MM, salah satu siswa saat berbincang dengan komisi 1 dan Disdikpora serta ketua RW 5.(Agus Salam/Jatim TIMES)

MM, salah satu siswa saat berbincang dengan komisi 1 dan Disdikpora serta ketua RW 5.(Agus Salam/Jatim TIMES)



Ada yang menarik di lembaga pendidikan yang dinaungi Yayasan Khadimul Ummah di Perumahan Sumbertaman Indah Jalan Taman Puspa Indah, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Salah satu siswanya tidak bisa mengucapkan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.  

Hal itu diketahui saat Komisi 1 DPRD Kota Probolinggo, Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga (Disdikpora) dan Kemenag setempat melakukan sidak lagi ke yayasan tersebut, Rabu (30/5) sekitar pukul 10.30. Siang itu, Disdikpora dan Kemenag mengunjungi tempat pendidikan di dekat rumah terduga teroris karena diajak Komisi 1 DPRD.

Saat sidak, mereka sempat masuk ruangan pembelajaran yang memang tidak dikunci atau digembok. Di salah satu ruangan yang biasa dipakai tempat tidur siswa yang mukimin, rombongan sempat menemui dan berbincang santai dengan empat siswa yang sedang bermain game di laptop. Tidak banyak yang dibicarakan. Namun dari waktu yang singkat itu terungkap kalau di lembaga pendidikan tersebut tidak diajari Pancasila dan tidak pernah menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Terbukti, salah satu mantan siswa SD di sana yang berinisial MM tidak bisa membaca Pancasila. Bahkan diminta menyebut salah satu sila dari lima sila, MM yang tengah menunggu pengumuman kelulusan SD tersebut menggelengkan kepala, tanda tidak bisa.

Tak hanya itu. Saat Ketua Komisi 1 Abdul Azis dan Kepala Disdikpora Muhammad Maskur yang didampingi ketua RW 5 meminta menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang bersangkutan juga tidak mau alias menolak. Alasannya, tidak bisa dua-duanya.

MM mengaku tidak diajari membaca atau disuruh menghafal Pancasila dan tidak pernah menyanyikan lagu ciptaan WR Soepratman tersebut. Ia mengaku, sejak TK hingga kelas 6 SD, tidak ada pelajaran menghafal Pancasila dan Indonesia Raya. Yang diajarkan di sekolahnya adalah mengaji Alquran, bahasa Indonesia, fikih, dan matematika serta tahfid. “Nggak bisa Pancasila dan Indonesia Raya saya. Nggak diajari. Kami di sini mengaji dan belajar matematika dan bahasa Indonesia,” aku MM.

Kepada rombongan sidak, ia mengaku pernah diajari menembak dan memanah oleh salah satu terduga teroris. Hanya, pelajaran seperti itu cuma sebentar dan sudah lama tidak diajari lagi dan tidak ada pelajaran atau latihan seperti itu, hingga sekarang. "Ya, kami juga dilatih menembak. Pengajarnya yang diamankan pak polisi kemarin. Latihannya hanya sebentar. Sudah lama tidak ada lagi,” tandasnya.

Anak keempat dari lima saudara ini mengaku, setelah dinyatakan lulus, akan melanjutkan pendidikan di Pondok Insani Alqurani, Solo Jawa Tengah. Ia mengaku ikut UN (ujian nasional) di SDI (SD Islam) Muhammad Shodik Maron. Mengingat, sekolahannya tidak bisa menggelar ujian nasional sendiri. “Ikut SDI Muhammad Shodik. Tapi saya lupa tempatnya, soalnya jauh. Kayaknya di Maron. Setelah dinyatakan lulus, kami akan sekolah di Solo,” pungkas MM yang tinggal di Kelurahan Jrebeng Lor ini.

Dalam sidak di ruang pembelajaran itu, rombongan menemukan belasan bungkus beras yang beratnya 25 kiloan dan sejumlah mi yang dibungkus karton serta gula dan kerupuk. Mereka juga memelototi papan pengumuman yang tertempel jadwal ujian Tapas Ar-Rahmah 2018 dan pengumuman evaluasi semester dua yang dilengkapi dengan petugas pengawas dan pengajarnya atau ustad. Papan pengumuman itu, diletakkan di depan atau teras gedung pembelajaran.

Rombongan sidak juga menemukan dua tafsir Alquran yang dikabarkan oleh salah satu staf Kemenag bahwa tafsir tersebut yang dipakai Islam Wahabi. Sedangkan Ketua Komisi 1 Abdul Azis menemukan mata pelajaran ulangan dan senjata yang dipaku di dinding ruang tidur santri mukimin. Senjata tersebut berwarna hitam dan terbuat dari plastik, seperti senjata mainan yang lama tidak dipakai. Tafsir dan senjata mainan itu kemudian diserahkan ke pengurus yayasan. (*)

End of content

No more pages to load