Aku Ingin Meracik Cinta di Tubuhmu

Jul 08, 2018 08:01
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

*dd nana

:bayang

Lelaki itu telah terjaga sejak adzan subuh masih kepompong

ingatannya menggiring lelaki itu ke sebuah dapur, sempit dan sepi barang pecah belah 

yang biasa menghuni layaknya ruangan bernama dapur.

Cangkir, piring plastik dan banner politik menatap kosong mata yang terlihat kosong lelaki  itu.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

“hendak apa kau sedini ini menyapaku, wahai lelaki yang di huni sepi,” tanya dapur berbisik.

Dapur enggan mengganggu para tetangganya yang masih lelap dan sedang asyik memainkan mimpi.

“aku ingin meracik cinta di tubuhmu,” sahut lelaki itu. Diraihnya segayung air sebelum api mendesis, ditaburkannya bubuk kopi ke mulut bulat cangkir plastik dengan motif spongebob.

Lelaki itu diingatkan ingatannya yang lama tertidur, bahwa cinta kerap datang sebelum subuh 

di tubuh dapur sesempit dan sesepi apapun wujudnya.

Konon, pada subuh yang masih tertidur, cinta akan datang pada setiap yang terjaga. Pada dapur-dapur yang tubuhnya menguarkan asap dan aroma. Konon pula, akan diketuknya pintu dapur itu dengan lembut oleh buku jari paling terhalus seorang perempuan. Jari yang tak pernah kau lihat di hari yang mulai disinari matahari.

“dan kau percaya omong kosong itu, wahai lelaki yang di huni sepi,” desis dapur yang mulai bersahutan dengan gelegak air yang didiangkan api.

“Ingatan yang tertidur tak pernah bohong saat ia menggeliat. Aku percaya dengan apa yang kau sebut omong kosong itu,” desis lelaki itu. Buku jarinya mulai berasap sebelum kopi yang ikhlas menghuni cangkir plastik itu larut. Mengisi warna jernih menjadi hitam sempurna. Menyuguhkan cerita dan mimpi-mimpi yang kerap tak datang dalam ketidakterjagaan mata.

Aroma wangi kopi menjalar di subuh yang masih kepompong. Lelaki itu menunggu sebuah ketuk. Mulutnya terus mendesiskan kata-kata, “aku ingin meracik cinta di tubuhmu,” berulang-ulang. Serupa mantra serupa doa. Dapur jengah dengan igauan lelaki itu dan berkata, “tinggalkan tubuhku. Biarkan aku beristirahat dalam sunyi.” Tapi aku menunggu ketuk, bersabarlah, ucap lelaki yang matanya masih terlihat kosong itu.

Di luar kokok ayam mulai berbunyi. Angin menyibak dedauan pepohonan dan selimut-selimut sebagian disibakkan. Jejak-jejak kaki mulai terdengar, sebelum adzan dipecahkan. 

Lelaki itu masih bertahan di tubuh dapur yang kini mengatupkan matanya.

Sepi. Dan ketuk yang ditunggu datang. Begitu lembut serupa alir air di parit terkecil yang pernah kau lihat di sore hari. Seorang perempuan berwajah pualam membuka pintu dapur dan berucap, “aku ingin meracik cinta di tubuhmu. Tapi bukan di sini. Aku suka bercinta di bawah sinar matahari. Aku tunggu kau saat kau terbangun dan berhias serupa lelaki dalam cerita di buku yang kerap kau baca itu,”.

:jaddah

Di bawah matahari dirinya hanyalah bayang-bayang

siapa juga yang akan memandang

hanya para penyair yang kehilangan kata-kata yang

mungkin masih penasaran dengan sisi bayang.

Sedang perempuan berwajah pualam di taman tempat perjanjian

masih asyik dengan sebuah buku puisi berjudul, “Aku ingin meracik cinta di tubuhmu.”

Pulanglah, pulanglah ke tubuh dapur yang kau sayang

sebelum malam melahap tubuhmu dan mengusir perempuan berwajah pualam

dari taman yang diperjanjikan itu.

:ranjang

Hanya di ranjang ini aku bisa meracik segala bahan yang aku beli tadi siang

Meramunya sedemikian lapar hingga sampai pada tepi jalang

Tubuhmu adalah tungku. Ruang mematangkan segala bahan sebelum dihidangkan.

“masih saja kau butuh tubuh untuk cinta, wahai lelaki penghuni sepi.” Desis ranjang yang disampaikan pada tubuh dapur yang mulai terjaga.

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru