Sisi pasar kepanjen. Seluruh ruas jalan dimanfaatkan untuk lahan parkir masyarakat (Nana)
Sisi pasar kepanjen. Seluruh ruas jalan dimanfaatkan untuk lahan parkir masyarakat (Nana)

MALANGTIMES – Ramadan menjadi bulan yang membuat setiap pemeluk agama Islam tersenyum bahagia. Selain janji pahala yang berlipat dalam setiap ibadah yang dilakukan, ramadhan juga menimbulkan efek ekonomi bagi para pedagang di berbagai pasar maupun masyarakat yang memanfaatkannya untuk berjualan di berbagai pasar dadakan.

Efek ekonomi di bulan ramadhan juga berimbas kepada para juru parkir (jukir) di berbagai pasar tersebut. Seperti halnya di pasar besar Kepanjen yang sejak pagi sampai sore dipadati masyarakat yang berbelanja keperluan sehari-hari. Atau di berbagai pasar dadakan atau pasar takjil, sebut saja di pos Kepanjen yang buka setiap sore sampai adzan maghrib berkemundang.

Para jukir ini terlihat sibuk untuk mengarahkan kendaraan roda dua pengunjung, sejak pagi sampai sore harinya. Kerap juga mereka membantu pengunjung yang kesulitan untuk mengeluarkan kendaraannya ditengah puluhan bahkan ratusan kendaraan yang terparkir.

“Alhamdulillah penuh yang parkir, biasa bulan puasa dan menjelang lebaran mas,” kata salah satu jukir di pasar besar Kepanjen yang menyebut namanya Ahmad kepada MalangTIMES. Ahmad melanjutkan, peningkatan parkir roda dua yang ditanganinya, bisa melonjak berkali-kali lipatnya di bandingkan hari biasa atau normal di luar bulan Ramadhan.

“Tidak menghitung pastinya berapa. Cuma dari pendapatan terlihat meningkat berkali lipat, mas,” ujarnya sambil tersenyum gembira di sela panas matahari di musim pancaroba di bulan Juni 2018 ini. Walau tidak berkenan menyebut nominal pendapatan setelah disetor secara resmi serta kebutuhan lainnya, pendapatan jukir di bulan ramadhan kalau dihitung memang meningkat.

Ambil contoh, untuk setor resmi ke Dinas Perhubungan (Dishub) setiap karcis parkir untuk kendaraan roda dua dipatok harga Rp 1.000 sedangkan roda empat Rp 1.500. Di lapangan, para jukir maupun masyarakat terbiasa membayar uang parkir Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk roda empat. Ada selisih setengahnya lebih dari uang parkir tersebut, yaitu sekitar Rp 1.000 – Rp 3.500 per unit kendaraan yang ditangani para jukir.

Apalagi parkir yang tidak memakai karcis resmi dari Dishub. Para jukir ini tetap melakukan penyetoran kepada panitia acara, seperti di pasar takjil Kepanjen. Penghasilan para jukir ini dikalikan dengan bertambahnya kendaraan yang parkir di berbagai pusat perdagangan. Anggap saja dua sampai tiga kali lipatnya dengan hari biasa. Dengan asumsi sederhana pendapatan jukir dari setiap kendaraan roda dua sebesar Rp 1.000 dikalikan penambahan jumlah parkir sekitar dua kali lipatnya. Maka pendapatan jukir dari satu kendaraan yang parkir adalah Rp 2 ribu.

Pun untuk di pasar takjil, parkir kendaraan yang disediakan oleh panitia acara, bisa sampai meluber di pinggir jalan raya sampai di gang-gang jalan yang ada disekitar. Dikarenakan padatnya masyarakat yang datang.

Salah satu jukir dadakan di pasar takjil Kepanjen yang tidak bersedia disebut namanya, menyatakan dirinya setiap sore (sekitar pukul 16.00 WIB) sampai maghrib bisa mengantongi uang sekitar Rp 100 ribu yang dibagi dua dengan rekannya.

“Kita tetap setor kepada panitia mas. Tapi tidak masalah itu, kami bisa ikut serta jadi jukir saja sudah senang. Ada pendapatan tiap hari yang lumayan, itung-itung ngabuburit dapat uang,” ujarnya sambil tertawa.

Seperti diketahui, secara resmi jumlah jukir yang terdata di Dishub Kabupaten Malang sebanyak 113 orang yang terdapat di 694 titik parkir. Tapi dengan datangnya bulan ramadhan, jumlah jukir dadakan bertambah. Baik yang hanya memanfaatkan momen puasa ataupun yang diperbantukan oleh para jukir resmi yang telah ada di berbagai titik parkir.

Lepas dari kontroversinya, yaitu antara aturan yang memberlakukan tarif resmi parkir dengan yang ada di tingkat lapangan, serta telah menjadi hal lumrah antar pihak, bulan ramadan telah membuat senyum para jukir semakin lebar.

“Minimal orang rumah mau lebaran bisa beli-beli kue dan makanan hidangan tamu yang datang, mas,” tawa Ahmad yang kembali disibukkan dengan kedatangan kendaraan baru yang akan diparkir.