Kisah Kasih Ranjang yang Gemetar

Jul 01, 2018 08:55
Ilustrasi puisi (pixabay.com)
Ilustrasi puisi (pixabay.com)

Kisah Kasih Ranjang yang Gemetar

*dd nana

1)

:Untuk U 

Masihkah kau sembunyikan gemetar di ranjang tersembunyi itu, dik?

ranjang yang dibuat oleh lentik tangan atau mesin pabrik yang tak pernah kita kenal

tapi kita akrab dengan aroma purba yang dikuarkannya itu.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Diracik dari dukkha yang dipilin menjadi samudaya. Dan kita yang meminjam insang ikan menyelam terlalu dalam. Memecahkan keras karang rindu, menjernihkannya tanpa dialog-dialog panjang. Menuju nirodha, menuju nirodha, katamu terengah-engah.

Ada yang pecah dari tubuh kita yang telanjang. Tidak aduh, tidak mengaduh. Dukkha tubuh waktu mengeriput serupa kulit jemari tangan yang disentuh musim pendingin. Serupa peta di android kita yang kerap menyesatkan perjalanan yang diburu gegas.

Samudaya menguap serupa lembab biji kopi. Tidak gegas, dik. Agar kita melihat kerja alam dengan bijak. Agar mata kita awas melihat segala yang tak kasat yang mereka sebut laknat.

Biar ranjang yang gemetar dan tersembunyi, milik kita yang rapuh untuk dituliskan di tengah cahaya tetaplah mengekal dalam pikiran. Dan bukankah kita telah mengikrarkan itu lewat ciuman-ciuman panjang. Lewat aduhmu yang membuat kita mengulang-ulang dukkha. Pada ranjang yang semakin gemetar dan tersembunyi dari pandangan.

Tapi benarkah ini magga itu, dik?

Kau tersenyum. Dan duduk di tepi ranjang yang tersembunyi itu. Mencatat tanggal dan tahun pertemuan. Mencatat jalan-jalan yang ditapaki tanpa aduh tanpa mengaduh. Katamu: “kau ingin cahaya tapi dengan mengingkari dukkha. Akh, lelaki yang menghuni setiap pori tubuhku, janganlah naif. Kita semakin menua walau terus diremajakan cinta.”

Masihkah kau syahwat pada magga dan tidak belajar pada ranjang yang tetap gemetar dan tersembunyi ini. Ranjang yang mencatat segala gigil dukkha raga kita. Yang memecahkan rindu dan memulangkannya pada rumah impiannya.

Aku terpana. Dan kau, dik, kembali meritualkan kisah-kisah yang tak pernah kita catat pada cahaya. Hanya ranjang yang masih saja bergetar dan tersembunyi  pencatat setia kasih kita.

Sebelum cahaya matahari berganti dan memberikan dukkha lain yang berulang-ulang.

Sebelum kita kembali berikrar lewat ciuman-ciuman panjang yang disembunyikan rimbun ilalang

Semesta. Dimana tubuh kita begitu bergetar dan pecah.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

 Masihkah kau sembunyikan gemetar di ranjang tersembunyi itu, dik? Sungguh aku merindu.

 

2)

Rindu itu, katamu, serupa udara yang kau hirup dan tak pernah habis yang  

kerap membuat dadamu meledak, walau yang lahir akhirnya dinamakan air mata.

Lantas, kau bertanya: yang sakit dada tapi yang lahir air mata. Apa salahnya sepasang mata dengan sakitnya dada, sayang?

Karena, jawabku: kalau dinamakan air dada jadinya menghidupkan. Memberi kehidupan dan menggembirakan. Maka dipilihlah kata air mata. Jangan lupa, pada rindu organ tubuh paling rakus adalah mata, sayang. “Maka sepasang mata perlu diberi hukuman.”

Kau pun yang sedang dibakar rindu menggumum:”mungkin seharusnya begitu, tapi mengapa tidak begini,”.

Kau tunjuk rindu yang menetap di dadamu. Rindu yang memakan udara dan tenagamu. Rindu yang membuat malam sepanjang tuhan yang kau bayangkan. Menyiksa, katamu. “Rindu membuat para penempuh yang jauh selalu terjatuh.”.

Hiruplah udara, sayang. Biarkan matamu berair mata. “Percayalah mata lebih tangguh walaupun terlihat rapuh merawat rindu itu.”.

Kau pun menghirup udara dan menangis.

Dan aku mencatatnya “duka kita masih abadi ternyata, sayang.”.

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru