MALANGTIMES - Banjir dan genangan air saat musim penghujan menjadi masalah klasik di Kota Malang. Meski masih musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang tengah menyusun atisipasi risiko atau perencanaan kontijensi (contingency planning).

Bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Brawijaya (LPPM UB) Malang, BPBD menyusun kajian untuk pengurangan risiko bencana, khususnya bencana banjir.

"Banjir di Kota Malang ini tipikal yang banjir genangan, rata-rata surut setelah satu dua jam. Tapi tetap ada risikonya, ini yang dikaji dan dipetakan," ujar Sekretaris BPBD Kota Malang Tri Oky. 

Selain itu, kajian juga difokuskan pada antisipasi dan sikap perilaku masyarakat terhadap bencana. Meski demikian, lanjut Oky, perlu peran bersama seluruh stake holder dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

"Oleh karena itu, dalam kajian ini juga melibatkan dinas sosial, dinas kesehatan, dinas pekerjaan umum, lingkungan hidup, permukiman, dinas perhubungan, hingga badan perencanaan, penelitian dan pengembangan," tuturnya. 

Sementara ketua tim kontijensi LPPM UB, Turningtyas mengungkapkan bahwa kajian diperlukan sehingga sudah ada rencana aksi yang siap dilakukan ketika bencana terjadi.

"Rencana kontijensi ini merupakan siapa berbuat apa ketika bencana tersebut terjadi. Jadi yang bergerak bukan hanya BPBD, tapi seluruh OPD terkait termasuk elemen-elemen masyarakat," urai Tyas, sapaan akrabnya. 

Tyas menyebut, paparan tersebut merupakan kelanjutan dari paparan awal yang disampaikan akhir tahun. Menurutnya, kajian ini dilakukan secara kontinyu mulai dari latar belakang hingga nanti simpulan akhir.

"Diharapkan dengan adanya rencana kontijensi ini, Kota Malang bisa tangguh apabila ada bencana banjir. Apalagi bencana bisa datang kapan saja," pungkasnya. 

Bedasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso, wilayah Jawa Timur secara umum saat ini tengah memasuki musim kemarau.

Puncak kemarau sendiri di prediksi pada Agustus-September 2018 mendatang. Memasuki Oktober, masyarakat diimbau waspada dengan peralihan musim dari kemarau ke penghujan.