda, lalu menjadi bentuk perlawanan petani. Sampai kini justru menjadi ikon dan barang antik yang mulai jarang ditemui.

Baca Juga : Kecewa Ditinggal, Konten Bergambar Anies-AHY di Malang akan Diturunkan 

Dilansir dari akun Tiktok @goodnewsfromindonesia, teko blirik diperkirakan sudah ada sekitar 1830. Pengunaannya di Indonesia dimulai setelah perang Diponegoro yang terjadi pada 1830. Teko yang memiliki ciri khas lurik-lurik (blirik berwana hijau putih) pada saat itu banyak digunakan oleh kalangan perkebunan utamanya kalangan buruh.

Agen teko blirik yang membawa teko itu ke Hindia Belanda pertama kali adalah seorang pedagang asal Belanda kelahiran Belgia bernama Jan Mooijen. Ia membuka agen penjualan teko blirik pada tahun 1845 ketika Belanda masih menjajah Indinesia.

Namun saat itu Belanda mulai kewalahan menghadapi peperangan hingga mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu dan berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan, pasukan kolonial Belanda mulai menyebarkan identitas kekuatannya di tanah Jawa.

Keberadaan teko dan gelas blirik ini menjadi salah satu identitas yang dibawa Belanda. Penjualan teko blirik mulai menyebar di Tanah Jawa. Banyak orang Belanda yang sengaja membeli teko ini untuk diberikan dan digunakan buruh petani.

Dulunya, teko blirik itu sengaja dijadikan identitas yang membedakan antara kaum kalangan bawah—yaitu buruh orang Nusantara—dengan kalangan atas atau bangsawan Belanda yang memiliki banyak buruh.

Identitas buruh yang dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda itu bertahan hingga 1908. Diketahui kala itu teko blirik juga dijadikan salah satu ikon dan identitas Hindia Belanda di Pasar Gambir. 

Tercatat Pasar Gambir memang jadi salah satu lokasi penyelenggaraan pasar malam pertama di Batavia. Pasar Gambir juga menjadi tempat pemerintah kolonial untuk memperingati penobatan Ratu Wilhemina, 1898.

Sejak saat itu, Pasar Gambir dijadikan pasar malam yang menyediakan berbagai wahana permainan dan kios-kios kecil tempat menjual jajanan, kerajinan tangan, dan yang utama adalah teko dan gelas blirik.

Baca Juga : Tips Menulis Caption Instagram yang Keren dan Unik 

 

Seiring berjalannya waktu, para buruh tani menyadari akan penindasan pemerintahan Belanda. Teko blirik akhirnya dijadikan simbol perjuangan para buruh tani. Penggunaan teko blirik tidak hanya ditemukan di kalangan buruh, melainkan orang-orang yang turut membela kaum buruh tani pun turut ikut menggunakan teko blirik.

Pada tahun 1921, seperti dicatat Soe Hok Gie dalam skripsi yang kemudian dicetak menjadi buku berjudul Di Bawah Lentera Merah, Semarang menjadi kota tolok ukur pergerakan politik Indonesia kala itu. Untuk membela perjualangan masyarakat, teko blirik dan topi caping menjadi simbol perjuangan petani, buruh, dan nelayan.

Sejak saat itu penggunaan teko blirik sudah meluas. Siapapun yang menggunakan teko blirik, itu artinya mereka turut membela dan menunjukkan keberpihakan serta kepedulian kepada masyarakat kaum buruh. Terlebih teko blirik juga memiliki kualitas yang bagus. Terbuat dari seng dan lapisan enamel, teko blirik terkenal awet dan tahan karat meskipun terkena panas.

Hingga 1960-an, keberadaan teko blirik masih menjadi primadona dan ikon yang kaya akan makna. Namun seiring dengan masuknya produk-produk murah berbahan plastik pada tahun 1990-an, keberadaan teko blirik sudah mulai jarang ditemui.

Meski sudah jarang ditemui, teko blirik bermotif lurik ini kini berubah fungsi menjadi pajangan yang estetik. Bahkan tak jarang ditemukan juga beberapa kafe kopi justru menyajikan kopinya menggunakan gelas blirik untuk memberi kesan unik dan estetik.


Topik

Serba Serbi teko blirik sejarah teko blirik gelas loreng hijau simbol perlawanan petani


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Dede Nana