Kisah Mata yang Melindap dan Surup dalam Sayu

Jun 03, 2018 10:21
Ilustrasi (pixbays)
Ilustrasi (pixbays)

MALANGTIMES - Izinkan aku bercerita. Tentang seorang lelaki desa dengan impian selapang langit yang dibatasi kedua matanya. Tapi,  mohon maaf,  lelaki itu tidak berkenan menyebut namanya kepada Anda sekalian. Sebut saja nama apa pun di dalam kepala kalian. Lelaki itu tidak akan mempersalahkan kalian. Seperti dirinya tidak pernah menyalahkan nasib dan takdirnya,  kelak. 

Sejak lelaki itu memahami nama dan benda-benda,  dia sudah memasrahkan raganya kepada setiap gerak peristiwa. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 99

"Aku tidak akan menolak apa pun dan tidak akan menyurut serupa gelombang yang datang dan pergi,". 

Begitulah. Lelaki itu terus menelusuri alur nasib yang akan membawa kepada satu peristiwa paling dramatis sepanjang rohnya bersemayam dalam raga. 

Di suatu telaga yang dikeramatkan orang-orang. Di suatu titik di mana cahaya tujuh warna menghunjam begitu rupawan. Serupa tombak ki bodho pada tubuh mewangi seorang putri yang membucahkan murka seorang kesatria dari Madura. 

Lelaki itu percaya pada alam yang akan memapahnya. Percaya nasibnya sebentar lagi diuji menuju takdir yang dibawanya sejak awal yang ada. 

"Ini saatnya. Angin mengirim aroma tubuhnya. Senja tidak bisa menyamarkan mataku. Aku harus gegas ke sana,". 

Maka,  satu lintasan nasib diusaikan. Serupa kanak-kanak yang selesai membaca Alquran pada suatu juz di malam ramadan. Mulutnya tersenyum riang,  walau matanya tetap melindap. Sayu yang sanyup. Getir yang lupa pada gemetar gigil. 

Mata lelaki itu ibarat biji kopi yang dihaluskan dalam secawan gelas dan teronggak sepanjang waktu tanpa ada bibir yang mengisapnya. 

Di telaga yang dijanjikan. Kecipak air memucat melihat matahari semakin pucat warnanya. Tenggelam di ketiak malam yang siap berjaga. 

Sepasang mata jelita yang tentunya begitu hidup sebelum peristiwa itu terjadi,  melayu. Bukan lagi rasa gugup dan takut,  tapi serupa pisau yang diceraikan ketajamannya dan teronggak di dapur yang masih berantakan. Mencoba untuk pasrah. Tapi masih bertahan atas masa lalunya. 

Lelaki itu mendekat dan menutupi bahu telanjang perempuan yang terdiam dengan mata yang semakin melindap. Menatap jernih air telaga dan membaca kisah-kisah yang pernah didengarnya. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 98

Konon,  puteriku sing ayu dewe,  kau akan dipersunting dengan cara paling licin seorang laki-laki. Lelaki yang percaya pada takdirnya. Bahwa segala yang terdiam dan berlumut serta melicinkan telapak kaki paling kukuh sekalipun,  tak akan membuatnya surut. Dia api yang membakar takdirmu. 

"Lantas,  bagaimana aku meresapi takdir itu romo. Takluk ataukah aku tenggelamkan diri nantinya,". 

Sepasang tangan mengelus kepalamu. Mari,  pulang puteriku. Sebelum gelap menyajikan parasnya paling kelam paling jahanam. Sebelum para monster dan peri telaga mengajakmu bermain di kedalaman telaga yang tak kau sadari kedalamannya itu. 

"Mari pulang putriku. Ada pintu yang telah lama ditatah waktu menunggu kita,". 

Perempuan itu semakin melindap matanya. Sayu yang sanyup. Warna yang akan membuat mata yang menatapnya runduk. Bukan karena iba atau takut,  tapi sayu yang sanyup akan menarikmu pada suatu peristiwa. Yang belum pernah kau baca dalam segala kitab. 

"Mari pulang. Percayakan pada takdir yang telah ditulis di langit paling ujung itu,". 

Maka sepasang mata yang melindap sayu itu akhirnya menemukan sebuah rumah. Rumah yang akan menyayupkan setiap mata yang mendatanginya. 

Ini bukan kesedihan. Ini hanya lintasan takdir yang kita emban. 

Topik
puisi ramadhan sastra

Berita Lainnya

Berita

Terbaru