Laut Kanak-Kanak Milik Kita

*dd nana

:Oe

1)

Konon, ada lautan dengan debur ombaknya yang tak akan pernah kau dengar atau kau baca di buku-buka yang dimakan usia. 

Mata hanyalah jembatan

Itu pun sebelum waktu merampasnya dengan gemulai. Dan menyisakan lubang kosong,  tanpa warna,  tanpa gelombang yang kau rakit dan kau namakan benda-benda. 

Dada. Ya dada, lemari yang menyimpan segumpal darah yang tak mengenal istirah itu pun akan bolong. Saat kau menyelam dalam riak waktu yang sebenarnya membuatmu muntah berulang-ulang. Menyimpan rindu yang kerap kau lirihkan, "sayang, ini terlarang." Dan kau berlari walau aku sempat menangkap alir air matamu. 

Air mata yang membawaku pada sebuah cerita kanak-kanak. Dimana aku bebas mencipta dan mencinta. 

 "Apa yang akan kau buat dalam usia kanakmu itu,  sayang," ucapmu yang masih aku simpan di saku kemeja putih ini. 

Membuat laut. Laut dengan debur yang tak akan pernah dilihat dan didengar oleh orang-orang yang mengaku dewasa. Laut kanak-kanak. Dimana hanya kita,  sayang, penghuninya. Dimana hanya kita yang mampu menyelam dalam debur yang tak akan pernah dikenali orang-orang. Bahkan cahaya pun tak mampu untuk menjamah debur laut kita. 

"Serupa adam hawa? Kenapa tak kau cipta sebuah taman tanpa seekor ular saja,  sayang, ". 

Mata dan dada kosong akan menjebak kita kepada sesuatu yang bolong. Lubang sepi yang tak ingin aku kembali. Pada laut kanak-kanak yang aku cipta, tak ada yang kosong,  sayang. 

Ingatlah pada debur yang aku ceritakan itu. Debur lautan paling biru yang khusyuk memasuki mata dan dada kita. Agar terisi alunan warna dan tidak diperbudak peristiwa. 

Percayalah,  aku tidak akan memparaskan debur laut kita dalam cerita atau pun lukisan. Karena kita sepakat segala yang sempurna begitu mudah terbakar. 

Maka,  jangan kau balikkan tubuhmu,  sayang. Laut semakin sempurna indahnya saat kita menghadapkan wajah ke garis sunyi dengan debur yang pecah pada tepi. 

Kau terdiam. Dengan mata yang aku lihat serupa jembatan. Mata orang-orang lelah untuk mencipta cerita cinta. Dengan dada yang degupnya bukan debur laut kanak-kanak yang aku cipta. 

"Mungkin,  tepi ku di taman. Bukan di laut yang kau cipta. Deburku pasi tapi mungkin ini takdir. Selamat tinggal,  sayang,". 

Konon, ada lautan dengan debur ombaknya yang tak akan pernah kau dengar atau kau baca di buku-buka yang di makan usia. 

Semoga kau masih mengingatnya,  sayang. Walau lirih dan samar di bawah sadar mu. 

2)

Memangku rindu

agar lelap ditingkahi debur ombak yang

kubuat selembut nafas. 

Tidurlah,  tidur, rindu yang keparat

aku sedang tak ingin mengingatnya. 

Mataku memerah darah yang kutahan

dalam sengal dan isak yang meminta tubuhmu

Kembali. 

3)

Perahu kertas yang dilarungkan itu,  sayang

Semoga sampai pada tepi pesisir mimpimu. 

Karena siang akan membawamu pada riuhnya dermaga yang tak bisa kau tinggalkan. 

"Aku perempuan yang diikat cahaya, mengertilah. "

Mataku ingin pejam. Sebelum tangis meminta dilarungkan. Semoga kau tidak mengetahuinya. 

Top