Wayang Suket Teki

May 13, 2018 09:11
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

Wayang Suket Teki

*dd nana

1)

Dijalinnya lembar demi lembar yang membentuk bentuk. Sesekali ditekuk. Katanya, agar segala yang awalnya kaku menjadi lembut. Hingga aku bisa bergerak serupa jemari penciptaku. Aroma tanah yang disetubuhi hujan sore hari. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Tapi kau masih perlu berbaring,  untuk tentram dan memahami bentukmu kini. Walau telah takluk di jemariku,  tapi kelak kau akan hidup. Untuk bentukmu sendiri untuk jemarimu yang nanti akan menaklukkan nada-nada sunyi. 

Nang ning nong neng... Bangunlah. Waktunya kau hidup menarikan takdir. Bayang-bayang yang akan bersetia dengan bentukmu kini. Bayang-bayang yang akan hidup saat selimut malam menjadi matamu yang belum hidup. 

Bangunlah nak. Menarilah meniti tangga nada dan taklukkan kikukmu pada segala bentuk. Karena kau pun bentuk. Meruanglah agar kau faham hidup itu untuk saling mengisi. Untuk saling membagi bahkan walau pun hanya bayang-bayang yang kau punya. 

Ingatlah awalmu yang tegak serupa alif. Itu pula jalan hidupmu saat kembali ke langit. 

Dijalinnya lagi lembar demi lembar dalam bentuk yang membentuk. Banyak yang kau tekuk, tak sepertiku,  bapak. Jemari beraroma tanah yang disetubuhi hujan sore hari, menguarkan aroma asing dalam tidurku. 

Terkadang nak, bentuk yang serupa tidak selalu sama. Selalu ada yang harus dicipta dalam bentuk yang berbeda. Tapi,  percayalah selalu ada keindahan dalam banyaknya tekukan. 

Kelak,  kaulah yang menyempurnakan tekukan jemariku ini. 

Tidurku diserang demam yang indah. Rasa sakit di ujung mata merupakan mu. Inikah yang kau sebut-sebut air mata itu,  bapak. 

2)

Sehabis hujan, siang kau rangkum dalam buku Jendela kamarmu kau buka,  dadamu mengembang Tapi tidak ada pelangi yang lahir di matamu. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Masih ada esok hari,  doamu sambil bersiap menutup jendela dan buku. Sedang air mata tak bisa kau simpan rapi di kamarmu yang kian sepi. 

3)

Enam hari sudah dia dikalahkan nasib 

tapi matanya masih menyala. Masih ada satu kesempatan untuk menang. 

Dan dadu menggelinding di meja datar untuk putaran terakhir. 

Takdir. 

4)

Suket teki menyelinap di rahim yang tidak kau inginkan. Waktu merestui dan matahari dan bulan menjaganya dari matamu yang diisap kesibukan dunia. 

Tapi,  tidak elok menipu matamu yang lelah itu

Maka aku menyapamu di sebuah senja saat kau tak tahan lagi dengan dunia yang kau tempati ini. 

Tubuhku digenggamnya dan satu kali sentakan kau cabut kembali hidupku. 

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru