Air Mata Ramadan

May 20, 2018 06:35
Ilustrasi puisi (pinterest)
Ilustrasi puisi (pinterest)

MALANGTIMES - Air Mata Ramadan

*dd nana

 

 

1)

Ramadan terisak-isak,  di suatu petang

Saat kaki-kaki lincah para bocah berlarian jenaka menuju pintu rumahnya masing-masing. 

"Hore buka,  hore buka. Saatnya menikmati masakan lezat. Hore... ". 

Baca Juga : KITAB INGATAN 98

Ramadan semakin terisak dengan sepi yang menyayat dan dikempitnya di ketiak. Kaki kurusnya kehilangan arah. Ramadan tidak punya rumah untuk berbuka. 

Sedang masjid-masjid yang menyiapkan takjil,  membuatnya keder. 

"Aku tak bersongko,  bersarung. Aku tak memakai sandal. Baju dan celanaku ibarat celupan malam paling kelam. Serupa dengan parasku. Aku malu pada Tuhan dengan kotornya tubuh ini, ". 

Ramadan akhirnya pasrah. Menunggu sisa-sisa yang tersisa. Dan doa-doa mengalir disepanjang pipinya yang serupa ceruk sungai yang ditinggalkan mata air. 

2)

Seseorang mengelus kepalanya. Begitu lembut tanpa kata-kata. 

Ramadan semakin terisak begitu dalam. Usapan tangan yang  dibayangkannya milik Khidir itu membuatnya semakin merasa sepi. 

"Jalan Tuhan itu sunyi,  nak. Seperti tangisan yang ditahan sekuat sekarat, ". 

Lantas apa keramaian ini,  tuan? 

"Sepi yang fana. Sudahlah lebih baik kau menangis daripada terus bertanya,". 

3)

Ramadan belajar satu doa di suatu ketika. 

Doa tentang penghapus lapar dan dahaga abadi yang dibawanya sejak lahir. 

Ramadan kerap mengulang doa itu sampai dia lupa bagaimana rasanya bernafas. Rasanya memiliki tubuh yang kerap meminta pelampiasan dunia. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 96

Ramadan akan terus mengulang doa itu karena ia percaya, permintaannya tidak sanggup menembus Arsy Tuhan hanya dengan satu helaan nafas saja. 

Paginya,  Ramadan terbangun dengan rasa kenyang air mata yang menenangkan tubuh kurusnya itu. 

4)

Ramadan,  ramadan,  ramadan. 

Begitulah orang-orang memanggilnya dengan suka cita. Suka cita yang meluber sampai pada berbagai media. Suka cita yang diwujudkan dengan sosok-sosok aduhai yang tentu tak pernah merasakan makna lapar yang sejati. 

Ramadan merasa ngeri,  tubuhnya menggigil. Dia bersembunyi pada dedaunan,  udara siang yang kerontang dan celoteh anak-anak kecil yang sedang belajar mengerti rasa lapar. 

"Panggilan mereka menakutkan. Panggilan yang begitu sepi yang  lebih dari nyeri dari lambung yang ditusuk lembing. Aku ingin sembunyi dan pergi, ". 

Air mata Ramadan mengalir lagi dan ditampung jemari-jemari kecil anak-anak. Yang bersorak dengan suara cadel mereka. 

"Lamadan,  lamadan,  lamadan. Ajali kami belapal-lapal. Agal kami tau namanya Tuhan, ". 

 

Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru