Calon wakil gubernur Jawa Timur Emil Dardak saat membuka acara Cangkrukan Bareng AHY di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Calon wakil gubernur Jawa Timur Emil Dardak saat membuka acara Cangkrukan Bareng AHY di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Calon wakil gubernur Jawa Timur nomor urut satu Emil Dardak menjadi pembuka dalam acara dialog Cangkrukan Bareng AHY, Rabu (20/6/2018), di Kota Malang. Alih-alih memberi sambutan, Emil justru membeber berbagai persoalan anak muda di Malang Raya kepada Ketua Komando Tugas Bersama (Kosgama) DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Emil menguraikan konsep dan cita-cita jangka panjang program Milenial Job Center yang digagasnya. Terutama mengenai peluang kerja bagi anak-anak muda alias generasi milenial. "Dalam suasana yang nyaman ini, kita bisa sama-sama membahas dan mengulas atau bahasa anak mudanya ngulik hal-hal yang sebenarnya menjadi kegalauan dari genarasi muda di Malang Raya," ujarnya.

Sebagai bupati Trenggalek (non-aktif) yang juga calon wakil gubernur, Emil mengaku kerap mendapat pertanyaan seputar peluang kerja di Jawa Timur ke depannya. "Orang selalu berpikir buka usaha itu penuh risiko. Bahkan risikonya adalah waktu yang bisa dipakai untuk kerja malah dipakai untuk bisnis yang belum tentu menghasilkan," ucapnya.

"Tentu semua usaha punya risiko. Lalu bagaimana anak muda yang baru lulus, punya tabungan pas-pasan, bisa juga memiliki usaha. Ini realita penting," lanjutnya.

Salah satu solusi yang muncul adalah Milenial Job Center. Yakni membuka usaha bukan dalam konsep investasi. Tapi memberi peluang pekerjaan dengan klien yang lebih luas. "Misalnya sekolah kebinanan atau keperawatan. Kalau belum dapat kerja, bisa jadi konselor kesehatan atau asisten lansia atau beri pijat laktasi dan pijat bayi. Itu potensi yang sangat terbuka," urainya.

Dia juga mencontohkan salah satu pengalaman keluarganya. "Saya punya adik lulusan S2 bisnis di Australia. Dia punya keahlian membuat meja dekorasi dan tempat selfie, ternyata menjanjikan. Ini yang terjadi pada generasi milenial," terangnya.

Menurut Emil, banyak pemuda yang mempunyai skill namun kesulitan menyalurkan kemampuannya. Dengan adanya Milenial Job Center, maka akan ada pembinaan dan jalur khusus untuk menghubungkan para pemilik skill dengan yang membutuhkan jasa. "Siapa pun bisa datang ke situ. Tantangan pertama cari kepercayaan. Bangun jam terbang. Ada mentoring dari pakar, nanti ratingnya naik pelan-pelan," urainya.

Generasi milineal di negara maju, menurut Emil, paling banyak memiliki pekerjaan sebagai pekerja lepas atau freelance.  Hal tersebut karena berbagai kemudahan akses yang ditawarkan di era teknologi dan informasi ini. Pada era sebelumnya, untuk membuka usaha harus mencari kantor dulu, modal besar, dan lain-lain. Namun banyak yang bisa diringkas, seperti kantor yang tak terbatas tempat. Termasuk rapat-rapat yang tidak lagi mengharuskan kehadiran fisik.

"Rapat bisa lewat WA. Suplai tenaga kerja jadi banyak dan beragam. Jadi! zamannya bukan lagi bawa map ke mana-mana, tapi bangun jam terbang," pungkasnya. (*)

End of content

No more pages to load